Mohon tunggu...
Wijatnika Ika
Wijatnika Ika Mohon Tunggu... Penulis - When women happy, the world happier

Mari bertemu di www.wijatnikaika.id

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Bertani Asyik Tanpa Takut Kulit Bersisik

9 November 2018   20:08 Diperbarui: 10 November 2018   01:16 998
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Para petani perempuan memanen padi dengan gambira di Banjit, Way Kanan, Lampung. Foto: Rinto Macho

Mas Har, begitulah aku menyapanya mulai bercerita:

"Saya ini dari keluarga miskin di Sragen, Jawa Tengah. Ayah saya meninggal waktu saya masih kecil. Saya punya dua orang adik, yang adik satunya hasil dari pernikahan Ibu saya dan suaminya yang sekarang. Hidup saya ini susah dari kecil. Bahkan sampai usia saya 33 tahun rumah Ibu saya itu yang paling jelek di kampung kami. Saya juga sering lari terbirit-birit kalau lihat mantan pacar saya, karena saya malu jadi petani," Mas Har memulai pembelajaran dengan menceritakan masa kecilnya. Cerita yang sebenarnya telah dia tulis di beberapa status di akun Facebook miliknya.

Aku tersenyum kecut. Ya, sejak dulu profesi petani memang selalu dipandang rendahan bahkan si petani seringkali merasa rendah diri jika membandingkan dirinya dengan orang lain yang berprofesi bukan sebagai petani. Seakan-akan menjadi petani merupakan kutukan takdir.

Dengan sepasang mata sayu seakan-akan sedang menyaksikan layar bioskop yang menampilkan kehidupan masa kecilnya, ia menceriakan tentang mimpi-mimpi masa kecilnya. "Saya ini kutu buku dan sangat suka berkhayal menjelang tidur," ujarnya dengan senyum malu, sembari memilin-milin rambut gimbalnya yang kini diurainya.

Katanya, sejak kecil ia suka berkhayal menjadi orang kaya. Khayalan itu dipacu kesulitan hidup yang dialaminya sebagai orang miskin. Dalam khayalannya ia memimpikan rumah megah, mobol Honda Jazz, keliling berbagai tempat indah di penjuru dunia, bekerja sebagai pemandu wisata, hingga memiliki istri orang asing. Kebiasaan mengkhayal berlanjut hingga ia remaja. Seperti berkhayal bertemu musisi idolanya yaitu Slank untuk berfoto dan membuat lagu bersama.

BACA JUGA: Bertani Mudah dan Murah ala Hars Garden

Dalam mewujudkan mimpinya itu, lelaki berusia 39 tahun ini mengaku pernah menjalani berbagai profesi mulai dari musisi kelas kampung yang tampil di setiap acara hajatan, pengamen di bis kota dan kereta, pekerja di pabrik tahu di Jakarta, penebang kayu di rawa-rawa di pedalaman Kalimantan hingga terserang malaria, buruh tani di perkebunan sawit, kerani yang korup hingga penjual narkoba.

"Saya ke Bali ini karena tertarik dengan tawaran memelihara lima puluh ekor sapi dengan lahan yang sangat luas, sampai puluhan hektar. Saya hitung dalam dua tahun saya bisa kaya raya. Tapi perkiraan saya meleset dan akhirnya saya bekerja sebagai gardener di Jogja Kafe di kampung sebelah itu.

Gaji pertama saya waktu itu satu koma lima juta, sudah besar untuk ukuran waktu itu," ujarnya seakan sedang mentertawakan masa lalunya yang selalu dianggapnya sebagai jalan yang memang telah Tuhan sediakan untuknya agar sampai ke posisinya yang sekarang.

"Saya itu dulu perokok berat. Gaji saya sebagai gardener itu 1.5 juta. Akhir bulan hanya tersisa 500ribu. Waktu itu umur saya 29 tahun dan saya berpikir mau jadi apa saya kalau uang hasil bekerja habis untuk rokok. Akhirnya saya putuskan berhenti merokok dan uang 1 juta itu saya tabung. Saya bukan tabungan di BRI. Setelah 5 bulan saya punya tabungan 5 juta dan mulai menyewa lahan untuk membuat kebun milik saya sendiri. Itulah cikal bakal Hars Garden yang bisa kamu lihat sekarang," ujarnya dengan mata berbinar.

Wah! Keren sekali lelaki ini dapat berhenti merokok total demi mewujudkan mimpinya untuk memiliki lahan pertanian sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun