Mohon tunggu...
Wiwin Riza Kurnia
Wiwin Riza Kurnia Mohon Tunggu...

Nasionalism, Pluralism, Adventure

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Napak Tilas Peninggalan Majapahit di Situs Beteng Jember

21 Desember 2013   21:54 Diperbarui: 24 Juni 2015   03:39 0 3 3 Mohon Tunggu...
Napak Tilas Peninggalan Majapahit di Situs Beteng Jember
13876368861550063977

Sungguh tak asing lagi jika kita mendengar tentang Majapahit. Sebuah kerajaanyang berpusat di Jawa Timur, Indonesia. Kerajaan yang mencapai puncak kejayaannya menjadi kemaharajaanraya yang menguasai wilayah yang luas di Nusantarapada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350hingga 1389.

Namun, tahukah bahwa peninggalan Kerajaan besar tersebut ada di kota kecil dan berbudaya pandhalungan seperti di Kabupaten Jember ini? Bahkan ada pula yang nyaris sirna karena tergerus tangan-tangan jahil dan sudah terkubur seperti Situs Kuto Kedawung di Paleran dan Situs Gondosari di Tamansari Wuluhan.

Saya melakukan ekspedisi bersama Forkom Bhattara Saptaprabhu. Kelompok yang terdiri dari kepala sekolah dan beberapa orang guru SMP swasta mata pelajaran IPS Sejarah di Jember. Dimana kami disatukan dengan rasa keprihatinan terkait dengan minimnya perhatian pemerintah terhadap situs sejarah dan apatisnya minat generasi muda dalam melestarikan sejarah dan budaya yang ada di Jember.

Ekspedisi dilakukan ke salah satu tempat ditemukannya bukti-bukti sejarah peninggalan kerajaan majapahit, tepatnya di Situs Beteng yang berada di Dusun Sidomekar, Kecamatan Semboro Jember. Situs Beteng ini dijaga turun-temurun, dan saat ini dijaga oleh seorang juru kunci bernama Bapak Ngabdul Gani. Ditempat penyimpanan bukti sejarah yang telah dijaga oleh beliau terdapat beberapa artefak seperti beberapa alu dan lesung batu yang dahulunya digunakan untuk menumbuk padi, dan untuk meracik obat-obatan untuk para prajurit yang kalah dalam peperangan, adapula beberapa lumpang, batu pipisan, pahoman atau padupaan, dan serpihan batu bata merah majapahit yang menjadi sisa-sisa bangunan benteng.

Adapun pusaka yang disimpan khusus oleh Bapak Ngabdul Gani berpa Keris Pusaka Kyai Omyang yang masih dipegang olehnya. Saya bahkan sangat takjub ketika Bapak Budi yang merupakan rekan Bhattara Saptaprabhu mencoba untuk menyentuh keris tersebut, dan yang terjadi ialah ia mampu membuat keris kyai omyang berdiri tanpa bantuan benda apapun disampingnya yang menahan berat keris itu.

1387636976639846448
1387636976639846448

Usai melihat bukti-bukti sejarah yang telah disimpan, kami menuju lokasi lain yakni peninggalan berupa sumur kuno. Sumur ini diplengseng susunan batu bata merah era majapahit. Meskipun pada bibir sumur juga diplester semen untuk menjaga kekuatannya. Bekas Peninggalan bersejarah inilah yang biasanya lebih banyak dimanfaatkan untuk ritual para peziarah yang datang sebagai sambung do’a, bernadzar, sekedar memperoleh air sumur, namun hanya segelintir orang saja yang datang untuk penelitian sejarah.

13876371561503002852
13876371561503002852

13876372821144021216
13876372821144021216

Selain itu ada juga sumur serupa namun dengan ukuran yang lebih kecil dan lebih dangkal yang ditemukan tak jauh dari lokasi situs, dan dekat dengan rumah-rumah warga yang sengaja dibiarkan tak terurus. Ada keinginan untuk membongkar sumur tersebut, tapi warga mengaku takut, dikarenakan setiap malam jumat legi, sumur itu mengeluarkan bau yang sangat wangi.

1387637338211298507
1387637338211298507

Kami kembali ke lokasi situs tempat sisa-sisa bangunan benteng Majapahit. Hanya terdapat pecahan-pecahan batu bata merah yang tersisa. Setiap batu bata merah tersebut dihiasi ukiran-ukiran yang berbeda. Menurut Koordinator Forkom Bhattara Saptaprabhu, Bpk.Zainollah, diduga kuat hal tersebut merupakan sandi-dandi jalan. Seandainya diadakan ekskavasi atau penggalian yang melibatkan arkeolog, tidak menutup kemungkinan terdapat terowongan dan ruang bawah tanah atau labyrint yang menghubungkan benteng dengan hutan sekitar atau sungai. Karena lorong tersebut biasanya digunakan sebagai jalan rahasia untuk menyelamatkan Raja dan keluarganya bila terjadi situasi darurat atau bila benteng terkepung dan diduduki oleh musuh. Hal ini ada kemiripan dengan ruang bawah tanah Situs Kedaton dan Sumur Upas yang ada di Trowulan, Mojokerto. Asumsi bahwa bila benar ini terbukti bangunan benteng, tentu tak akan lepas dari keberadaan ruang bawah tanah, terowongan, penjara bawah tanah, dan gudang bersenjata.

13876373791564141496
13876373791564141496

13876374291273052287
13876374291273052287

13876375191095069554
13876375191095069554

Berdasarkan catatan tentang ditemukannya situs beteng yang telah turun temurun disimpan oleh Juru Kunci Situs Beteng dan telah diterjemahkan oleh Bhattara Saptaprabhu, sejarah tentang keberadaan benteng yang berada di Dusun Sidomekar Desa Semboro (sekarang Kecamatan Semboro), menurut cerita Eyang Meru, seorang keturunan sisa pelarian laskar Majapahit pada abad XIV yang datang ke lokasi sekitar tahun 1961 pukul 20.00 malam. Ia mengatakan bahwa Situs Beteng ada kaitannya dengan Kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto. Kala itu Raja Kertabhumi (Brawijaya V)mempunyai permaisuri dari negeri Champa yang telah memeluk agama Islam bernama Ratu Dwarawati. Maksud dari ayah Sang Puteri menghadiahkan anaknya pada RajaMajapahit adalah untuk menyebarkan agama Islam pada rakyat dan rajanya. Karena Prabu Brawijaya mempunyai banyak selir, salah satunya ada yang paling disayangi oleh Sang Prabu, yaitu puteri Cina yang kecantikannya melebihi permaisuri. Puteri tersebut mempunyai nama asli Dewi Khian dan setelah dewasa diganti namanya menjadi Aryati Sekar Wangi yang kala itu hamil 5 bulan. Sedangkan Permaisuri sendiri tidak dapat mempengaruhi Prabu Brawijaya untuk masuk Islam. Apa yang menjadi kendala sesungguhnya dari Sang Prabu tidak mau Islam? Seorang pejabat istana bernama Demang Kliwon yang sudah memeluk Islam mengetahui dan beranggapan bahwa Sang Prabu tidak mau masuk agama baru itu karena dipengaruhi oleh Aryati Sekar Wangi yang menganut agama Budha. Sebenarnya Prabu Brawijaya tetap pada pendiriannya yang kokoh dengan tetap menganut kepercayaan warisan nenek moyangnya yaitu agama Syiwa-Budha. Bukan karena akibat hasutan dari Puteri Cina.

Kejadian itu diberitahukan pada Puteri Champa bahwa Sang Prabu mempunyai selir yang kecantikannya melebihi Puteri Champa. Mendengar hal tersebut Puteri Champa meminta kepada Sang Prabu agar dipulangkan secara baik-baik ke negerinya. Pada waktu itu Sang Puteri dihadiahkan pada Sang Prabu secara baik-baik, sehingga Baginda amat terkejut dengan permintaannya. Nanti bila seandainya Sang Puteri Champa dikembalikan, maka akan berakibat bencana besar akan melanda Kerajaan Majapahit. Kemungkinan akan terjadi perang besar yang akan menyebabkan kerajaan menjadi lemah dan akhirnya hancur lembur, untuk menghindari ancaman bencana itu maka Sang Prabu mengusir selir yang bernama Dewi K Khian (Aryati Sekar Wangi) ke Sriwijaya (Palembang) dan dititipkan pada ipar Sang Prabu yang bernama Arya Damar.

Sesampainya di Palembang Aryati Sekar Wangi melahirkan anak laki-laki yang bernama Raden Patah (Panembahan Jimbun). Untuk menghindari kecurigaan, selir tersebut dikawinkan dengan kerabat Kerajaan Sriwijaya yang kemudian dikaruniai seorang putera bernama Raden Khusin. Setelah menginjak dewasa dua saudara lelaki tunggal ibu itu merantau ke Jawa dengan tujuan menuntut ilmu agama Islam. Keduanya menuju ke Pesantren Ampeldenta di Surabaya untuk berguru kepada Raden Rahmat (Sunan Ampel). Setelah selesai berguru Raden Khusin berangkat mengabdi ke istana Majapahit. Sedangkan Raden Patah membuka lahan baru (babat alas) untuk pemukiman di daerah Tegalwangi (Demak). Sebenarnya tujuan Raden Patah ke tanah Jawa adalah untuk membalas dendam karena ibunya dibuang, meskipun Ia tahu Prabu Brawijaya adalah ayah kandungnya sendiri.

Akhirnya Raden Patah menghimpun kekuatan di Demak dengan dibantu para wali, Ia akhirnya mengadakan serangan besar-besaran ke istana Majapahit. Di antara panglima perang tentara Kerajaan Majapahit terdapat seorang senapati bernama Raden Khusin yang tidak lain adalah adiknya sendiri. Dalam perang tersebut Raden Patah mendapatkan kemenangan yang gemilang, sedangkan Sang Prabu berhasil meloloskan diri dengan pasukan yang tersisa ke sebelah timur Gunung Semeru yaitu Pegunungan Tengger.

Gerakan pelarian Prabu Kertabhumi ke Tengger diketahui oleh Raden Patah, sehingga diadakan pengejaran. Sebelum pasukan Raden Patah dating menyerang, Sang Prabu dapat meloloskan ke wilayah timur melalui perjalanan jauh dan panjang. Sisa pasukan Majapahit itu akhirnya sampai di daerah Jember (Semboro) dan membuat benteng pertahanan yang amat kuat dengan bahan batu bata merah. Kemudian Sang Raja mendirikan kota kecil yang diberi nama Kutho Kedawung, yang sekarang berada di Desa Paleran Kecamatan Umbulsari.

Tempat pergerakan Prabu Brawijaya V lama kelamaan diketahui oleh telik sandi pasukan Raden Patah. Kemudian pasukan Majapahit yang tinggal sedikit diserang secara membabi buta sehingga Sang Raja menyerah kalah dan memeluk agama Islam.

Prabu Brawijaya mengetahui bahwa yang menyerang dirinya adalah Raden Patah anak kandungnya sendiri. Sehingga kemudian Ia memberi titah (perintah) agar para panglima dan pengawalnya mengemas dan membereskan peralatan perang untuk disimpan. Semua perintahnya dipatuhi oleh panglima dan pasukannya, kecuali dua orang abdi kesayangannya yang bernama Sabda Palon dan Naya Genggong.

Dua orang abdi yang terkenal punya kelebihan dan sakti mandraguna itu tidak mau tunduk pada musuhnya dan tidak mau masuk Islam. Ia lalu berkata “ Saya dan adik saya lebih baik berpisah dengan Sang Prabu Brawijaya V daripada memeluk agama Islam, karena saya adalah Danhyang (Penunggu) Tanah Jawa, biarlah adik aya Naya Genggong ke Bali dan Saya (Sabdo Palon) ke Madura “

Berdasarkan kisah sejarah tersebut, di sekitar lokasi Situs Beteng banyak ditemukan beberapa peralatan (artefak) benda-benda kuno dan pusaka di antaranya :

1.Pada tahun 1956 Bapak Sukadi menemukan tombak pusaka di lokasi Situs Beteng dalam keadaan  berdiri tegak membentuk sudut 45 derajat

2.Pada tahun 1958 Bapak Mat Salam mendapatkan keris pusaka luk sembilan di atas dapur yang masih menyala setelah peringatan 1 Syuro

3.Pada tanggal 26 Mei 1961 ditemukan batu lumpang di areal sawah Bumisara dengan  ukuran besar, jarak dari lokasi Situs Beteng sekitar 500 meter yaitu di sebelah selatan Puskesmas Sidomekar Semboro

4.Pada tanggal 5 Juli 1991 ditemukan batu lumpang ukuran besar, jarak dari lokasi Situs Beteng sekitar 100 meter

5.Tanggal 2 Agustus 1991 ditemukan lagi 2 buah batu pipisan dan 1 buah batu gunjik di  pekarangan rumah Bapak Sarino, jarak dengan lokasi Situs Beteng sekitar 300 meter

6.Tanggal 23 Desember 1994 didapatkan lagi sebuah batu pipisan dan batu gunjik di  gumuk tegalan Bapak Saminto, jarak dengan lokasi Situs Beteng 80 meter

7.Pada tahun 1995 ditemukan sebuah batu akik (batu mulia) berwarna merah di lokasi Situs Beteng.

Selain itu banyak juga ditemukan pecahan-pecahan keramik, kendi terakota khas Majapahit dan mata uang logam Cina di dalam areal Situs Beteng dan lokasi sekitarnya.

Banyak peninggalan yang pelan-pelan raib digondol maling, atau dibawa orang untuk berbagai keperluan serta berada di tangan para kolektor. Sangat disayangkan sekali perhatian Pemkab Jember dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata atau instansi terkait, karena tidak ada tindakan konkrit dalam menyelamatkan Situs Beteng dan situs-situs lainnya. Semoga tindakan kami dan aspirasi dari Forkom Bhattara Saptaprabhu dapat didengar, dan menyadarkan masyarakat Jember, karena tanggung jawab pelestarian warisan nenek moyang itu ada pada generasi sekarang dan generasi yang akan datang.

13876375921399810639
13876375921399810639

13876376091198271370
13876376091198271370

13876386871024211380
13876386871024211380

1387637632761125566
1387637632761125566

KONTEN MENARIK LAINNYA
x