Mohon tunggu...
wydi esti
wydi esti Mohon Tunggu... Guru - perempuan

asli Jawa Tengah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Nasi Kucing

23 Oktober 2021   09:31 Diperbarui: 23 Oktober 2021   09:35 147 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

                              Nasi Kucing

                              Karya Wydiesti

       Suasana kamar yang begitu menyeramkan.Berjajar kamar seperti  kamar mayat. Kamar yang hanya dibatasi oleh kelambu putih semakin membuat bulu kuduk berdiri.Orang lalu lalang dengan muka tidak menyenangkan..Ada yang menahan tangis ,ada yang diam seribu bahasa dan ada pula yang tiada senyum sedikit pun.

Jeritan tangis dan ratapan pilu sudah biasa terdengar."Bapak mengapa aku bok tinggal...siapa yang membiayai sekolah anak-anak kita...",keluhan seorang wanita muda sambil menangis terisak-isah dihadapan suaminya yang baru saja meninggal.Tiupan angin malam menambah suasana semakin mencekam. Rasa dingin menusuk kulit.Suara jakrik pun menambah suasana malam yang membuat bulu kuduk berdiri.Waktu itu pukul dua malam.

       Seorang wanita bersimpuh beralaskan lantai di pojok teras ruang perawatan sedang berdoa dengan penuh harap. Sesekali ia mengusap air matanya."Ya Allah ampunilah aku dan suamiku jangankan kau bebani kami dengan sesuatu yang tidak sanggup kami jalani...sembuhkanlah suamiku.. berilah kesempatan untuk melanjutkan perjalanan hidup ini...",ucap doa wanita tersebut.Sesekali wanita itu mengusap air matanya dengan kudungnya yang  mulai kusam.Dia seorang wanita tua yang sedang menunggu suaminya sakit.Namanya Juminten. Nama yang begitu bagus bagi seorang yang tua seperti dia. Penampilannya sederhana.Dia memakai kerudung yang sudah lusuh dengan warna yang sudah pudar.Wajahnya agak hitam  dan kelihatan garis-garis ketuaannya. Dibalik wajahnya yang agak hitam itu tersimpan beban yang begitu berat.Namun pancaran semangat hidupnya terlihat jelas dari raut mukanya.

        Dengan kekuatan yang ada pada dirinya, dia berusaha bangkit dari duduknya ketika suaminya memanggilnya.Dia menuju ke ruang perawatan suaminya dengan tergesa-gesa."Ke mana saja kamu Bu...suami baru sakit kok ditinggal!"bentak Mitro  suami Juminten dengan nada marah. Juminten hanya diam menunduk,dia sadar suaminya sakit jadi lebih baik diam agar tidak terjadi percecokan.

"Jawab Bu! Jangan diam saja!"suara Mitro meninggi sehingga membuat Juminten mau tidak mau menjawab dengan tenang. "Tadi aku baru salat Pak...."Mitro mendengar jawaban istrinya tidak langsung menerima begitu saja,dia tidak percaya apa yang dikatakan oleh istrinya. "Wong salat kok lama. "Juminten tidak menyahut perkataan suaminya yang tidak percaya pada dirinya.Dia bersikap diam tak menanggapi perkataan suaminya. Dia justru berkata,"Bapak mau minta apa...apa aku kipasi kalau bapak gerah.

"Udara saat itu memang agak panas.Mungkin hujan akan tiba sehingga membuat suhu menjadi naik. Juminten mengambil kipas yang ada di dalam almari kecil di sudut makar sambil membawa makanan kecil."Bapak mau kacang ini?"tanya Juminten sambil menyodorkan sebungkus kacang atom yang tinggal separo."Dak mau! Aku mau kamu belikan nasi kucing saja!"perintah Mitro dengan sedikit memaksa Juminten.Mendengar permintaan sang suami,Juminten menjawab dengan tenang,"Pak ini sudah jam dua malam...sudah banyak warung yang sudah tutup...dan bapak di sini  sakit tidak boleh makan sembarangan".

Ketika mendengar jawaban dari Juminten,Mitro tidak langsung mengiyakan,ia masih sempat menjawab dengan nada tinggi,"Apa yang kau katakan..tidak ada warung yang buka?"Memangnya aku dak tahu...kalau kamu sebenarnya dak mau membelikan....jawab aja jujur Bu...jangan banyak alasan...memang kamu ini pintar beralasan". Mitro berkata hal tersebut dengan mata melotot sambil tangannya seperti akan meninju Juminten.

Mendengar jawaban suaminya, Juminten hanya diam dan agak kaget karena tangan suaminya mau meninju dirinya,ia sedikit mundur untuk menghindari tangan suaminya yang akan meninjunya."Mengapa diam?Ayo sana cari! Aku lapar Bu!"bentak Mitro agak sedikit keras suaranya sehingga membuat anaknya yang sedang tidur terbangun. Anak Mitro memang juga ikut menungguinya karena di rumah tidak ada yang menjaganya,usianya baru sebelas tahun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan