Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Terobosan Radikal Mampu Menggalang Investasi Hulu Migas Nasional

17 September 2016   23:20 Diperbarui: 18 September 2016   00:16 0 0 1 Mohon Tunggu...
Terobosan Radikal Mampu Menggalang Investasi Hulu Migas Nasional
Kegiatan hulu minyak bumi dan gas (dok. BUMI/SKK Migas).

Minyak bumi dan gas (migas) adalah sumber daya alam yang sangat penting dan strategis bagi Indonesia. Hingga saat ini migas masih menjadi pemasok energi dan bahan bakar utama di Indonesia. Sektor ini juga menjadi tulang punggung ekonomi nasional sekaligus salah satu penyumbang utama penerimaan devisa negara. Sejarah pernah mencatat pada 1970-an penerimaan migas mencapai lebih dari 55% dari total penerimaan negara. Pada 2015 meski porsinya telah menurun menjadi hanya sekitar 10% dari, namun nilainya masih cukup besar. Permintaan konsumsi migas domestik pun terus meningkat.

Kondisi memang telah berubah. Selama satu dekade lifting/produksi minyak dan gas Indonesia cenderung menurun. Menurut SKK Migas realisasi produksi migas per 5 Januari 2016 sebesar 96,5% dari target yang ditetapkan. Produksi minyak hanya sebanyak 777.560 barel per hari atau 94,2% dari target sebesar 825.000 barel per hari.  Realisasi lifting meningkat per 4 Agustus 2016. Namun, tren penurunan diprediksi akan kembali terjadi. Hal tersebut disebabkan karena usia sumur migas yang sudah tua. Di sisi lain tidak banyak penemuan cadangan baru. Jangka waktu antara penemuan cadangan/eksplorasi dan produksi di tanah air juga cukup panjang.

Indonesia telah berkomitmen mengembangkan energi alternatif yang bersifat baru dan terbarukan. Namun, kegiatan hulu migas tetap dibutuhkan. Selain untuk menopang ketahanan energi nasional dan mendorong penerimaan migas, produksi hulu migas perlu ditingkatkan karena Indonesia masih memiliki potensi yang bagus di sektor migas. Menurut Kementerian ESDM terdapat puluhan cekungan hidrokarbon yang belum dieksplorasi dan sebagian besar berada di Indonesia bagian timur.

Penerimaan bagi hasil sektor hulu migas per Juni 2016.
Penerimaan bagi hasil sektor hulu migas per Juni 2016.
Kegiatan hulu migas yang meliputi eksplorasi dan eksploitasi (produksi) memerlukan investasi besar, berdurasi  panjang, serta mengandung risiko tinggi baik dalam keuangan maupun operasional. Pada saat yang sama kemampuan pemerintah untuk berinvestasi dan melakukan kegiatan tersebut masih terbatas. Hal itu disebabkan oleh kondisi keuangan yang terbatas dan teknologi yang belum sepenuhnya dikuasai. Dengan demikian Indonesia sangat membutuhkan banyak investasi dari sektor swasta dan asing secara langsung untuk meningkatkan operasi hulu migas.

Sayangnya, investasi hulu minyak dan gas bumi di Indonesia saat ini kurang diminati. Menurut Indonesia Petroleum Association (IPA), investasi hulu migas di tanah air pada 2015 turun sekitar 20%. Bahkan menurut SKK Migas nilai investasi kembali turun 27% pada kuartal kedua 2016. Indikator lain terlihat dari rendahnya respon terhadap penawaran wilayah kerja migas sehingga kegiatan eksplorasi dan penemuan cadangan migas baru menjadi lambat. Sementara itu, realisasi unit kegiatan hulu migas per Juli 2016 rata-rata kurang dari 50%.

***

Secara eksternal investasi hulu migas sangat dipengaruhi oleh harga minyak dunia. Merosotnya harga membuat investor menunda kegiatan atau memangkas investasi karena dianggap tidak ekonomis. Namun, di luar faktor harga minyak dunia, daya tarik investasi hulu migas sangat tergantung pada kondisi di dalam negeri.

Untuk meningkatkan daya tarik investasi hulu migas Indonesia harus melakukan terobosan secara radikal mengingat kompleksitas permasalahan yang selama ini menghambat. Pelaku bisnis dan investor migas di Indonesia sering mengalami kesulitan dalam hal perizinan, pembebasan lahan, perpajakan, infrastruktur hingga masalah yang terkait sosial kemasyarakatan. Hambatan juga berasal dari regulasi yang kurang menguntungkan. Agar lebih ramah investasi Indonesia perlu menciptakan sistem serta iklim yang mengutamakan sinergi, kepastian dan fleksibilitas.

Sinergi dan Koordinasi Memacu Efektivitas

Dalam setiap kegiatan hulu Migas, daerah berhak mendapatkan keuntungan yang optimal. Namun di sisi lain hal itu sering menimbulkan masalah di lapangan. Kontraktor/investor mengalami hambatan karena keputusan di pusat tidak diikuti dengan koordinasi dan kemudahan di daerah. Misalnya, saat sudah mendapatkan izin dari pemerintah pusat, kontraktor justru dihadang persoalan izin yang kompleks di daerah seperti pembebasan lahan dan sebagainya. Hal ini membuat investor berpikir ulang untuk melaksanakan proyek hulu migas.

Pemerintah pusat dan daerah harus meningkatkan sinergi untuk mengatasi hambatan-hambatan yang ada. Pembagian peran serta tanggung jawab antar lembaga pemerintah di pusat dan daerah harus diwujudkan dalam koordinasi yang jelas dan efektif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x