Mohon tunggu...
sutrisno
sutrisno Mohon Tunggu... Konsultan - Pengrajin kerajinan yang rajin

penikmat isu agama, sosial dan politik sambil ngopi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Di mana Petani Marhaen Bung? Apakah Pergi Denganmu? Selamanya

23 Juli 2021   18:09 Diperbarui: 23 Juli 2021   23:37 61 1 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Di mana Petani Marhaen Bung? Apakah Pergi Denganmu? Selamanya
menemui kelompok tani arjasari kab.bandung/dokpri

Bung...kemana si marhaen yang dulu kau banggakan kepada dunia, tak kutemui di bandung bung. Mungkinkah dia beralih profesi menjadi tukang ojek. Tukang bangunan, buruh pabrik, atau menjadi pekerja keamanan berbasis preman jatah koordinasi.


Penulis buku "marhaen & wong cilik" dalam acara talk show bulan bung karno menyebut ada perbedaan anatara kaum marhaen yang istilahnya dikenalkan oleh bung karno dengan proletar yang istilahnya dipakai dalam buku-buku ilmiah. Marhaen dalam perspektif marxist adalah pelaku sebuah simpel commodity mode of production, yaitu yang membatasi penyerapan nilai lebih hanya di dalam lingkungan sendiri, tanpa eksploitasi nilai lebih yang dihasilkan oleh tenaga buruh sewa.

Marhaen dalam konsep soekarno saat pidato ulang tahun PNI ke-30 di Bandung 1957. Mereka bukanlah petani proletar, bukan juga petani kapitalis. Walaupun mereka hidup miskin namun mereka bukan buruh tani yang menjual tenaganya pada komoditas proses produksi pertanian. Walaupun lahannya kecil namun itu miliknya sendiri, begitu juga dengan cangkul, arit serta alat produksi lainnya. Mereka bukan pengusaha pertanian/tuan tanah yang mendapat nilai lebih dari hasil kerja penggarap lahan. Marhaen adalah petani utuh yang memposisikan dirinya sebagai tenaga kerja sekaligus produsen. 

Sebagai kaum milenial mungkin anda juga lebih menikmati berita yang bersumber dari medsos. Justru dari sumber itulah sikap skeptis ini muncul karena banyak pihak yang tidak percaya bahwa presiden pertama kita pernah bertemu dengan seorang petani yang bernama marhaen di Bandung tahun 1930. Rasa penasaran ini semakin kuat ketika berkunjung ke Arjasari kabupaten bandung. Hampir petani yang kutemui tidak pernah mendengar petani bernama marhaen yang katanya lahir di kota ini.

Terlepas dari kontradiksi pertemuan bung karno dengan kang marhaen. Ada hal yang perlu diingat bahwa bangsa ini pernah melahirkan sebuah paham lokal yang barangkali bisa dibanggakan bagi anda pecinta produk lokal pembenci produk impor. Atau sekedar menjadi tameng sesaat bagi petani yang tidak mau disebut tuan tanah namun bersikap benci-benci tapi rindu pada praktek kapitalisme dan liberalisasi ekonomi. Hehe

Disebut tameng karena pada dasarnya kaum semacam marhaen yang dalam istilah kang marx disebut "borjuis kecil" ini merupakan transitional class, yang akhirnya akan punah menjadi bagian dari ploretariat petani. Tentu saja sistem produksinya secara keseluruhan terserap menjadi bagian dari capitalist mode production (mann & dickinson, 1989)

Tanda-tanda kepunahannya bisa kita lihat dalam rekam jejak yang diberitakan media kompas. Proporsi rumah tangga di pedesaan yang tidak memiliki lahan pertanian lebih dari 0,1 hektar, telah meningkat dari 27% di tahun 1960, menjadi sekitar 43% di tahun 1980. Petani yang memiliki tanah kurang dari 0,5 hektar dari sekitar 11 juta di tahun 1980, menjadi 8,7 juta di tahun 1983, dan kini diperkirakan tinggal 4-5 juta (kompas 6 juni 2021)

Padahal kalau saja setelah orde lama tumbang para om-om yang keren itu sepakat bahwa tujuan pembangunan adalah membangun manusia seutuhnya mungkin marhaen tetap akan ditempatkan menjadi sosok manusia utuh di sektor pertanian. Sayangnya marhaen bukan menjadi desain besar masa depan negeri ini.

Ditambah lagi. Penulis menjadi sedikit sedih ketika tampak di depan mata menyaksikan para elit partai "wong cilik" dan kroni-kroni nya tak berdaya untuk menulis kebesaran sejarahnya sendiri. Seolah mengakui bahwa tidak ada alternatif lain selain tunduk pada aturan lembaga-lembaga yang melakukan jurus-jurus dalam peranannya sebagai instrumen leberalisasi ekonomi.

*MERDEKA *MERDEKA *MERDEKA

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan