Mohon tunggu...
Wuri Handoko
Wuri Handoko Mohon Tunggu... Administrasi - Peneliti dan Penikmat Kopi

Arkeolog, Peneliti, Belajar Menulis Fiksi

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Arkeologi dalam Geliat Ekonomi Kreatif, Pemenang di Tengah Pandemi

30 September 2020   17:29 Diperbarui: 3 Oktober 2020   18:46 706
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Industri kreatif sudah tumbuh dengan sangat cepat, kata Uno. Tahun 2019 sudah tembus hingga mencapai angka 1 trilyun rupiah, meloncak hingga 19, 5 % dalam tiga tahun terakhir. Total pengusaha ekonomi kreatif, mencapai 8-10 juta yang mayoritas ada di usaha mikro dan ultra mikro. 11 % nnya dijalankan oleh generasi milleneal, generasi Z, dibawah usia 30 tahun. 

Hal ini merupakan potensi bangsa kita, dan bisa menciptakan 20 juta lebih lapangan kerja. Namun ironisnya, 20 juta itu yang berpotensi holang karena pandemi. 

Menurut Sandiaga, ada 3 subsektor industri kreatif yang memiliki konstribusi besar adalah, industri kuliner 42 %, fashion, 19% dan kriya 16%. Dan arkeologi kreatif sudah menyumbangkan modal kreatifnya untuk salah satu atau dua dari subsektor itu, terutama fashion dan kriya. 

Dokumen olahan pribadi
Dokumen olahan pribadi
Atina Winaya, seorang peneliti arkeologi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, mengatakan benda-benda arkeologi, yang selama ini dikenal sebagai artefak kuno, sesungguhnya bisa menginspirasi untuk terciptanya produk-produk kreatif. Atina menjelaskan misalnya tentang relief-relief candi, yang menampilkan berbagai corak berbagai model fashion masa ssejarah klasik.

Itulah, arkeologi selain mempelajari sejarah juga bisa menghasilkan manfaat praktis. Manfaat arkeologi secara ekonomi. Tdak hanya sebagai obyek wisata. 

Bangunan masa lampau, yang dikelola sebagai cagar budaya, menjadi destinasi wisata. Contohnya Candi Borobudur, yang bisa dirasakan manfaat ekonominya secara langsung. Namun, tidak hanya itu saja. Obyek arkeologi bukan hanya sebagai obyek tontonan, juga menghasilkan nilai ekonomi. 

Jadi arkeologi sebagai tontonan, juga tuntunan, memberi inspirasi untuk pekerja industri kreatif menghasilkan produk-produk bernilai ekonomi.  

Di Indonesia sejauh ini, perlu lebih didekatkan hubungan pegiat arkeologi dan pegiat industri kreatif saling mengisi kebutuhan mereka untuk "membumikan" arkeologi sekaligus memasarkan produk kreatif.

Sumber: Atina Winaya/Puslit Arkenas
Sumber: Atina Winaya/Puslit Arkenas
Pindi Setiawan, seorang akademisi Seni Rupa ITB, yang selama ini sering bergelut dalam riset arkeologi bersama para arkeolog. Ekosistem Ekonomi kreatif merupakan tantangan bagi arkeologi. 

Kalau arkeologi ingin mengajak Indonesia, membangun industri kreatif, maka perlunya loka, atau ruang untuk menciptakan ruang kreatifitas dengan latar arkeologi. Di Indonesia, yang paling utama diperlukan adalah loka, atau dibukanya ruang kreatifitas itu sendiri.

Di Indonesia menurutnya ada empat subsektor utama industri kreatif, yaitu kuliner, fashion, kriya dan pertelevisian. Tantangan arkeologi dalam pengembangan indutri kreatif itu adalah fakta (on site) dan fantasi (on sreen). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun