Mohon tunggu...
Wijatnika Ika
Wijatnika Ika Mohon Tunggu... Penulis - When women happy, the world happier

Mari bertemu di www.wijatnikaika.id

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Senyum Bahagia Buruh Bangunan Sebagai Energi Baik Kehidupan

15 Agustus 2018   16:43 Diperbarui: 15 Agustus 2018   16:48 807
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Buruh bangunan atau pekerja sektor konstruksi (sumber: kumparan.com)

Si lelaki yang menghitung uang hanya tersenyum senang kemudian menarik nafas dan menghembuskannya pelan. "Istri saya akan lahiran anak kedua, Kang. Jadi saya harus hemat biar bisa beli keperluan bayi dan ibunya. Maklum lah sekarang semua serba mahal!" Jawabnya, dengan sepasang mata yang memancarkan sinar kebahagiaan dan harapan.

Sontak rekan-rekannya memberinya ucapan selamat. Beberapa diantara mereka ada yang menonjok bahunya pelan atau menepuk-nepuk pundaknya. Kebahagiaan terpancar dari mata mereka yang lelah oleh beban pekerjaan, sekaligus rindu tertahan pada keluarga. Kulihat sepasang mata si lelaki berkaca-kaca, entah karena bahagia atau uang tabungannya yang belum cukup.

"Saya juga nih, anak saya mau masuk SD. Dia bilang mau dibelikan tas princess biar semangat sekolah. Saya bilang nunggu bapak gajian ya, dan gajian bulan ini akan saya belikan tas princess untuk si Eneng," ujar lelaki lain yang tampak lebih muda. Ia pun bercerita bahwa meski sangat rindu pada anak istrinya di rumah, ia harus menahannya. Bahkan ia harus berhemat berkali-kali lipat karena anak pertamanya akan masuk sekolah.

"Meski harus kerja jauh dan rendahan gini, alhamdulillah masih bisa kerja halal. Insya Allah berkah buat saya dan keluarga," katanya lagi yang diaminkan rekan-rekannya. Kemudian kulihat mereka tertawa-tawa saat menyaksikan sesuatu di ponsel si pemuda, mungkin  video anak yang diceritakan. Dari tempatku duduk, aku hanya bisa mengaminkan doa mereka semua karena hanya itu yang mampu kulakukan.  

***

Kita seringkali terkagum-kagum dengan bangunan pencakar langit yang berdiri kokoh, jumawa dan menantang langit dengan gagahnya. Seakan-akan ia serupa pepohonan keramat berusia ribuan tahun yang akar-akarnya jauh menghujam bumi, sementara tubuhnya dengan gagah mencapai langit yang tinggi, seperti hendak menghadiri perjamuan dengan Tuhan.

Bangunan-bangunan tinggi nan jumawa tersebut bukanlah semacam Candi Prambanan yang konon dibangun hanya dalam semalam saja. Melainkan merupakan hasil peluh ribuan pekerja kasar yang sering kita sebut buruh atau kuli. 

Mereka bekerja menantang maut, terbakar matahari, bahkan kadang sembari menahan dingin dan kantuk jika kebagian shift malam. Upah mereka tak seberapa, mungkin tak cukup untuk sekedar membeli sepatu  bermerak ala anak millenial.

Tetapi, pancaran mata dan senyum mereka sungguh penuh energi. Lembar-lembar rupiah yang mereka kumpulkan dengan mempertaruhkan nyawa bisa jadi merupakan penyambung hidup keluarga di kampung halaman. 

Tiga apartemen yang dibangun di sekitar tempat tinggalku itu merupakan bangunan mahal yang hanya mampu diakses mereka yang berduit. Mungkin para mahasiswa dari luar daerah yang akan kuliah di kampus bergengsi seperti Universitas Indonesia, tempat anak-anak muda berotak cemerlang ditempa sebagai calon pemimpin bangsa masa depan.

Saat bangunan selesai, para buruh bangunan itu akan kembali ke kampung halaman atau mengerjakan bangunan pencakar langit yang lain. Mereka tak akan pernah sekalipun memiliki kesempatan bermalam di didalamnya, menikmati hasil karya mereka sendiri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun