Mohon tunggu...
Siti nurjanah
Siti nurjanah Mohon Tunggu... Blogger

Memiliki hoby Travelling IG & Twitter : @st_nurjanahh

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Masjid Gede Kauman, Berasitektur Jawa Kuno Nan Menarik

21 Mei 2018   04:14 Diperbarui: 21 Mei 2018   08:49 587 0 0 Mohon Tunggu...

Matahari kala itu bersinar cerah menyambut pagi, kereta api yang mengantar Saya pun tiba di Stasiun Lempuyangan. Perjalanan ke Yogyakarta untuk ke sekian kalinya tanpa perencanaan lama, pilihan itupun jatuh hanya kurang lebih satu minggu sebelum keberangkatan. Bisa dikatakan tak ada itenirary yang di susun.

Saya hanya berpikir sesampainya di Kota Keraton ini menyinggahi tempat yang sekiranya belum di kunjungi. Browsing dan Saya baru menyadari ada satu tempat yang sama sekali belum Saya singgahi di Yogyakarta padahal lokasinya cukup strategis dan masih dalam satu alun-alun kawasan Kraton.

Sebuah bangunan tua tapi bernilai arsitektur khas kraton Jawa. Ya..tiba juga akhirnya Saya di Masjid Gede Kauman. Agak kecewa karena ternyata tempat ini di gembok. Itu berarti Saya tidak memiliki kesempatan lebih jauh melihat ke dalamnya, dan rencana menunaikan shalat pun harus di urungkan.

Namun kemudian, Saya melihat ada seorang Bapak-bapak mungkin penjaga masjidnya. Awalnya beliau tidak mengijinkan masuk, setelah Saya katakan ijin Shalat Dhuha diberikannya kesempatan memasuki pintu gerbang samping tidak lebih dari 30 menit.

Sebagai sebuah situs budaya, entah Saya merasa bangunan ini seperti kurang dalam perawatannya. Apakah ingin mempertahankan eksistensi usia bangunan biar terkesan antik, Saya pun kurang memahaminya.

Usai melaksasanan shalat Dhuha di pelatarannya (ternyata tetap tidak mendapat ijin untuk ke ruang shalat, mungkin bisa disebabkan belum masuk waktunya). Saya memperhatikan sekitar dan mengabadikan beberapa designnya yang memang memiliki nilai seni tinggi khas Kraton Jawa Kuno.

Menelusuri kilas balik sejarahnya, Masjid Gedhe Kauman merupakan salah satu masjid tertua di Yogyakarta yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama) dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. 

Dikenal juga sebagai Masjid Kagungan Dalem Karaton Ngayokyakarta Hadiningrat atau Masjid Besar Yogyakarta. Beberapa sumber menyatakan bahwa Masjid ini dibangun pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 M atau 6 Robi'ul Akhir 1187 H. Dibangun sebagai pusat peribadatan umat Islam, masjid ini terletak di sebelah barat alun-alun utara Kraton Yogyakarta. 

Masjid Kauman ini sarat akan simbol dan filosofi Jawa, memiliki atap bersusun tiga dengan gaya tradisional Jawa bernama Tajuk Lambang Teplokdengan mustaka sebagai ilustrasi daun kluwih dan gadha. Maknanya, setiap orang ingin mencapai kesempurnaan hidup baik di dunia maupun akhirat haruslah dapat melampaui tiga tingkatan yaitu Hakekat, Syariat, dan Ma'rifat Mustakanya berbentuk Daun Kluwih dan Gadha yang mempunyai makna, Daun Kluwih (sejenis buah sukun) bermakna orang akan mempunyai kelebihan atau keistimewaan apabila telah melampaui tiga tingkatan tadi.

dokpri
dokpri
Seni hias atau pahat yang terdapat di Masjid tidak sekedar penghias semata, namun juga memiliki makna simbol yang erat kaitannya dengan agama Islam. Ukiran waluh yang terdapat disetiap pilar pagar dan pintu gerbang adalah untuk mengingatkan hakikat sorang hamba mengingat Allah SWT.

Tiang-tiang penyanggah yang berada di pelatarannya diperkirakan berusia ratusan tahun dengan lampu gantung yang menghiasi langit atapnya semakin menyempurnakan nuansa jawa kunonya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN