Mohon tunggu...
Bunda Widya
Bunda Widya Mohon Tunggu... Lainnya - Ibu Rumah Tangga

Pensiunan. Bergabung di Kompasiana 10 Mei 2013. Nenek seorang Cucu, penggemar setia Timnas Garuda dan Manchester United.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi: Kafir

4 Juli 2020   15:24 Diperbarui: 4 Juli 2020   15:34 180 21 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi Foto : NU.or.id

"Kamu Aku ciptakan semata mata hanya untuk mengabdi kepadaKu, kenapa kamu takut kepada nerakaKu? Kenapa kamu mendambakan sorgaKu?" begitu SabdaNya. 

Aku hanya  tertunduk terpaku dengan tatapan mata redup menyembunyikan malu. 

Saat itu aku tak berani beradu pandang dengan Keramahan TatapanNya.  Saat waktu bergulir begitu cepat sehingga aku tidak sempat melipat perbekalan pahala atau rongsokan dosa, aku sudah bersiap akan menerima hardikanNya. 

Namun ternyata Dia tetap setia menyapaku setiap pagi dan petang dan setiap sepertiga malam. CahayaNya menembus setiap relung hatiku.

Saat masih duduk memeluk lutut aku mencoba mencari jawaban pertanyaan nuraniku. Ketika terusik sanubari menggugat jati diri. 

Ketika terusik relung terdalam hatiku. Terusik lalu memberontak melawan arus perlawanan. 

Aku berusaha bertahan memegang kendali iman. Munafik dan kekufuran selalu mengintai di lobang pintu hatiku. Jangan mencoba berhianat dari Kasih SayangNya. 

"Hai kamu! Jangan main-main dengan kemurtadan. Kafir itu karena kamu memelihara kufur. Lihatlah iblis saja mengakui Aku Ada. Tiada sekutu BagiKu." 

Aku terperangah penuh dengan harapan yang kembali berbusa. Jangan sampai busa-busa itu tertiup angin dan ditelan awan. 

Aku harus tengadah memohon dengan doa kepada Dia yang keberadaanNya tiada sekutu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan