Mohon tunggu...
Abdul Adzim Irsad
Abdul Adzim Irsad Mohon Tunggu... Dosen - Mengajar di Universitas Negeri Malang

Menulis itu menyenangkan.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Cara Kyai NU Memuliakan Durriyah Nabi

23 Mei 2020   08:07 Diperbarui: 23 Mei 2020   08:02 421
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Ketika ngaji di Makkah KH Hasyim Asaary memiliki seorang guru yang bernama bidang hadis yang bernama "Sayyid Abbas Al-Maliki". Beliau adalah kakek dari Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki. Mbah Hasyim Asaary ketika ngaji di Makkah, sudah sering ngaji kepada ulama dari kalangan Durriyah Rasulullah SAW.

Cucu Khadratus Syekh Muhammad Hasyim yaitu KH Abdurahman Wahid ra, pernah sowan kediaman cucu Sayyid Abbas Al-Maliki, beliau adalah Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki di Al-Rusaifah Makkah. Ketika berdada di kediamannya, Gus Dur pernah diajak oleh di ajak ke kamar pribadi Sayyid Muhammad Al-Maliki. Betapa dekatnya, silaturahmi sesama cucu ulama Masjidil haram ini. Barangkali, sekarang keduanya sudah bercengkerama di alam barzah.

KH Hasyim Asaary juga memiliki guru dari kalangan Sayyid "Sayyid Ahmad Yamani Makkah". Begitu dekatnya Mbah Hasyim Asaary dengan keluarga Sayyid Yamani. Sampai-sampai, ketiga putranya yang mengajar di Masjidil Haram, Sayyid Muhammad Yamani, Sayyid Said Yamani, Sayyid Hasan Yamani saat mampir ke Indonesia dan memberikan catatan khusus pada kitab KH Hasyim Asaary yang berjudul "Adabul Alim wa Al-Mutaalim". Pengakuan dan penghormatan para Durriyah Rasulullah SAW kepada Mbah Hasyim Asaary begitu mengagumkan.

Rupanya, apa yang dilakukan Mbah Hasyim Asaary mengalir pada diri KH Abdurahman Wahid. Gus Dur pernah mati-matian membela habaib di Indonesia gara-gara ketua MUI KH. Hasan Basri Ketua MUI 1984-1990 (kakek dari Fahira Idris anggota DPD RI) melontarkan sebuah kalimat sebagai berikut "Tidak ada lagi anak keturunan Rasulullah di Indonesia bahkan di dunia. Keturunan Rasulullah sudah dinyatakan terputus karena tidak adanya lagi keturunan Hasan dan Husein," kata Ketua Umum MUI KH. Hasan Basri yang dikutip sebuah koran pada tahun 1993 silam".

Gur Dur saat sebagai ketua NU, beliau tidak terima dengan pelecehan Hasan Basri kepada Durriyah Rasulullah SAW saat itu. Gus Dur-pun berkata "hanya orang bodoh yang mengatakan batu permata sebagai batu koral. Dan yang paling bodoh adalah mereka yang menganggap batu permata seharga batu kerikil. Kedatangan mereka (para cucu, anak keturunan Rasulullah saw) ke negeri ini merupakan karunia Tuhan yang terbesar. Dan hanya orang-orang kufur nikmat yang tidak mau mensyukurinya."

Bagi ulama NU dan santri-santri-nya, mereka berkeyakinan bahwa Durriyah Rasulullah SAW wajib dimuliakan. Minimal "mencium tangan saat bertemu". Gur Dur pernah sowan ke Sayyid Muhammad Alawai Al-Maliki Makkah, juga sowan ke kediaman Habib Abdullah bin Abdul Qodir bilfawih pesantren Darul Hadis Malang.

Kemudian KH Said Aqil Sirajd Ketua Umum Pengurus Besar NU, juga sowan kepada Habib Lutfi Pekalongan, cium tangan dan duduk di bawah. Begitu juga dengan Kyai-kyai Nusantara lainnya, mereka begitu memuliakan Durriyah Rasulullah SAW. Bagi orang NU "adab itu di atas ilmu". KH Maemun Zubair, memiliki santri dari kalangan Durriyah Rasulullah, Mbah Maemun sangat memuliakan mereka.

Konon, KH Hamid Pasuruan, sosok ulama yang terkenal dengan kewaliannya, beliau melepas sandalnya ketika bertemu dengan para Durriyah Rasulullah. Bahkan, beliau tidak mau menjadi imam sholat, ketika ada Durriyah Rasulullah SAW. Begitu agung budi pekerti Kyai NU kepada seorang Durriyah Rasulullah SAW.

KH Hasan Geng-gong, mampu melihat keturunan Rasulullah SAW hanya melalui penciuman (gondo). Maka, tidak sosok yang memuliakan Durriyah Rasulullah SAW melebihi Kyai-Kyai NU. Mereka telah diajarkan oleh guru-gurunya, seperti Syekh Mahfuzd Al-Turmusi, Sayyid Abu Bakar Shata, Sayyid Zaini Dahlan. Sangat wajar, jika NU dan Habib itu bisa berdampingan, karena akidah-nya sama, mazhab fikih juga, bahkan semua kitab-kitab yang dikaji NU dan Habaib sumbernya sama.

Seorang ulama kharismatik, KH Misbah menikahi Syarifah sang janda yang berusia 50 tahun, dengan tujuan memuliakan Durriyah Rasulullah SAW. Waktu itu, KH Misbah berusia 70 tahun. Saat melihat seorang Syarifah di perlakukan kurang pantas di keluarganya, di suruh mencuci piring, mencuci busana. Maka, KH Misbah memutuskan menikahinya.

Saat itu para Kyai dan ulama membuli habis-habisan Kyai Misbah. Karena dalam madzhab Al-Syafii, orang biasa (awam), tidak sekufu (se-imbang) menikahi Durriyah Rasulullah SAW. Beragam argumentasi di bawa ke-hadapan KH Misbah, namun KH Misbah tidak mempedulikan. Terahir, KH Misbah berkata kepada santri nya yang bernama KH Aziz Munif "aku menikahi Syarifah sudah meminta ijin kepada Rasulullah SAW".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun