Mohon tunggu...
Stevan Manihuruk
Stevan Manihuruk Mohon Tunggu... Penulis - ASN

Buruh negara. Sedang berusaha menjadi (pembaca dan penulis) yang baik. Email: stevanmanihuruk@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Pertamina Untung Rp 14 T di 2020, Ahok Effect?

4 Februari 2021   22:53 Diperbarui: 4 Februari 2021   23:22 1183 27 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pertamina Untung Rp 14 T di 2020, Ahok Effect?
Ilustrasi Kantor Pertamina (Tribunnews/Dany Permana)

Hari ini (4/2) perasaan saya seperti bercampur aduk. Siang hari, saya sedih membaca dua judul besar di halaman depan harian KONTAN. Pertama, (masih) menyoroti penanganan pandemi korona di negara ini yang masih belum membuahkan hasil yang memuaskan. Kedua, mengenai porsi utang perusahaan BUMN yang bisa dikatakan sangat besar.

Kita fokus saja dengan topik yang kedua. Harian ini mengatakan, posisi utang perusahaan-perusahaan BUMN kita yang telah tercatat di Bursa dan tergabung dalam indeks IDX BUMN20, sudah sangat mengkhawatirkan. Untuk kuartal III-2020, total utangnya mencapai Rp 611,06 triliun. Emiten-emiten konstruksi (PTPP, WIKA, WSKT, WSBP) total "menyumbang" utang sekitar Rp 200 triliun.

Masih ada lagi perusahaan BUMN yang telah melantai di bursa namun tidak masuk dalam indeks IDX BUMN20. Pelaku pasar pasti tahu bahwa penyusunan indeks di bursa saham punya kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi. Sehingga tidak heran jika perusahaan yang punya nama besar seperti PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sekalipun justru tak masuk indeks tersebut.

Nah, di kalangan investor yang mementingkan fundamental perusahaan, dua perusahaan "terkenal" ini bisa dikatakan termasuk yang kurang diminati. Salah satu indikatornya, lagi-lagi soal utang.

Perusahaan Garuda Indonesia misalnya, sudah telanjur dikenal sebagai perusahaan yang "hobi" rugi. Untuk memenuhi operasional perusahaan, mau tak mau harus terus mencetak utang dan jumlahnya kian membengkak. Lebih parah lagi, beberapa tahun lalu sempat terkuak skandal penyusunan laporan keuangan. Pihak manajemen yang awalnya sempat melaporkan bahwa perusahaan memperoleh profit (keuntungan), namun tak berapa lama segera terbongkar bahwa sebenarnya perusahaan justru rugi.               

Pertamina "kelas dunia"

Malam hari, akhirnya saya menemukan berita yang cukup menggembirakan dan membanggakan. PT Pertamina (Persero) dikabarkan berhasil mencatatkan laba di atas US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun pada 2020. Padahal kita tahu bahwa tahun lalu merupakan tahun yang cukup menantang bagi sektor perminyakan.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati bahkan menyebutkan di sepanjang  2020 khususnya sejak awal pandemi, Pertamina mengalami triple shocks sekaligus yakni penurunan harga minyak, penurunan permintaan minyak dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.

Pada awal pandemi tahun lalu, harga minyak menyentuh ke titik terendah pada April-Mei, bahkan harga minyak WTI sempat tercatat minus. Dari sisi permintaan, saat awal pandemi di kala pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi aktivitas masyarakat, permintaan bahan bakar minyak secara nasional turun hingga 25%. Bahkan, di sejumlah kota besar, penurunan permintaan BBM sempat anjlok lebih dari 50%.

Begitu juga dari sisi nilai tukar rupiah, saat awal pandemi sempat melemah, sehingga berdampak cukup signifikan kepada bisnis sektor energi. Akumulasi dari tiga faktor itu membuat Pertamina sempat mengalami kerugian sekitar Rp 11 triliun di Semester I/2020.

Keberhasilan Pertamina mencetak laba di tengah situasi global yang serba sulit, tentu layak diapresiasi. Kinerja Pertamina bahkan bisa dikatakan melampaui kinerja perusahaan "raksasa" migas dunia. Beberapa sumber memberitakan, perusahaan migas dunia yang terkenal seperti Exxon Mobil Corporation, Chevron Corporation, dan BP justru melaporkan kinerja keuangan mereka yang melemah sepanjang 2020. Ketiganya mencatatkan kerugian selama 2020.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN