Mohon tunggu...
Wiena Amalia Salsabilla
Wiena Amalia Salsabilla Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Unpad 2020

Menulis dari yang terlihat dan terdengar untuk dilihat, didengar, dan dirasakan.

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Seonggok Kisah dari Mereka yang Terhalang Jarak dengan yang Tersayang di Hari Lebaran

10 Mei 2022   20:40 Diperbarui: 12 Mei 2022   11:43 696
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Suasana lengang bus yang disopiri Jajang dengan tiket bus seharga 100 ribu rupiah per penumpang. (FOTO: Wiena Amalia Salsabilla)

Jajang (42), sopir bus di Terminal Cicaheum Bandung yang berasal dari Kota Sumedang. (FOTO: Wiena Amalia Salsabilla).
Jajang (42), sopir bus di Terminal Cicaheum Bandung yang berasal dari Kota Sumedang. (FOTO: Wiena Amalia Salsabilla).

Sopir bus di Terminal Cicaheum Bandung ini harus merayakan Idul Fitri jauh dari kampung halaman. Dengan berat hati, Jajang harus menahan rindu seminggu lagi demi bisa bertemu anak dan istri. Ia mengaku merasa sedih tatkala mengingat keluarganya yang jauh di sana.

"Sedih takbiran di kampung orang. Ingat sama anak-istri. Orang lain mah pada kumpul, kita diam di terminal," ujar pria berusia 42 tahun ini.

Tak berhenti di situ, di samping memikirkan keluarganya, dalam menyambut Hari Raya, nyatanya Jajang masih harus berkutat dengan pekerjaannya. Memikirkan setoran yang harus masuk tidak peduli meski bus yang ia sopiri sepi.

Sepinya bus terlebih di masa pandemi saat ini tak jarang membuat Jajang ketar-ketir mencari uang demi menutupi biaya sewa busnya.

Suasana lengang bus yang disopiri Jajang dengan tiket bus seharga 100 ribu rupiah per penumpang. (FOTO: Wiena Amalia Salsabilla)
Suasana lengang bus yang disopiri Jajang dengan tiket bus seharga 100 ribu rupiah per penumpang. (FOTO: Wiena Amalia Salsabilla)

"Kan ini mobilnya mobil setoran. Kalau ada lebihnya, ya kita dapat (uang). Kalau kurang, ya kita nombok. Kalau nombok, harus nyari (uang) lagi. Jadi utang. Apalagi musim (pandemi) kaya gini. Setornya juga udah dua juta sekarang, tapi muatan gak ada," tutur Jajang.

Dalam menyambut Hari Kemenangan, pada akhirnya, pria yang sudah menjadi sopir bus selama sepuluh tahun ini hanya bisa mengharapkan hari esok yang lebih baik lagi.

"Cuma berharap besok-besok terus, barang kali ada uang setoran. Gak ada sekarang, mudah-mudahan besok ada. Gitu terus," ucap pria asal Sumedang tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun