Yansean Sianturi
Yansean Sianturi netizen

may grace be with all

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Koalisi, Mau Jatah Presiden, Wapres atau Hanya Jatah Menteri?

12 Juli 2018   10:12 Diperbarui: 13 Juli 2018   20:42 518 3 2
Koalisi, Mau Jatah Presiden, Wapres atau Hanya Jatah Menteri?
asset.kompas.com

Mencermati maraknya pemberitaan dari berbagai media akhir-akhir ini mengenai parpol yang sibuk mencari dan membangun koalisi untuk Pilpres 2019, telah menggugah hati khalayak. 

Pasca Reformasi 98 serta era kebebasan demokrasi, ternyata bangsa ini masih sulit untuk melihat kepentingan yang lebih besar. Terbukti, beberapa parpol saat ini masih bingung bahkan galau untuk menentukan siapa calon Presiden dan Wapres yang akan diusungnya. Lebih dari itu, ada beberapa partai yang mengancam akan mundur dari koalisi, jika calonnya tidak diberi jatah sebagai Presiden atau Wapres. 

Selanjutnya, untuk mengatasi kebuntuan ini, dibuatlah wacana untuk mengakomodasi calon yang nantinya tidak mendapat jatah posisi Presiden dan Wapres dengan skenario jumlah menteri yang akan diberikan oleh koalisi parpol. Pembagian jatah jumlah menteri yang diberikan, apakah bisa disebut sebagai bentuk "kompensasi" atau ada nama lainnya? Maaf, jika melihat ini kami sebagai rakyat kecil sedih memandangnya. Proses politik yang seharusnya mencerahkan dan membawa angin perubahan, terlihat secara kasat mata hanya sebagai politik "transaksional" yaitu politik yang didasarkan atas hasil atau nilai tukar yang didapat sekarang ini.

Padahal sewaktu sekolah dulu, politik diajarkan sebagai ilmu atau seni, dimana dua orang atau lebih yang bekerja sama mencapai kekuasaan dan mempertahankan kekuasan serta menggunakannya untuk tujuan akhir yaitu mencapai kesejahteran rakyat. Jika semua parpol memahami kembali bahwa ujungnya adalah kemakmuran rakyat, kiranya platform dan visi-misi para calon yang mestinya pertama kali didahulukan. 

Para parpol seharusnya merasa memiliki kesamaan perjuangan dan platform dengan parpol lain yang ada dalam satu koalisi sudah sejak lama sebelumnya, bukan dadakan serta tergesa-gesa seperti yang terjadi saat ini. Adanya kesamaan perjuangan parpol itulah yang mempermudah terbentuk dan terjalinnya suatu koalisi bukan faktor pragmatisme. Jika hal ini sudah terlaksana dengan baik, sepertinya tidak perlu lagi ada pernyataan dari elit partai akan mundur dari koalisi, jika calonnya tidak diusung. Para nama calon Presiden dan Wapres yang akan diusungpun, apakah berasal dari internal maupun eksternal partai seharusnya sudah lama dimiliki oleh partai, bisa melalui mekanisme konvensi atau hak prerogatif ketua umum tergantung aturan partai masing-masing.

Melihat situasi saat ini, dimana beberapa partai masih ada yang mencari dan membentuk koalisi serta mengusulkan nama capres maupun cawapres, apakah tidak menandakan lemahnya perencanaan partai? Padahal waktu tersisa kurang lebih satu bulan lagi, alhasil semua partai akan saling menunggu dan mengumumkan calonnya pada menit-menit terakhir. 

Sekali lagi, apakah hal ini tidak menjurus pada apa yang namanya disebut sebagai "gambling politics" yaitu taktik atau strategi saling menunggu dan memanfaatkan kelengahan lawan. 

Politik sejatinya adalah bagaimana membangun bangsa kedepan agar lebih baik, bukan diisi dengan "lihai-lihaian atau untung-untungan". Alangkah baiknya, jika parpol dapat segera mengumumkan capres dan cawapresnya serta menjelaskan kepada masyarakat alasan memilihnya ketimbang menunggu koalisi lain mengumumkan calonnya terlebih dulu.

Sebenarnya masyarakat perlu disuguhkan dan dicerdaskan oleh argumen atau alasan partai koalisi, kenapa hingga memilih dan mencalonkan si "A" atau si "B". Jika ini yang terjadi, maka masyarakat nantinya bisa lebih rasional dalam menilai dan memilih capres maupun cawapres. 

Parpol mungkin lupa, bahwa masyarakat memiliki hati nurani dan bisa menilai mana parpol yang jujur dalam memperjuangkan aspirasinya bahkan mungkin saat ini rakyat juga sudah memiliki calon yang ada dihatinya. 

Marilah kita berpolitik dengan semangat memajukan bangsa dan bukan hanya semata-mata untuk memenangkan kepentingan sesaatnya. Pilpres bukan hanya bicara figur calon yang akan diusung, tetapi juga berbicara "cara" membangun bangsa lima tahun yang akan datang. Politik bukan hanya semata-mata urusan menang atau kalah, politik juga berbicara tentang idealisme dalam membangun bangsa yang mesti diperjuangkan. Mari sama-sama kita matangkan dan wariskan sistem demokrasi yang baik bagi bangsa ini.

Salam Demokrasi.