Mohon tunggu...
Aan Widhi Atma
Aan Widhi Atma Mohon Tunggu... Pegawai Negeri Sipil -

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Newmont 2038: Tantangan "Reklamasi Mental"

1 Maret 2016   19:19 Diperbarui: 5 Maret 2016   12:22 147
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Saya teringat akan cerita sahabat saya Mas Arif Rahman saat masih bersama di Pemkab Sumbawa Barat. Ia adalah mantan pegawai Newmont yang telah bekerja sekian lama. Kemudian ia pun beralih profesi menjadi seorang pegawai negeri sipil di Pemkab Sumbawa Barat. Ia pernah bercerita tentang kehidupan hedonis yang terjadi di tempat tinggalnya yaitu Jereweh. Rumah-rumah di Jereweh sekarang bertingkat dan bergarasi. Hampir seluruh kepala keluarga yang bekerja di Newmont memiliki taraf hidup yang meningkat dari sebelumnya. Alhamdulillah.

Namun ironis, besarnya gaji pegawai Newmont justru semakin memperbesar pengeluaran mereka. Belum sempat menyelesaikan rumah mewah, keinginan memiliki mobil pun datang menghampiri. Pemantiknya pun sederhana, dikarenakan tetangga sebelah rumah sudah mulai mencicil mobil. Belum habis cicilan mobil dilunasi mereka berlomba-lomba untuk membangun kos-kosan karena dinilai memiliki nilai aset yang tinggi demikian seterusnya. Saling bersaingnya keinginan antar tetangga menyebabkan kehidupan bermasyarakat menjadi tidak sehat. Atau dengan kata lain perilaku “hedonic treadmill” perlahan menggerogoti mereka. Ujung-ujungnya, pihak Bank-lah yang diuntungkan dengan perilaku tersebut, apalagi Bang Rentenir.

Cerita lain lagi. Suatu hari istri saya tengah berbelanja di pasar Taliwang. Ia pun menawar seemplok cabai kepada sang penjual karena ia merasa bahwa harganya terlalu mahal. Lantas, apa yang dikatakan penjual cabai  “Ibu, gak usah nawar lagi, ntar ada pegawai Newmont kok yang akan beli cabai kita” demikian katanya. Sontak istri saya pun kaget. Sebenarnya saya sudah sempat mendengar cerita serupa dari temen-temen kantor tetapi sedikit gak percaya. Eh, ternyata, istri sendiri jadi korbannya. Ya, sabar…sabar…

Lain lagi cerita unik dari pengalaman seorang mahasiswa saat acara Kopi Darat Newmont Bootcamp kemarin (14/02/2016) di Lombok Garden. Ia menceritakan bahwa susah sekali untuk memperoleh data penelitian dari masyarakat lingkar tambang. Ternyata usut-punya usut bahwa mereka terbiasa jika ada pegawai Newmont yang turun ke lapangan dan meminta data selalu membawa oleh-oleh yang berharga. Sementara sang mahasiswa yang meneliti ini tak punya ‘apa-apa’ untuk dibagikan. Sekali lagi budaya manja dan meminta kian merasuki mental masyarakat.

Dari beberapa cerita di atas sejenak saya merenung, ah..mungkin kondisinya tidak demikian jika saya langsung mendengarnya dari penduduk asli lingkar tambang seperti Maluk, Jereweh dan Sekongkang.

Mengukur Misi Kemandirian

Akhirnya, waktu yang saya tunggu pun tiba. Saya kebagian menginap di rumah penduduk di Desa Sekongkang. Kami bermalam di rumah Pak Kades yang kebetulan pernah bekerja di Newmont. Tak terelakkan diskusi tentang Newmont pun menjadi kian hangat. Lantas, sebagai orang yang penasaran saya pun mengajukan pertanyaan “Maaf Pak Kades, menurut Kelam (sapaan halus untuk orang yang lebih tua) perilaku apa yang berubah ketika Newmont hadir di tengah masyarakat Sekongkang? Beliau pun menceritakan bahwa yang paling mencolok adalah pola pengaturan keuangan yang konsumtif. Bisa jadi karena baru menerima gaji yang cukup besar ditambah dengan bonus yang berkali lipat jumlahnya membuat masyarakat memfokuskan belanja keluarganya kepada hal-hal yang bersifat materi dan sesaat. Contoh, rumah dibuat mewah dan bertingkat. 

Mobil menjadi hal yang wajib dimiliki bahkan ada yang lebih dari kebutuhan. Dan bisa dibedakan, mana rumah pegawai Newmont dan yang tidak. Sangat jarang yang mengalokasikan penghasilannya untuk membeli aset seperti tanah, kos-kosan, membuat toko dll. Jika disurvei, hanya ada 2 dari 10 orang yang sudah berprinsip kearah investasi. Dan, cerita tentang banyaknya pegawai Newmont yang terjebak hutang pun benar adanya. Mereka berani berhutang karena ada jaminan bonus yang cukup besar untuk menutupinya. 

Pertanyaan lanjutan pun saya lontarkan, apakah penduduk lingkar tambang sudah siap jika Newmont tidak beroperasi lagi?”. Beliau pun terdiam sejenak sembari berpikir. Melihat ekspresi itu, saya tidak yakin beliau mampu menjawab pertanyaan ini karena butuh penelitian yang mendalam untuk membuktikannya.

“Begini Pak”, sambil menghela nafas. Seketika ia pun langsung mengaitkan dengan kondisi ketika kahar (force majeure) PT. NNT sekitar bulan Juni 2014, yang menurutnya berdampak luas bagi perekonomian di Sumbawa Barat. Sebanyak 367 kontraktor lokal terkena imbasnya yang memaksa mereka menghentikan para karyawan. Orang tidak menyangka Newmont benar-benar berhenti beroperasi. Hampir sebagian pegawai Newmont yang ada di Sekongkang bingung dan hanya diam di rumah. Ingin kembali ke sawah, malu karena menganggap pekerjaan itu akan menurunkan wibawanya. Mau berbisnis, utang masih menggantung di rentenir. Dan yang lebih mengenaskan lagi, Maluk yang biasanya ramai saat itu sepi bagai kota tak berpenghuni. Ya, karena sebagian besar pemilik bisnis adalah orang luar KSB dan sebagian besar mereka kembali ke daerahnya.

Kalau boleh saya mengutip penjelasan Ketua forum komunikasi lingkar tambang, Anwar Hadi di www.beritasatu.com edisi Kamis, 26 Juni 2014, mengatakan bahwa kegiatan pertanian maupun perikanan di wilayah Sumbawa terhenti sejak NNT menyatakan kahar pada 6 Juni 2014. Hasil pertanian dan perikanan selama ini dipasok untuk kebutuhan katering di Newmont.  Anwar menjelaskan pihaknya bertindak sebagai pemasok atau suplier pangan bagi catering PT. NNT. Hasil pertanian seperti sayur mayur biasanya dipasok tiga kali sepekan yakni di hari Senin, Kamis dan Sabtu. Dia menyebut ada 14 jenis sayuran yang dikirim tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun