Mohon tunggu...
Weinata Sairin
Weinata Sairin Mohon Tunggu... Pemuka Agama - Teologi dan Aktivis Dialog Kerukunan

Belajar Teologia secara mendalam dan menjadi Pendeta, serta sangat intens menjadi aktivis dialog kerukunan umat beragama

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Merenungi Sabtu Sunyi

16 April 2022   17:10 Diperbarui: 16 April 2022   17:10 189 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ruang ibadah gelap|sumber: gksbstanjungbintangg.blogspot.com

MERENUNGI SABTU SUNYI

sabtu sunyi
sabtu sepi
hidup sunyi
dunia sepi
segalanya senyap
segalanya pengap harap
ada rasa pesimis
cemas
kecewa
putus asa
mengguncang
kencang
ada kebuntuan harapan
serasa mengoyak tubuh rapuh

sesudah Yesus
mati
diatas salib
murid-murid Yesus
hidup dililit sepi
ada duka lara
sedih perih
menghunjam dalam

murid-murid Yesus
takpernah mengira Yesus
akan mati
dengan cara hina
di bully
di cambuk
disakiti
dianiaya
bahkan dipaku
dikayu salib hingga maut merenggut

takpernah hidup dalam memori murid
Yesus mengenakan mahkota duri
darah mengucur
lambung yang terluka
murid-murid hidup dalam pemikiran yang jauh berbeda dengan Yesus
mereka berpikir
Yesus adalah hero
raja yang akan memerintah
seperti daud
di zaman baheula

di sabtu sunyi
ku bertelut di sekitar mimbar
ada ranting-ranting kering
menebar hening
umat bersama-sama
dalam ruang yang gelap dan hening
menghayati kesunyian
penuh khusuk
ada juga air mata menetes
mengingat karya keselamatan Allah yang terjadi
lewat derita salib dan kematian

manusia acap menghidupi ketiadaan
Yesus pada saatnya melewati ketiadaan itu
tatkala batu-batu besar
bergerak dan kubur itu takmampu menahan Yesus yang bangkit

pada saat sabtu sunyi
kita bersama
mengingat karya Allah yang luar biasa
dalam refleksi dan meditasi
dalam perspektif kematian Yesus
kita menanti
kebangkitanNya dengan penuh sukacita
sabtu sunyi
mengajak kita dalam sepi dan hening
dalam refleksi dan meditasi
mengingat karya keselamatan Allah lewat penderitaan Yesus Kristus.

Jakarta, 16 April 2022/pk.15.45
Weinata Sairin

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan