Mohon tunggu...
Widi Kurniawan
Widi Kurniawan Mohon Tunggu... Human Resources - Pegawai

Pengguna angkutan umum yang baik dan benar | Best in Citizen Journalism Kompasiana Award 2022

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Premium, "Si Antagonis" yang Tak Jua Tamat Riwayatnya

6 November 2018   20:54 Diperbarui: 6 November 2018   21:11 412
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Pertalite Mbak, dua puluh ribu," ucap saya.

"Premium Mas?" dia malah balik nanya, pertanyaan yang berbumbu stereotype.

"Pertalite Mbak..." ulang saya, dan baru setelahnya ia seperti tersadar dari lamunan dan segera mengambil gagang selang warna hijau yang menandakan Pertalite.

Ya memang, saya sudah kadung cocok dengan Pertalite. Meskipun motor "senior" (saya tidak menyebutnya dengan "tua"), tapi rasanya saya sudah lupa kapan terakhir kali mengisinya dengan Premium. Bahkan sesekali saya pun mengisinya dengan Pertamax. Mungkin inilah yang menyebabkan sepeda motor kesayangan keluarga saya ini tetap greget dan masih bisa "bernafas panjang" hingga kini, di saat teman-teman seangkatannya sudah hilang keberadaannya atau justru beralih fungsi jadi mesin pendorong gerobak dan sebagainya.

Menakar eksistensi Premium
Premium memang sudah kadung lekat dalam nadi kehidupan masyarakat. Tapi dalam tahun-tahun belakangan, terutama dengan hadirnya Pertalite, Premium sudah mulai ditinggalkan. Disinyalir eksistensinya mulai memudar.

Harus diakui, sebagian masyarakat sudah mulai teredukasi bahwa bahan bakar jenis Premium dengan kandungan RON 88 sudah ketinggalan jaman dan berdampak buruk bagi mesin kendaraan. Juga terhadap lingkungan, Premium menghasilkan gas buang yang amat buruk dibandingkan jenis BBM lainnya. Tapi ingat, faktanya belum semua lapisan masyarakat sadar dan mau tahu bahwa di balik harga murah Premium terdapat ancaman terhadap mesin kendaraan dan isi dompet kita.

Jika diibaratkan, Premium seharusnya menjadi tokoh antagonis yang mesti dilenyapkan. Sayangnya, ada bagian dari diri kita yang memang senang dengan drama, makanya si tokoh antagonis ini tidak juga tamat riwayatnya. Ternyata masih banyak juga penggemar Premium garis keras yang masih merasa membutuhkan kehadirannya. Ya, tentu saja karena harga jualnya yang paling murah dibandingkan BBM lainnya.

Tapi sampai kapan ya?

Padahal jika kita mau mencari informasi dan berpikir jernih, harga murah Premium sebenarnya tidaklah sebanding dengan dampaknya. Harga per liter memang lebih murah, tetapi sebenarnya kendaraan akan lebih boros dan beresiko dengan membengkaknya harga perawatan kendaraan.

Juga tidak bisa dipungkiri apabila keberadaan Premium akan selalu bersinggungan dengan ranah politik. Maka jika diibaratkan dalam sebuah status hubungan, bisa disebut "complicated". Terlihat sangat susah untuk berbuat "tega" melenyapkan Premium begitu saja. Meskipun di belahan dunia lainnya BBM dengan RON 88 sudah tinggal nama. Justru di negara kita saat ini seolah-olah Premium berada dalam posisi "dibiarkan mati pelan-pelan karena penuaan".

Pertamina yang semakin greget dengan ragam produknya (sumber foto: Kompas.com/Garry Andrew Lotulang)
Pertamina yang semakin greget dengan ragam produknya (sumber foto: Kompas.com/Garry Andrew Lotulang)
Edukasi dan faktor harga
Saat ini hal yang memang terus dikampanyekan Pertamina adalah edukasi tentang manfaat "naik kelas" dari Premium ke jenis BBM lainnya. Edukasi yang diharapakan bisa semakin meluas dan meresap hingga berbagai kalangan masyarakat, terutama di lapisan bawah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun