Mohon tunggu...
Weinata Sairin
Weinata Sairin Mohon Tunggu... Teologi dan Aktivis Dialog Kerukunan

Belajar Teologia secara mendalam dan menjadi Pendeta, serta sangat intens menjadi aktivis dialog kerukunan umat beragama

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Hidup yang Ditebus, Hidup yang Lurus

6 Maret 2021   09:20 Diperbarui: 6 Maret 2021   09:30 128 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hidup yang Ditebus, Hidup yang Lurus
https://perkarahati.com/2014/05/15/perumpamaan-sebuah-jalan-lurus/

HIDUP YANG DITEBUS,HIDUP YANG LURUS
Oleh Weinata Sairin

"Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin, dan segala dosamu seperti awan yang tertiup. Kembalilah kepada Ku sebab Aku telah menebus engkau!" (Yes. 44 : 22)


Allah yang dalam Perjanjian Lama (PL) dialami dan dikenal sebagai Allah yang bertindak proaktif dalam peristiwa pembebasan umat Israel dari perbudakan di Mesir, adalah Allah yang setia dan Allah yang mengasihi. Allahlah yang telah menetapkan Israel sebagai umat pilihan, yang melalui mereka bangsa-bangsa lain akan mengenal Allah Israel dan sekaligus percaya kepadaNya. Allah menetapkan strategi agar Israel sebagai umat pilihan tetap genuine dan steril dari pengaruh dunia sekuler dengan daya tariknya yang amat luar biasa pada waktu itu. Strstegi itu antara lain dengan menetapkan berbagai hukum dan peraturan yang akan menolong umat untuk survive dan tidak kehilangan identitasnya. Ada Dekalog, 10 perintah Allah yang mengatur dimensi vertikal dan horisontal dari pola relasi umat Israel. Ada kitab Imamat yang mengatur amat detil bagaimana kehidupan umat di zaman itu.

Namun sejarah umat Israel mencatat dengan gamblang sekali bahwa mereka gagal menampilkan diri sebagai "umat pilihan'". Mereka tak mampu memerankan diri sebagai "duta" atau "sales promotion" malah mereka tegiur dan tergoda dengan dunia sekuler di zaman itu yang relatif belum seheboh di zaman ini. Mereka  percaya dan menyembah dewa, Baal, mereka mekakukan berbagai tindakan yang bertentangan dengan hukum Tuhan. Dan kemudian Tuhan menghukum mereka, mereka berteriak minta tolong Allah menolong; dan pola perilaku dengan skema seperti itu yang selalu berulang dalam sejarah Israel.

Allah memilih Israel sebagai umat pilhanNya sesuai dengan "hak prerogatif" yang Ia miliki. Menurut Ulangan 7 : 6 -8 dst, Allah memilih umat Israel sebagai umat kesayanganNya bukan karena secara numerik ia mayoritas, tetapi karena Tuhan mengasihi bangsa itu dan memegang sumpahNya yang dulu sudah diikrarkan kepada nenek moyang mereka. Status umat pilihan ini terjadi karena insiatif Allah, bukan karena umat mendaftar, bukan karena perbuatan dan prestasi manusia. Konsep umat pilihan itu juga berkaitan erat dengan peristiwa pembebasan mereka dari perbudakan Mesir.

Kitab Yesaya Pasal 40 ini yang biasanya dalam studi Perjanjian Lama disebut Yesaya II (40-66) menyoroti berbagai peristiwa dalam angel akhir zaman pembuangan, yaitu sekitar tahun 540. Tema utama dalam bagian ini adalah pemberitaan bahwa pembebasan umat dari Babel segera terjadi dan Allah sendiri datang, bertindak untuk menebus mereka. Itu semua merupakan wujud bahwa Allah tidak apatis terhadap realitas yang tengah melilit umat pilihanNya. Allah berinsiatif, Allah bergerak, Allah melakukan sesuatu tindakan agar umat pilihanNya dapat tertolong.

Pada Pasal 44 : 22 diungkapkan kabar baik penuh sukacita dan perspektif masa depan yaitu bahwa Allah menghapus dosa dan pemberontakan umat seperti "kabut diterbangkan angin" dan dosa seperti "awan yang bertiup". Kabut tebal yang acapkali dalam penerbangan menimbulkan turbulensi, di ayat itu ditegaskan kabut itu luruh diterbangkan angin. Kabut setebal apapun tak mampu membendung kuasa ilahi. Dosa pemberontakan umat Israel dihapus oleh Tuhan dalam kasihNya dan peristiwa penghapusan itu yang di ibaratkan dengan "kabut yang diterbangkan angin". Dosa umat juga dihapus seperti awan yang tertiup.

Hal yang menarik adalah bahwa Allah mengundang dan mengajak umat untuk kembali kepada Allah karena Allah telah menebus mereka. Allah sebagai seorang Bapak meminta mereka kembali pulang, kembali ke rumah dan artinya bertobat serta fokus pada penyembahan kepada Allah tidak lagi backstreet, main mata dan atau selingkuh dengan dewa bangsa-bangsa yang dianggap lebih gagah, heroik, bisa dilihat. Penggunaan kata menebus pada ayat ini juga menarik karena Istilah itu dalam Perjanjian Baru dihubungkan dengan Yesus.

Allah selalu memanggil umatNya untuk kembali, mengubah arah, tidak lari dari rumah, tidak melenceng dari fokus utama. Mengapa umat harus kembali? Ya karena umat sudah mengalami pembaruan: dosa dan pemberontakan mereka sudah dihapuskan bahkan mereka sudah dtebus oleh Allah. Di dalam Perjanjian Baru Yesus lah yang memanggil umat untuk datang kepadaNya sang Penebus dosa. Di kayu salib Yesus menghapus dosa dan pemberontakan umat manusia. Umat harus hidup pada jalan lurus,jalan yang Allah sediakan, walau penuh bukitbatu dan tandus.

Kita semua tanpa kecuali pernah hidup dililit dosa, di cengkeram kuasa dosa, kita takluk dan tepenjara pada kuasa dosa dalam berbagai bentuk. Yesus memanggil kita "marilah kepadaKu.." (Mat 11 : 28) Ikuti panggilanNya dan bersujud kepadaNya. Dosa dan pemberontakan kita sudah dihapus, kita sudah ditebus. Diri kita tidak lagi berada dalam kuasa dosa. Kita sudah menjadi milik Kristus karena Dia sudah menebus kita. Ayo bekerja yang terbaik bagi banyak orang selama Tuhan belum "merecall" kita dari tugas di dunia fana. Mari hidup di jalan lurus, jalan penuh kasih sayang, jalan  
anti korupsi,anti diskriminasi, jalan anti kejahatan seksual,jalan pemajuan Ham, jalan damai sejahtera yang diberkati Allah. Dengan berjalan pada jalan lurus yang dipandu Yesus kita akan mampu melawan virus B117, menghadapi berbagai bencana yang mengguncang kehidupan kita!

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God Bless.

Weinata Sairin, Sabtu 6 Maret 2021

VIDEO PILIHAN