Teguh Hariawan
Teguh Hariawan Guru

Guru Fisika Pecinta Sejarah. Blusuker dan menulis yang di Blusuki. Content Writer. "Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang " : (Nancy K Florida)

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Arca Figur Bertekes dari Selokelir, "Masterpiece" Arca Panji Jawa Timur

12 Januari 2019   10:11 Diperbarui: 17 Januari 2019   19:39 901 21 11
Arca Figur Bertekes dari Selokelir, "Masterpiece" Arca Panji Jawa Timur
Candi Selokelir (sumber FB Widjatmiko)

Awalnya, tak banyak yang memperhatikan, Arca Figur Bertopi yang ditemukan di dekat reruntuhan Candi Selokelir, Lereng Barat Daya, Bukit Sarahklopo, anak  Gunung Penanggungan ini adalah arca penting. Penting, lantaran arca ini  termasuk mewakili dan tinggalan karya seni pahat warisan Majapahit akhir. 

Sekaligus, satu-satunya (saat ini) yang tersisa, sebagai penggambaran Tokoh Panji.  Saat ditemukan pertamakali oleh Broekveldt  tahun 1904, kondisi  Candi Selokelir nyaris hancur total. 

Namun, catatan Broekveldt masih menyebut adanya dua teras bangunan. Digambarkan pula saat itu, view di sekitar candi dan di depan candi sangat indah. Saat itu, arca figur bertopi belum ditemukan. 

Keberadaan arca langka yang menggambarkan figur bertopi ini, dilaporkan oleh Stutterheim, sesaat setelah mengeksplorasi Candi Selokelir di tahun 1936. Setelah membandingkan kesamaan ciri topi pada arca di Candi Selokelir dengan ciri topi pada adegan relief  cerita dari Gambyok, Kediri, Stutterheim  sampai pada kesimpulan, bahwa arca/ patung ini juga adalah gambaran dari tokoh Panji. 

Arca Pria Bertekes 1930 an dan 2017/dokpri
Arca Pria Bertekes 1930 an dan 2017/dokpri
Pendapat Stutterheim ini diikuti oleh Poerbatjaraka di tahun-tahun berikutnya. Pendapat dua pioner arkeologi nusantara ini, di kemudian hari diteliti lebih lanjut oleh Setyawati Suleiman yang akhirnya memperkaya Cerita Panji dengan memperkenalkan pertama kali bahwa relief di Teras Pertama Pendopo Candi Penataran juga termasuk Cerita Panji!

Setelah ditemukan dan didokumentasikan oleh sarjana  Belanda, arca ini tidak diketahui rimbanya. Lalu, berdasarkan data-data foto tinggalan Dinas Purbakala Belanda dan hasrat yang kuat mempelajari Panji, akhirnya Arca Figur Bertopi  ini ditemukan kembali oleh Lidya Kieven, seorang arkeolog (antropolog) Jerman, atas bantuan Soedarmaji Damais, tersimpan dengan baik di Perpustakaan Seni Rupa ITB (Institut Teknologi Bandung).

Reruntuhan Candi Selokelir 1923 (FB Widjatmiiko)
Reruntuhan Candi Selokelir 1923 (FB Widjatmiiko)
Reruntuhan Candi Selokelir (FB Sudi Harjanto)
Reruntuhan Candi Selokelir (FB Sudi Harjanto)
ptongan tubuh dan kaki Arca Panji Selokelir
ptongan tubuh dan kaki Arca Panji Selokelir
tekes-6-5c3900c143322f424e0ba642.jpg
tekes-6-5c3900c143322f424e0ba642.jpg
Patah Jadi 3

Dari foto-foto dokumentasi sarjana Belanda,  saat awal ditemukan kondisi Arca Panji, sangat memprihatinkan. Arca ini terpotong jadi tiga. Mulanya ditemukan 2 potongan arca. Potongan pertama, bagian tubuh arca, dari  dengkul sampai leher. Potongan kedua, dari dengkul  sampai jari-jari. Kaki menempel pada padmasana. Landasan arca yang biasanya untuk meletakkan arca-arca dewa. 

Setelah potongan kepala ditemukan, begitu dipadukan,  baru nampak secara keseluruhan profil arca figur bertopi ini. Sepintas wajahnya sedikit tertunduk dengan pandangan yang lembut, redup. Menjadikan arca ini mirip-mirip  arca seorang perempuan. 

Dugaan utama yang mengarahkan pada sosok Panji adalah topinya. Topi seperti ini disebut Tekes. Bagian depan dan belakang topinya lancip. Dari samping, topinya eksotik karena berbentuk Bulan Sabit. Seperti topi-topi yang menggambarakan sosok bangsawan di relief candi. Topi Tekes yang unik dan khas ini  menutupi rabut ikal-nya yang tebal. 

"Tangan Panji memegang kuncup bunga teratai di dadanya. Simbol meditasi dan kesempuranaan. Sosok ini makin sempurna ketika ada hiasan upawita  atau tali suci. Secara keseluruhan, dari arca setinggi 150cm ini,  tergambar sosok yang bertelanjang dada, memakai kain panjang, tangan kiri lurus ke bawah. 

Figur arca ini juga dilengkapi dengan gelang, anting-anting panjang serta cincin kaki,"demikian tulis Lydia Kieven dalam bukunya  Menelusuri Figur Bertopi Dalam Relief Candi Zaman Majapahit.

Keberadaan arca (patung) figur bertopi atau Panji dalam bentuk 3 dimensi ini benar-benar luar biasa. Bahkan, boleh dianggap sebagai berkah bagi dan harta karun bagi peneliti-peneliti Panji. Kenapa? Karena selama ini, gambaran sosok panji hanya dijumpai dalam bentuk pahatan-pahatan relief naratif di candi-candi. 

Bilamana pahatan itu tipis atau aus, sangat susah mendeskripsikan sosok Panji itu seperti apa.  Pahatan relief bernarasi Panji bisa dijumpai di Candi Penataran, Candi Kendalisodo, Candi Mirigambar, juga di Candi Jawi. Jadi,  arca figur bertopi dari Candi Selokelir ini benar-benar langka dan masterpiece-nya arca Panji yang masih ada. Ini juga lantaran ada Arca Panji satu lagi dari Grogol, saat ini hilang, lenyap, tidak diketahui keberadaannya.

Lydia Kieven termasuk peneliti utama Tokoh Panji disamping Agus Aris Munandar dan yang lain.  Wanita berkebangsaan Jerman ini sangat terkesan   sampai  mengalihkan topik penelitiannya dari Arjunawiwaha ke Panji atas saran  Padmapustpita, guru Bahasa Jawa Kuna-nya. 

Lydia selama bertahun-tahun bolak balik antara Jawa-Australia-Jerman-Belanda untuk menelisik candi-candi yang diperkirakan menyimpan jejak Panji  di pelosok Jawa Timur. 

Bahkan, sampai berkali-kali mendaki Gunung Penanggungan pun dilakukannya demi kecintaannya pada Panji. Dia sangat menyayangkan banyaknya panil-panil relief Arjuna yang hilang di Candi Kendalisodo. Untungnya dia masih menemukan ada 4 panil indah yang lekat dengan Cerita Panji!

dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
Tekes yang khas sebagai ciri Panji/dokpri
Tekes yang khas sebagai ciri Panji/dokpri
Bagian Belakang Tekes/dokpri
Bagian Belakang Tekes/dokpri
Cerita Panji

Cerita Panji, merupakan karya sastra epik hebat asli Nusanmtara. Isinya tak  kalah dengan Ramayana dan Mahabarata yang diimpor dari India.  Cerita Panji adalah identitas dan cerita epik asli yang membumi, karena benar-benar diciptakan dan berakar dari budaya di negeri Nusantara (Jawa Timur). 

Memang terjadi perdebatan di kalangan sarjana saat membincangkan asal usul genre historis cerita Panji ini.  Rassers (1922) menyarankan adanya hubungan antara Cerita Panji dengan kehidupan Airlangga. Raja Airlangga dalam sejarah diceritakan telah membagi kerajaannya jadi dua. Masing-masing kerajaan ini kelak akan mempertemukan Pangeran Panji dari dengan Putri Candrakirana. Jadilah Cerita Panji!

Poerbatjaraka  menyarankan Cerita Panji mengacu pada kakawin Smaradahana yang digubah abad ke-12 untuk menghormati Raja Kameswara dari Kediri dan isterinya, Kirana dari Jenggala. Sarjana lain Berg, mengklaim Kidung Harsa Wijaya yang mengacu pada Raden Wijaya juga cerita Panji. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2