Mohon tunggu...
Yogi Setiawan
Yogi Setiawan Mohon Tunggu... Freelancer - Aku adalah

Pemuda yang penuh semangat, senang berbagi dan pantang menyerah. Mulai menulis karena sadar akan ingatan yang terbatas. Terus menulis karena sadar saya bukan anak raja, peterpan ataupun dewa 19.

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Besarnya Potensi Ekowisata di DSP Likupang

23 Februari 2022   22:02 Diperbarui: 23 Februari 2022   22:04 1161
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Jika mendengar kata Likupang, mungkin dulu belum banyak yang tahu. Sewaktu saya masih di Sekolah Dasar (SD) jika ditanya Sulawesi Utara, maka yang ada di pikiran saya yaitu Manado, Bunaken. Tetapi sekarang sejak menjadi Destinasi Super Prioritas (DSP), Likupang mulai dikenal. Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Likupang terletak di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara (North Sulawesi).

DSP Likupang memiliki keindahan alam yang luar biasa dan harus dijaga dengan baik. Pemandangan di bukit, pesisir pantai, dan alam bawah laut yang indah memberikan kebahagiaan bagi siapa saja yang melihatnya. Namun, bisakah keindahan ini dijaga dan terus dilestarikan?

Perhatikan Keseimbangan Alam dan Berdayakan Masyarakat Lokal

Menjadikan sebuah lokasi sebagai tempat pariwisata memang bisa mendatangkan banyak keuntungan, terutama dalam meningkatkan perekonomian. Namun seringkali keseimbangan alam kurang diperhatikan. Perusakan alam dan banyaknya sampah seringkali menjadi masalah bagi daerah wisata.

Desa Bahoi yang terletak di Kecamatan Likupang Barat bisa menjadi contoh bagaimana pengelolaan wisata yang memperhatikan lingkungan berbasis masyarakat. Di tahun 2003, wilayah ini ditetapkan menjadi Daerah Perlindungan Laut (DPL) melalui Perdes DPL. Dampak dari PDL terjadi peningkatan produksi perikanan dan  wilayah mangrove terjaga dengan baik.

Desa Bahoi sekarang menjadi salah satu desa ekowisata. Wisatawan bisa mengunjungi berbagai spot yang menarik seperti hutan mangrove, pantai pasir putih atau jika ingin melihat keindahan bawah laut, terdapat juga spot untuk snorkeling dan diving. Desa ini juga memiliki penampilan seni budaya, hasil kerajinan tangan dan homestay milik warga sekitar.

Pemberdayaan masyarakat lokal menjadi kekuatan dan kekhasan dalam pengembangan pariwisata. Pemberdayaan dan pelibatan masyarakat akan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga, melestarikan dan mengembangkan objek wisata yang ada.

Warga Desa Bahoi sudah memiliki kesadaran itu. Mereka bersama-sama berupaya untuk menjaga kebersihan dan keindahan alamnya. Desa Bahoi mungkin bisa menjadi contoh untuk pengembangan desa wisata lainnya di Likupang.

Keanekaragaman Flora dan Fauna

Tommy Kontu (2014) mendata ada 11 jenis mangrove yang terdata di Batuline Desa Bahoi. Kesebelas jenis tersebut adalah Sonneratia, Bruguiera, Rhizopora, Avicennia, Aegiceras, Excoecaria, Lumnitzera, Scyphiphora, Ceriops, Xylocarpus dan jenis yang tidak teridentifikasi (unidentified). Itu baru di Desa Bahoi belum daerah lainnya. Laikun dkk (2014) juga mendata ikan karang famili Chaetodontidae ditemukan 20 jenis. Ikan karang ini merupakan indikator terumbu karang.

Masih di Desa Bahoi, daerah ini memiliki potensi kegiatan Birdwatching. Pengamatan burung langsung di alam menjadi kegiatan yang menarik. Berjalan-jalan sambal mengamati kekhasan dan keindahan burung di Desa Bahoi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun