Mohon tunggu...
Aditya Anggara
Aditya Anggara Mohon Tunggu... Akuntan - Belajar lewat menulis...

Bio

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Polemik TKA (Tenaga Kerja Asing) Tiongkok

29 April 2018   16:16 Diperbarui: 29 April 2018   16:24 1490
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto: Tribunnews.com

Pertama, sistim dan cara kerja.

Karena jarak proyek cukup jauh dari pemukiman, pekerja lokal baru tiba jam 9.00 pagi. Jam 4.00 sore mereka sudah berhenti bekerja, dan bersiap-siap untuk pulang. Alhasil jam kerja hanya 7 jam saja. Kalau ada hujan, tentu saja jam kerja tersebut berkurang. Pekerja lokal juga tidak mau bekerja lembur karena takut pulang kemalaman.

Pekerja lokal khas Sumatera bekerja lebih cepat tetapi suka terburu-buru dan kurang teliti. Etos kerjanya cenderung malas, tidak perduli dengan lingkungan kerja, dan pekerja lainnya. Pekerja lokal lebih fokus kepada haknya tetapi mengabaikan kewajibannya. Faktor budaya dan bahasa setempat juga mempengaruhi kecepatan kerja.

"Pekerja impor" dari Subang ini adalah teman sekampung dan mungkin saja dari satu RT yang sama! Mereka saling kenal satu sama lain. Satu bahasa, satu budaya, sehingga merasa "feel at home" di negeri orang. Mereka selalu "bekerja sama dan sama-sama bekerja" satu sama lainnya, walaupun bidang pekerjaan mereka berbeda. Artinya mereka mau saling membantu satu sama lain tanpa memperdulikan jasa tenaganya. Akhirnya pekerjaan lebih cepat selesai.

Pekerja impor, jam 7 pagi setelah sarapan langsung beres-beres untuk memulai pekerjaan. "Karena tak kemana-mana," jam 6 sore barulah mereka berhenti bekerja. Tak jarang juga mereka bekerja lembur tanpa biaya lembur. Rata-rata jam bekerja mereka adalah 10 jam/hari.

Kalau pekerja lokal gajian setiap minggu, maka pekerja impor ini gajian sekali 3 bulan, yaitu ketika mereka izin pulang ke kampung selama 1 minggu.

Kedua, konflik sosial.

Dulu perusahaan punya pengalaman tidak enak. Ada beberapa pekerja lokal yang dipecat karena terbukti menjadi maling di proyek. Setelah dipecat, pekerja lokal ini kemudian memprovokasi pekerja lainnya dan warga setempat sehingga menimbulkan konflik sosial. Hal seperti ini jarang terjadi pada pekerja impor. Sekali berbuat curang, maka pekerja tersebut dan keluarganya di kampung akan menanggung malu.

Dari ilustrasi diatas kini kita mengerti kenapa pekerja impor pada akhirnya memiliki keunggulan komparatif daripada pekerja lokal.

***

Bisnis adalah bisnis, dan bisnis tidak mengenal ras! Investor Tiongkok itu kalau boleh memilih, pasti akan mendatangkan Engineer dan pekerja dari Bangladesh karena gajinya lebih murah. Akan tetapi saat ini, business overseas tanpa bantuan pemerintah sendiri adalah mustahil. Demikian juga halnya dengan kontraktor Tiongkok itu. Tanpa bantuan Pemerintah Tiongkok mustahil mereka bisa mendapat proyek di Indonesia!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun