Mohon tunggu...
Hanif Sofyan
Hanif Sofyan Mohon Tunggu... Freelancer - pegiat literasi walkingbook.org

acehdigest.blogspot.com, acehportrait.blogspot.com De Atjehers series 1-2: Dari Serambi Mekkah Ke Serambi Kopi;

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop Pilihan

Tabir Penguak Kasus Kematian Brigadir Joshua

8 Agustus 2022   11:49 Diperbarui: 10 Agustus 2022   16:19 4652 16 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi gambar-teka-teki dalang pembunuh Brigadir J-okezone.com

Sebelum muncul kabar resmi yang mengejutkan atas pengakuan Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, bahwa dia bukan pelaku penembakan utama yang menewaskan Brigadir Pol Nofriansyah Hutabarat alias Brigadir J,  ada sinyal lain penguak kasus ini. Bahkan sinyal itu cukup jelas; mundurnya para penggacara, pernyataan Irjen Ferdy Sambodi Bareskrim dan pasal-pasal yang disangkakan untuk Bharada Eliezer.

Fakta itu menguatkan pihak Komnas HAM yang telah menyodorkan bukti rekaman CCTV lengkap dengan rincian berdasarkan waktu kejadian dan pencocokan dengan daftar bukti lainnya. Seperti rekaman pembicaraan terakhir dengan calon istri Brigadir J. Dengan isi rekaman ancaman bunuh oleh skuad lama. Serta ketepatan waktu dengan kronologis seluruh kejadian sesuai waktu yang tertera dalam CCTV.

brigadir-yosua-menangis-diancam-akan-dibunuh-skuad-lama-pihak-ferdy-sambo-buka-suara-rmyvx2tbta-62f09b6fa51c6f40e95d1c24.jpg
brigadir-yosua-menangis-diancam-akan-dibunuh-skuad-lama-pihak-ferdy-sambo-buka-suara-rmyvx2tbta-62f09b6fa51c6f40e95d1c24.jpg
ilustrasi gambar-bharada E menangis ketika diancam bunuh skuad lama-okezone.com

Namun rekaman CCTV yang memperlihatkan aktivitas keluarga Kadiv Propam Polri non-aktif Irjen Ferdy Sambo dan Brigadir J sebelum tewas, oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), ternyata masih diragukan keabsahannya. Menurut penuturan Pengacara keluarga Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak mereka juga meragukan rekaman CCTV tersebut.

Titik terang muncul kembali ketika bharada E diperiksa secara maraton 224 jam oleh Timsus Bareskrim, Jumat (5/8/2022), dan selanjutnya diperiksa lagi oleh Timsus Itwarsum. Pada akhirnya ia "bernyanyi" membeberkan peristiwa sebenarnya.

Seperti disampaikan oleh pengacara Bharada Eliezer yaitu Deolipa Yumara sepulang dari Rutan Bareskrim Polri, tempat penahanan Bharada E di  basemant 1A, bahwa pembunuhan Brigadir Joshua dilakukan secara bersama-sama alias "berkomplot" dan ada perintah dari atasannya untuk menghabisi nyawa Brigadir Joshua.

Pembicaraan Diantara Pengacara

ilustrasi gambar-pengacara bharada E minta perlindungan LPSK-hanupia (IDNTimes)
ilustrasi gambar-pengacara bharada E minta perlindungan LPSK-hanupia (IDNTimes)

Fakta lainnya, pengacara Kamaruddin Simanjuntak sejak awal meyakini Bharada Eliezer bukan pelaku utama tewasnya Brigadir Joshua. Pengacara Kamaruddin, juga mengomentari soal mundurnya pengacara Bharada Eliezer yaitu Andreas Nahot Silitonga, sebagai sinyal pengakuan Bharada Eliezer bukan pembunuh satu-satunya.

Pengacara Kamaruddin pernah meminta pengacara Bharada Eliezer untuk mundur, jika kliennya terus berbohong. Menurutnya, "bila benar katakan benar bila tidak katakan tidak, lebih daripada itu adalah dusta, maka jangan ada dusta di antara kita, Jika Bharada E mau berkata jujur tentang apa yang terjadi, maka dia layak dibela hak-hak hukumnya. Namun bila terus menerus berdusta, jangan dibela", tegasnya ketika itu.

ilustrasi gambar-pengacara bharada E mundur-headtopic indonesia
ilustrasi gambar-pengacara bharada E mundur-headtopic indonesia

Justru ketika Andreas Nahot Silitonga dkk mengundurkan diri sebagai tim kuasa hukum Bharada E setelah mendatangi Bareskrim Polri, Jakarta, Sabtu (6/8/2022) siang, keyakinan Pengacara Kamaruddin itu semakin menguatkan rahasia kebenaran yang selama ini tersembunyi.

Ketika Klien Berbohong

ilustrasi gambar-ketika klien berbohong-pikiran rakyat.com
ilustrasi gambar-ketika klien berbohong-pikiran rakyat.com
Menurut sahabat kompasianer Sutomo Paguchi yang berprofesi sebagai pengacara, jika dalam dunia kedokteran pasien cenderung berkata jujur pada dokter terkait keluhan sakit yang dideritanya. Sebaliknya dalam dunia kepengacaraan. Klien tak jarang berkata bohong atau menutupi kasus sebenarnya, seperti kasus Bharada E karena tekanan kuasa.

Bila pengacara tak jeli menerima cerita klien maka potensial salah diagnosa dan bisa keliru memberi advokasi hukum. Salah-salah berujung pada strategi pembelaan yang fatal dan runyam. Dalam perkara perdata lawan adalah penggugat. Sedangkan dalam perkara pidana lawan adalah polisi (penyidik) dan jaksa (penuntut).

Ketepatan menyusun fakta hukum adalah hal terpenting sebelum membangun strategi pembelaan suatu kasus. Berdasarkan temuan fakta hukum itulah, dapat dipastikan strategi hukum apa dan bagaimana untuk pembelaan kliennya.

Para pengacara tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan itikad baik untuk pembelaan klien dalam sidang pengadilan, yang disebut sebagai Hak Imuntas. Hak imunitas termuat dalam ketentuan Pasal 16 UU No.18 Tahun 2003 tentang Advokat yang belakangan diperluas oleh Mahkamah Konstitusi (MK).

Namun jika melanggar kode etik, akan  mendapat sanksi administratif yang tercantum pada Pasal 16 ayat (1), yaitu: a) peringatan biasa, b) peringatan keras, c) pemberhentian sementara untuk waktu tertentu, dan d) pemecatan dari keanggotaan organisasi profesi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Vox Pop Selengkapnya
Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan