Mohon tunggu...
Yansean Sianturi
Yansean Sianturi Mohon Tunggu... Lainnya - learn to share with others

be joyfull in hope

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Mau ke Manakah Bisnis Kuliner Indonesia?

13 November 2019   19:51 Diperbarui: 17 November 2019   08:32 568
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kuliner sebagai ilmu dan bisnis adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari manusia. Mengapa tidak bisa dipisahkan? Jawabannya, karena kuliner telah ada dan dimulai sejak awal mula manusia itu mulai mengenal rasa lapar serta selera. Selain ingin menikmati rasanya, kuliner atau masakan sangat diperlukan oleh manusia supaya tubuhnya tetap sehat dan kuat. Stamina yang prima diperlukan agar manusia mampu bertahan terhadap perubahan jaman yang dilaluinya. 

Selain itu, kuliner tidak bisa terlepas dari lingkungan dimana manusia itu tinggal atau berdiam. Mulai dari bumbu yang dipilih hingga manfaat masakan selalu mempertimbangkan lingkungan dimana manusia tersebut berada. 

Pada wilayah berhawa dingin biasanya menu masakan yang dipilih dan digunakan oleh manusia adalah masakan yang mengandung energi sehingga bisa mengatasi kondisi lingkungannya. 

Makanan atau minuman penghangat menjadi pilihan sebagai contoh jahe, ginseng, arak atau anggur dan lain sebagainya. Sedangkan pada daerah yang bercuaca panas, masakan atau minuman dingin seperti es yang sering digunakan oleh para peracik masakan. Tujuannya adalah ketika makanan terasa di lidah menjadikan suasana hati lebih sejuk dan menyegarkan para penikmat kuliner tersebut.

Akhir-akhir ini bisnis kuliner di Indonesia semakin ramai karena didukung oleh pergeseran pola dan gaya hidup kaum milenial. Tempat pilihan untuk bertemu atau nongkrong biasanya yang dijadikan alternatif pertama adalah cafe, restoran, warung kopi dan lain-lain. 

Selain menu yang menarik dan sedapnya cita rasa makanan yang ditonjolkan, fasilitas free wifi juga sering digunakan oleh para pemilik bisnis kuliner sebagai sarana atau layanan untuk menambah daya tarik pelanggannya. 

Sekali lagi, hal ini membuktikan ketangguhan dari bisnis kuliner yaitu selalu mencari solusi menggunakan caranya sendiri sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan.

Melihat potensi yang besar dari bisnis kuliner ini, sangatlah wajar jika pemerintah menaruh harapannya untuk mendorong peningkatan ekonomi rakyat. Kuliner telah menjadi salah satu sektor yang menjadi fokus perhatian pada Badan Ekonomi Kreatif. Bisnis kuliner memberikan kontribusi yang cukup besar, yaitu 30% dari total pendapatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Namun potensi yang ada ini, terlihat belum maksimal dihasilkan karena berbagai permasalahan antara lain:

1. Para pemilik bisnis atau pedagang kuliner belum terhimpun dan dikelola dalam satu wadah secara baik. Seperti diketahui bersama, UMKM khususnya kuliner masih berjalan sendiri-sendiri. Jika ada suatu komunitas untuk berkumpul, itupun wadahnya berkelompok-kelompok dan belum mampu memperjuangkan kepentingan anggotanya secara maksimal.

2. Para pedagang kuliner belum memiliki akses untuk mengurus izin usaha termasuk OSS. Bukanlah suatu hal yang asing bagi kita bahwa para pedagang pada bisnis ini, banyak yang belum memiliki surat ijin. Belum memiliki ijin, karena ada beberapa faktor penyebabnya, antara lain:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun