Mohon tunggu...
Budiyanti
Budiyanti Mohon Tunggu... Guru - Seorang guru di Kabupaten Semarang yang gemar menulis di usia senja. Menulis adalah jejak hidup. Menulislah agar hidup bermakna.

Guru dan pegiat literasi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Mitoni (Tujuh Bulanan), Tradisi yang Hampir Pudar

9 November 2022   10:13 Diperbarui: 12 November 2022   17:04 257
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
GKR Hemas sedang melakukan upacara tingkeban, atau mitoni, di Pendapa Dalem Kilen, Keraton Yogyakarta, Yogyakarta, Selasa (18/6/2019). (KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO)

Saat saya mengandung 7 bulan anak pertama tiga puluh tahun lalu, masih mengadakan acara Mitoni, sebuah tradisi yang dilakukan kala usai kandungan mendekati usia delapan bulan.

Saat itu saya menjalani berbagai ritual di rumah Ibu, Ungaran. Ibu membantu segalanya saat acara sederhana tersebut. Dengan dibantu seorang Mbah yang biasa mengurusi bayi, ritual dilaksakan. Awalnya saya dimandikan dengan air bunga warna-warni. 

Selanjutkan saya berganti kain jarit yang jumlahnya tujuh. Wah... lupa jenis kainnya. Yang saya ingat setelah ganti kain jarit itu Mbah duku bayi, menggelidingkan telur dari perut hingga jatuh. Jika pecah, pertanda anaknya laki-laki. Tetapi jika tidak maka anaknya perempuan.

Saya pun lupa pecah atau tidak. Yang jelas anakku yang pertama berjenis kelamin lelaki. Ritul lainnya yang saya ingat adalah suami membelah kelapa gading.

Selain ritual itu ada selamatan yang dihadiri para tetangga dengan tujuan berdoa agar sang jabang bayi beserta ibunya bisa melahirkan dengan selamat.

Itulah kisah yang sudah lama sekali. Kini si anak sudah berkeluarga. Kini saat anak menantu yang kedua sedang mengandung anak pertama dengan usia kandungan tujuh bulan juga mengadakan acara mitoni atau kita menyebutnya tujuh bulanan. Atas kehendak suaminya, acara mitoni tidak dengan tradisi seperti saya dulu. Katanya ingin praktis tidak ribet. 

Sebenarnya saya selaku orangtua ingin nguri-nguri tradisi tersebut. Namun, hal itu kurang ditanggapi. Ya, sudah sebagai orangtua hanya bisa manut. Intinya kami berdoa kepada Allah agar proses kelahiran berjalan lancar dan bayi lahir dengan sehat serta selamat. Ibunya juga diberi kesehatan dan keselamatan.

Dokumen pribadi 
Dokumen pribadi 

Akhirnya kami selamatan dengan mengundang para tetangga. Kami pun memesan menu yang juga lebih praktis dari pada memasak (hehe malas memasak kali, ya). Zaman sekarang cari yang mudah simpel dan praktis. Rumah tidak kotor. Hahaa lagi-lagi ini mungkin alasan saja. Tepat puku 15.00 kami tinggal mengambil makanan. 

Dokumen pribadi 
Dokumen pribadi 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun