Mohon tunggu...
Wikan Widyastari
Wikan Widyastari Mohon Tunggu... A proud mom of 3

Ibu yang bangga dengan 3 anaknya. Suka membaca, menulis,nonton film, berkebun. Memiliki Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini TPA, KB dan TK Islam Widya Kusuma. Penggiat Komunitas Sosial Lingkar Bunda. Ketua @GenamJOG.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Jadilah Orangtua "Tegelan" untuk Balita Anda

28 September 2020   05:05 Diperbarui: 28 September 2020   05:08 90 3 0 Mohon Tunggu...

Siapa sih yang tidak meleleh melihat lucunya anak balita? Muka manisnya yang tanpa dosa, kecerdasannya yang berkembang begitu cepat, membuat kta bangga dan terpana. Tawanya yang renyah, sungguh membuat hati dipenuhi cinta dan sayang. Pengin rasanya memeluk terus-terusan, menciuminya, memenuhi semua keinginanannya, permintaannya, memanjakannya, melimpahinya dengan semua yang kita punya.

Well, anak-anak memang membutuhkan pelukan dan kasih sayang agar bisa bertumbuh dengan sehat baik jasmani maupun rohaninya. Anak-anak  yang mendapat cukup kasih sayang, pelukan dari orangtuanya akan tumbuh  menjadi pribadi yang tenang, mampu mengelola  emosinya, meningkatkan kecerdasan, meningkatkan imunits tubuh,dan banyak lagi manfat lainnya bagi kesehatan anak. Pelukan juga akan memapu menenangkan anak yang sedang tantrum. 

Di usia balita ini, anak-anak juga mulai punya suka menjelajah, meniru dan memiliki banyak keinginan dan kemauan. Pasti banyak diantara kita mengalami, anak-anak pengin beli ini dan itu, lalu kalau keinginannya tak dipenuhi, akan menangis. Kadang bahkan ada yang mengamuk, atau berguling-guling sambil menagis menjerit-jerit. 

Tak jarang itu dilakukan di toko atau mall, atau dimana saja. Sehingga orangtua cenderung menuruti, karena malu dilihat orang, tidak tega , atau tak tahan mendengar rengekannya.  

Ketika anak saya masih usia TK, karena TK nya di kampung, dan banyak penjual mainan dan makanan di sekitar TK, maka dia tiap hari minat dibelikan ini dan itu, lalu menangis berguling-guling. Banyak orangtua lain yang melihat dan bilang, " ah, cuma mainan murah bu, belikan saja, kasihan itu lo, anaknya sampai nagis kaya gitu" Beberapa mengatakan saya pelit dan tegelan sama anak. Tapi saya tak bergeming. Saya biarkan dia menangis sampai capek dan akhrinya berhenti. 

"Perang" ini berlangusung cukup lama. Tidak hanya di sekolah. Di rumah dia juga suka nangis menjerit-njerit jika kemauannya tak turuti. Biasanya sya hanya mengunci diri di kamar, jika sudah merasa kewalahan, dan saya baru keluar ketika dia sudah tenang dan meminta maaf. "Perang" ini mereda seiring berjalannya waktu, butuh beberapa tahun untuk sampai pada tahap. Dia tak pernah lagi meminta barang yang "tidak berguna". Dia tak pernah meminta sesuatu dua kali. 

Sekali meminta dan tidak saya turuti, tentu dengan diskusi, kenapa permintaannya tidak saya turuti, alasan yang masuk akal bagi dia Maka tidak tak pernah mengulang permintaannya. 

Dan ketika dia sudah bekerja, sudah setahun ini sejak dia lulusm kuliah, dan memiliki penghasilan sendiri, dia juga tak pernah puya keinginan untuk belanja barang-barang konsumtif, membeli baju atau apalah. 

Secara disiplin, setiap habis gajian, dia pasti akan menyisihkan sebagian dari gajinya untuk dikirim ke rek saya, ke rek adiknya, katany buat uang jajan adik, ke rek tabungan, yang tak bisa ditak atik, dan zakat penghasilan. Saya bersyukur bahwa dulu saya "tega" membiarkan dia menangis berguling-guling, dan tak peduli pada apa kata orang.

Anak-anak, memiliki kecerdasan yang sering orangtua tak paham. Anak-anak niteni (bhs Jawa), bahwa jika mereka menginginkan sesuatu dan tak dikabulkan, maka dengan senjata menangis atau mengamuk, ornagtua lalu akan menuruti kemauannya. Maka senjata ini akan selalu mereka keluarkan untuk menekan orangtua agar menuruti kemauan mereka. 

Jika hal ini dibiarkan berlanjut, maka perilaku ini akan terbawa sampai mereka remaja. Dan setelah remaja, akan makin sulit bagi orangtua untuk mengatur anaknya. Anak-anak menjadi anak yang egois, tidak peka, dan tidak bisa memahami situasi orangtua. Mereka juga cenderung tidak menghargai barang yang mereka miliki. Bahkan pada kasus ekstrim, ada anak yang memukuli bahkan membunuh orangtuanya ketika keinginanya tidak dipenuhi. Mengerikan bukan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN