Mohon tunggu...
Ina Tanaya
Ina Tanaya Mohon Tunggu... Penulis - Ex Banker

Blogger, Lifestyle Blogger https://www.inatanaya.com/

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Hari Anak Nasional: Jangan Jauhi Anak dengan HIV/AIDS!

23 Juli 2019   15:13 Diperbarui: 23 Juli 2019   20:13 191
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber ilustrasi: Getty Images"May all the children of the world be blessed and have a wonderful childhood. May they become good responsible adults in the future"

Kemarin, pencanangan Hari Anak Nasional. Namun, Hari Anak Nasional itu belum menjadi hari yang sepenuhnya menggembirakan seluruh anak Indonesia. Di tengah gegap gempita anak-anak yang seharusnya menikmati hari-harinya penuh keceriaan sebagai anak, ternyata ada segelintir anak yang harus merayakannya dengan getir hatinya. 

Getir hatinya karena dia belum menerima haknya sebagai anak Indonesia. Hak pendidikan dan hak kesehatan. Dia masih disingkirkan bahkan didiskriminasikan karena orangtuanya atau malah dirinya ikut menyandang HIV/AIDS. Anak-anak yang mengidap HIV/AIDS disebut Anak Dengan HIV/AIDS atau disingkat ADHA.  

Diskriminasi yang diterima oleh anak-anak ADHA itu sangat berat sekali. Ketika mereka ditinggalkan oleh ayah dan ibunya yang meninggal oleh HIV/AID, masyarakat sekitarnya yang belum mengetahui tentang apa itu HIV/AIDS menganggap bahwa anak ini juga akan menularkan HIV/AIDS kepada anak-anaknya jika mereka bergaul dengan mereka. Beban psikologisnya sangat berat, apalagi mereka belum dewasa.

Salah satu contoh yang sangat menyedihakan adalah 14 ADHA di Solo, Jawa Tengah didiskriminasi dan ditolak dari orangtua siswa lain.  Keempatbelas anak ADHA ini menuntut ilmu di SD Negeri di Kecamatan Laweyan. Penolakan itu muncul dalam rapat wali siswa. Bahkan, orangtua sempat mengancam Kepala Sekolah apabila ke 14 anak ADHA itu tetap diterima, mereka semua akan ke luar dari sekolah itu.  Akibatnya ke 14 anak ADHA itu harus keluar dari sekolah itu dan mereka harus di rumah penampungan belajar sendiri tanpa pendampingan.

dokumen pribadi
dokumen pribadi
Hal serupa terjadi dialami oleh  6 anak ADHA si Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Keenam anak ADHA itu yang ditampung di suatu rumah penampungan disebut House of Love. Semua tetangga sekitar melarang anaknya bergaul dengan ke 6 anak ADHA itu. Bahkan ada sebuah warung yang melarang anak-anak itu jajan di tempatnya.

Menyedihkan lagi, salah seorang anak bernama SS ditolak bersekolah di taman kanak-kanak. ST dan PL ditolak masuk sekolah SD Negeri. Mereka diminta segera pulang. Orangtua siswa lainnya mendesak mereka segera keluar karena takut anaknya tertular.  

House of Love menjadi tempat satu-satunya untuk perlindungan dan mencari cinta bagi anak penyandang HIV/AIDS itu. Bahkan mereka memanggil "mamah" kepada pengasuhnya yaitu Eni dan Elisabeth. Sebaliknya, Eni dan Elisabeth memanggil anak-anak itu "anak". Keenam anak-anak itu sudah seperti kakak-beradik karena tak ada tempat lagi bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan maupun kasih sayang yang sebenarnya.

Penolakan dan diskriminasi anak ODHA dan ADHA ini tak terlepas kurang pengetahuannya para orangtua tentang bagaimana cara penularan HIV/AIDS. Orang yang tidak mengetahui cara penularan HIV/AIDS menanggap jika anaknya bergaul dengan anak-anak ODHA dan ADHA, maka anaknya akan tertular.

Sangat disayangkan bahwa menurut survei secara acak yang diadakan oleh Litbang  Kompas, dari 518 responden ketika ditanyakan apakah Anda mengenal penyakit HIV-AIDS? Jawabannya, yang mengenal  53,1%,  yang mengenal sedikit 36,8%, dan tidak tahu 10,1%.  Ketika pertanyaan berikutnya diajukan, apakah seandainya ada orang HIV AIDS di sekitar Anda, apakah Anda menerima? Yang menerima sebanyak 68,3%, menjauh 16,4%, menolak 10% dan tidak tahu 5,3%.

Anak yang dilahirkan dari orangtua penyandang ODHA dan ADHA itu secara otomatis akan terinveksi HIV/AIDS. Gejalanya anak-anak yang menyandang HIV tidak bisa dilihat dengan kasat mata.  Human Immunodeficiency Virus atau HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Saat terinfeksi, virus akan menggerogoti sistem kekebalan tubuh dalam waktu yang lama tanpa menunjukkan gejala apa pun. Ketika kekebalan tubuh sudah lemah, tubuh menjadi rentan terhadap serangan segala macam penyakit. Di sinilah fase muncul penyakit AIDS pada tubuh seseorang yang terinfeksi  HIV.

Umur dari virus HIV itu sangat pendek, cepat mati setelah lepas di udara bebas. Namun potensi penularnnya sangat besar melalui cara lain. Cara penularannya dilakukan secara intens lewat darah ke darah, hubungan seksual, jarum suntik. Begitu virus masuk ke tubuh, penyebarannya langsung melalui media tersebut.

Siapa saja yang rentan terkena HIV/AIDS? Yang paling rentan adalah ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga biasanya terkena atau tertular infeksi dari pasangannya. Lalu, ibu rumah tangga berpontensi menularkan virusnya kepada jani dalam kandungan saat hamil. Selain penularan dalam janin, ibu rumah tangga juga dapat menularkan kepada anaknya melalui air susu ketika menyusui anak/bayinya.

Pengetahuan ibu rumah tangga tentang penularan HIV/AID kepada anaknya melalui menyusui sangat rendah sekali. Pemahaman mereka hampir tidak mengetahuinya bahwa jika mereka dapat menularkan HIV/AIDS kepada anak saat menyusui. Hal ini diketahui saat Kompas mengadakan survei kepada ibu-ibu responden sebanyak 20% tidak mengetahuinya.   

Kondisi ini harus dianggap serius baik oleh pemerintah dan masyarakat karena semakin tahun jumlah bayi dan anak yang tertular jumlahnya makin meningkat (dari tahun 2010 hingga 2018 pertambahan bayi yang tertular HIV/AID). Untuk anak usia 5-14 tahun, trennya stabil . Tidak ada lonjakan signifikan jumlah anak yang tertular HIV dari tahun 2010-2018.

Sedangkan untuk usia 15-19 tahun, tren sama dengan kelompok pertama. Sedangkan yang paling rawan terkena adalah mereka yang berada di usia 15-19 tahun mudah terinfeksi HIV relatif karena usia ini masa transisi di mana perkembangan jiwanya rawan.

Stigma negatif:

Ada yang menganggap bahwa HIV/AIDS adalah penyakit kotor, menular dan mematikan. Sehingga ADHA dan ODHA terdiskriminasi dan sulit mendapatkan pengobatan.

Padahal saat ini aktivis dan LSM terus mengampanyekan program pemberantasan HIV/AIDS dan penyeberannya sulit dideteksi secara kasat mata. Oleh karena itu gencarnya kampanye ini terus dilakukan supaya warga masyarakat makin mengetahui apa itu HIV/AIDS. Masyarakat juga perlu mengetahui cara penularan dan cara pencegahannya. Perilaku seks bebas itulah yang jadi potensi terbesar dalam menularkan virus yang sangat memeatikan itu.

Hindari Diskriminasi:

Bagi mereka yang sudah menerima sosialisasi dan memahami apa artinya dan bagaimana penularan HIV/AIDS itu sebaiknya tak membuat diskriminasi kepada anak-anak penyandang HIV/AIDS. Mereka butuh kasih sayang selayaknya ank normal lainnya. Mereka juga ingin membangun masa depannya seperti anak lainnya. Jangan singkirikan dan hindari mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun