Mohon tunggu...
Widi Admojo
Widi Admojo Mohon Tunggu... Guru - Widiadmojo adalah seorang guru, tinggal di Kebumen

sedikit berbagi semoga berarti

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ekspansi Perempuan dan Penjajahan Dominasi Laki-laki

9 Maret 2020   14:28 Diperbarui: 9 Maret 2020   14:36 311
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sri Kandi adalah perempuan yang lihai dan memiliki kemampuan yang luar biasa dalam memanah. Sehingga ia diangkat sebagai salah satu senopati perempuan yang maju di medan perang.  

Ada juga Dewi Sembodro, Dewi Sri, Dewi Sinta dan lain sebagainya. Artinya dari dulu sebenarnya, tokoh wanita sudah dipopulerkan oleh para pengrakit seni yang luar biasa di negeri ini. Sehingga sebenarnya, masalah ekspansi wanita atau peran wanita dalam kehidupan sudah bukan barang baru.

Konflik berikutnya adalah konflik psikologis laki-laki.  Area psikologis laki-laki sebagai "the power man" rata-rata masih mendominasi para pria dan lelaki dalam berbagai bidang. Termasuk dalam keluarga, perkantoran, dan diberbagai ruang lainnya. 

Laki-laki masih tetap ingin sebagai raja, dan perempuan harus menjadi permaisurinya. Artinya, laki laki harus didepan dan perempuan dibelakangnya. Atau paling maksimal ada di samping kirinya. 

Problem paling berat barangkali bila ada konflik kepentingan di rumah tangga. Ekspansi perempuan bisa menjadi masalah serius. Karena laki-laki secara psikologis adalah raja di rumahnya. 

Bila mana dalam berbagai hal eksistensinya tergerus oleh peran dan kekuasaan wanita, maka problem psikologis ini dapat membahayakan dan mengancam keharmonisan keluarga.  

Sebut saja yang paling sederhana adalah kekuasaan dalam bidang ekonomi. Bila pendapatan ekonomi wanita di dalam rumah tangga lebih besar, maka secara psikologis ini dapat menggerus eksistensi laki-laki. Apalagi bila wanita menjadi pokok ekonomi dalam keluarga. 

Persoalan yang mengancamnya bagai "sumbu api" yang pendek. Tersentuh sedikit bisa terjadi kebakaran dan kehancuran. Laki-laki secara psikologis adalah pemenang. Ia ingin menjadi raja dimata anak, dimata istri, dimata mertua dan tetangga, dan kerabat lainnya. Ia tidak mau mendengar olokan bahwa dirinya adalah "pria lemah", pria yang ndompleng kehidupan wanita. 

Inilah yang kadang menjadi problem sehingga wanita juga merasa kawatir dan takut berkembang untuk berada di atas laki-laki. Takut mengerdilkan psikologis suaminya atau lelakinya. 

Sikap nrimo inilah yang menyebabkan wanita menjadi tidak maju tidak mau lanjut studi dan berkarir sepertia biasa saja kuatir nanti dipromosikan menjadi super tetapi menimbulkan masalah di rumah tangga.

Problem psikologis lainnya adalah "kesombongan baru" para perempuan atas kemampuan melakukan ekspansi gender ini. Perempuan menjadi tersanjung secara berlebihan karena secara kualitas baik ekonomi, intelektual, karir, dan potensi lainnya mampu mengimbangi kaum lelaki. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun