Mohon tunggu...
Widz Stoops
Widz Stoops Mohon Tunggu... Animal Lover

Smile! It increases your face value.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sosbud | “Love Must Go On”

23 Maret 2020   04:52 Diperbarui: 23 Maret 2020   06:43 191 28 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sosbud | “Love Must Go On”
unsplash.com/@tomthephotographer

Tidak bisa dipungkiri kalau ciptaan Tuhan yang satu ini memang hebat! Corona virus atau punya nama gaul si COVID-19 memang telah membuat dunia beserta isinya bertekuk lutut. Tidak pandang bulu!

Tapi jangan salah ceritaku kali ini bukanlah untuk membahas topik yang pandemik itu lho, karena toh cerita COVID-19 tersebut sudah banyak berseliweran di Kompasiana, mulai dari yang masuk kategori headline, terpopuler, nilai tertinggi, pilihan bahkan yang tidak terpilih sekalipun.

Sampai di sini, masih tertarik untuk baca ceritaku, gak? Yuk, dilanjut.

Dampak dari COVID-19 membuat kantorku sepi. lobby ditutup. Customer yang datang dibatasi dan itupun harus berdasarkan appointment melalui health screening sebelumnya.

Pemerintah Amerika memberi ultimatum setiap perkumpulan tidak boleh lebih dari sepuluh orang, mengakibatkan jumlah karyawan di kantor cabangku menyusut menjadi delapan orang karena sebagian memilih bekerja dari rumah.

Otomatis batasan tamu yang dapat di layani hanya dua orang saja untuk setiap appointment-nya.

Pagi itu telpon di mejaku berdering, ada telpon masuk yang ditransfer oleh Customer Service. Ternyata  berasal dari sepasang sejoli yang sedang putus asa karena pesta perkawinannya harus dibatalkan sehubungan dengan pandemic COVID-19.

Sebetulnya mereka sudah mendapat lisensi perkawinan dari Clerks Of Circuit Court , kalau di Indonesia barangkali setara dengan Catatan Sipil, jadi tinggal melakukan upacaranya saja guna mendapatkan sertifikat perkawinan.

Bagi mereka tanggal yang telah ditentukan untuk upacara perkawinan tersebut mempunyai arti tersendiri dan mereka benar-benar menginginkan tanggal itu tercantum secara resmi di dalam sertifikat perkawinannya.

Untuk melangsungkannya di Catatan Sipil, rasanya tidak mungkin, karena kantor-kantor pemerintahan semua ditutup untuk umum dan hanya melayani kegiatan yang sifatnya mendesak saja.

Kebetulan di kantor aku juga merangkap sebagai seorang Notary Public (Notaris) yang kalau di negara Paman Sam, penjabaran dari seorang Notaris kira-kira seperti ini :

Seorang pejabat publik yang ditunjuk dan ditugaskan oleh Gubernur yang fungsinya adalah untuk mengambil sumpah, mengambil pengakuan atas perbuatan dan instrumen lainnya, untuk membuktikan atau mengesahkan fotokopi dokumen-dokumen tertentu dan untuk melakukan tugas-tugas lain yang ditentukan oleh hukum”

Terus terang selama menjadi Notaris aku belum pernah mendapat permintaan untuk menikahkan seseorang. Di samping itu aku juga ragu, apakah bisa dan diperbolehkan?

Setelah mengecek di buku peraturan yang ada, ternyata hanya ada tiga negara bagian dimana Notaris dapat bertindak-kalau di Indonesia-sebagai Penghulu, yaitu Florida, Maine dan South Carolina.

Nah, kebetulan saat ini aku sedang bermukim di Florida. Jadi jawabannya adalah bisa!

Sebelum membuat janji dengan mereka untuk datang ke kantorku hari itu, aku harus mengajukan pertanyaan kesehatan yang telah ditentukan oleh Pemerintah kepada kedua mempelai, sebagai berikut :

1. Apakah anda pernah bepergian dengan kapal pesiar selama dua minggu terakhir?
2. Apakah anda pernah bepergian ke luar negeri selama dua minggu terakhir?
3. Apakah anda mempunyai gejala flu?
4. Apakah anda menderita infeksi pada saluran pernafasan?
5. Apakah anda pernah berada di sekeliling orang yang terkena COVID-19?

Kedua mempelai menjawab ‘tidak’ untuk semua pertanyaan di atas.

Aku langsung melihat agendaku hari itu, jam sebelas pagi adalah waktu yang ditentukan dengan catatan pada saat tiba, suhu tubuh mereka harus memenuhi syarat yang telah ditentukan.

Tepat waktu mereka datang. Mempelai wanita terlihat cantik dengan gaun pengantin putih dan buket bunga segar ditangannya. Sang mempelai pria  pun terlihat tampan dengan stelan jasnya. Pemandangan di kantor menjadi luar biasa pagi itu.

Setelah mengecek hasil suhu tubuh mereka yang sempurna, akupun mempersilahkan mereka masuk.Yang lucu, kalau biasanya pengantin yang gelisah karena akan berucap ijab kabul tapi dalam hal ini justru aku sebagai ‘Penghulu’yang gelisah karena tak terbiasa.

Kuperiksa semua dokumentasi yang mereka bawa, ada satu yang kurang. Saksi. Situasi tidak memungkinkan mereka membawa dua orang saksi.

Akhirnya aku memohon dua orang rekan kerjaku untuk menjadi saksi. Mereka bersedia.

Kami menggunakan area lobby untuk melangsungkan pernikahan. Aku meminta kedua mempelai dan saksi untuk berdiri memulai upacara.

Sehubungan dengan privasi, selanjutnya aku akan menyebut nama mempelai perempuan Jane Doe dan laki-laki John Doe dalam ceritaku di sini.

Pertama aku mengatakan, “Dearly beloved, we are gathered here today to join this man and this woman in (holy) matrimony”

Yang artinya kira-kira seperti ini “Saudara-saudaraku yang tercinta, kita berkumpul di sini pada hari ini untuk menyatukan pria dan wanita ini dalam ikatan perkawinan (suci)”

Kemudian perlahan kumenghadap ke mempelai laki-laki dan bertanya, “John Doe, do you take this woman to be your wife to be together in (holy) matrimony to love, honor, comfort her and keep her in sickness and in health, and forsaking all others, for as long as you both shall live”

Artinya kira-kira, “John Doe, apakah anda mengambil wanita ini menjadi istrimu untuk bersama dalam perkawinan (suci) untuk mencintai, menghormati, menghiburnya dan menjaganya dalam keadaan sakit dan sehat, dan mengesampingkan semua yang lainnya, selama kalian berdua akan hidup?”

John Doepun menjawab,”I do”

Setelah itu aku berpaling ke arah Jane Doe dan bertanya, “Jane Doe, do you take this man to be your husband to be together in (holy) matrimony to love, honor, comfort her and keep him in sickness and in health, and forsaking all others, for as long as you both shall live”

Jane Doe, apakah anda mengambil laki-laki ini menjadi suamimu, untuk bersama dalam perkawinan (suci) untuk mencintai, menghormati, menghiburnya dan menjaganya dalam keadaan sakit dan sehat, dan mengesampingkan semua yang lainnya, selama kalian berdua akan hidup?”

Jane Doepun menjawab,”I do

Aku lalu memerintahkan mereka,”Repeat after me” atau “Ikuti setelahku”

Sehubungan pernyataannya cukup panjang, maka aku bagi pernyataan tersebut menjadi beberapa kalimat dengan jeda di setiap kalimat guna memberikan waktu kepada mempelai pria mengikuti ucapanku.

“I, John Doe, take you Jane Doe to be my wife... To have and to hold from this day forward... For better, for worse...For richer, for poorer... In sickness and in health... To love and to cherish.. ‘Till death do us part”

Artinya kira-kira seperti ini “Aku, John Doe, mengambil Jane Doe menjadi istriku ... Untuk memiliki dan mempertahankan mulai hari ini dan seterusnya... Untuk lebih baik, lebih buruk ... Untuk lebih kaya, untuk lebih miskin ... Dalam sakit dan sehat. .. Untuk mencintai dan untuk menghargai .. 'Sampai maut memisahkan kita ”

Setelah itu akupun melontarkan pernyataan untuk diikuti oleh Jane Doe.

I, Jane Doe, take you John Doe to be my husband... To have and to hold from this day forward... For better, for worse...For richer, for poorer... In sickness and in health... To love and to cherish.. ‘Till death do us part”

“Aku, Jane Doe, mengambil John Doe menjadi suamiku ... Untuk memiliki dan mempertahankan mulai hari ini dan seterusnya ... Untuk lebih baik, lebih buruk ... Untuk lebih kaya, untuk lebih miskin ... Dalam sakit dan sehat. .. Untuk mencintai dan untuk menghargai .. 'Sampai maut memisahkan kita ”

Selesai keduanya mengucapkan pernyataan itu, aku meminta mempelai pria menyematkan cincin di jari mempelai wanita dan memerintahkannya mengikuti perkataanku.

“I give you this ring as a token and pledge of our constant faith and abiding love”

“Kuberikan kau cincin ini sebagai tanda dan janji dari kekuatan iman dan cinta abadi kita"

Hal yang sama juga aku perintahkan kepada mempelai wanita.

Sesudahnya aku meminta kedua mempelai untuk saling berhadapan dan berpegangan tangan serta mengatakan kepada kedua mempelai,
By virtue of the authority vested in me under the laws of the State of Florida, I now pronounce you husband and wife. The bride and groom may now kiss”

“Berdasarkan wewenang yang diberikan kepadaku di bawah hukum Negara Bagian Florida, sekarang aku menyatakan kalian sebagai suami dan istri. Pengantin pria dan wanita sekarang boleh saling mencium ”

Terdengar tepukan riuh dari rekan kerja yang lain di dalam kantor. Saat mereka berciuman mesra, entah mengapa aku menitikan air mata.

Air mata bahagia sekaligus lega karena semuanya telah berjalan dengan lancar meski masih tidak percaya kalau hari ini aku telah menyatukan dua sejoli dalam satu ikatan perkawinan.

Dalam hati aku bergumam, “Walau COVID-19 menyerang, love must go on



Widz Stoops

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x