Mohon tunggu...
Kris Wantoro Sumbayak
Kris Wantoro Sumbayak Mohon Tunggu... Guru - Pengamat dan komentator pendidikan, tertarik pada sosbud dan humaniora

dewantoro8id.wordpress.com • Tak limpah materi, tapi membeli buku. Tak pintar, maka terus membaca.

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Gegara Menulis, Wakasek Berterima Kasih pada Guru Tematik

4 November 2022   01:41 Diperbarui: 4 November 2022   01:58 210
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi mengetik | gambar: Unsplash/Kaitlyn Baker via techlearning.com

Produktivitas dalam bekerja dipengaruhi oleh daya dukung orang-orang, dan juga lingkungan yang tepat. Buat apa gaji tinggi kalau lingkungan tidak mendukung (baca: toxic)? Lebih baik gaji cukup namun orang-orangnya kooperatif. Kalau gajinya kecil tapi lingkungan tidak mendukung? Ya, nasib.

Di tempatku bekerja saat ini berisi orang-orang yang mendukung meski dengan gaji yang tidak besar. Cukuplah untuk operasional bulanan. Dengan dukungan orang-orang tepat itu, bisa menolongku untuk menyelesaikan tugas dan kewajiban. Salah satunya adalah wakasek bagian kurikulum.

Aku adalah guru Tematik kelas 6. Jam mengajarnya paling banyak (28 JP/minggu) dibanding mapel yang lain (22 JP/minggu). Tugasnya harus menyiapkan materi dengan cakupan dan alokasi waktu yang tepat. Pelajarannya tiap hari!

Dulu sebelum menikah, aku bisa menyelesaikan administrasi (daily task, tes bulanan, tes semester, jadwal bulanan, summary) sebelum tenggat waktu untuk dikoreksi waka. Setelah menikah, banyak yang keteteran. Aku sering meminta maaf pada waka karena terlambat mengumpulkan, akibatnya waka juga bertambah beban untuk mengoreksi.

Namun, suatu hari setelah pelaksanaan ANBK, waka mengajakku mengobrol di lorong kelas depan ruangannya. Beliau mengucapkan terima kasih padaku. Buat apa? Katanya, gara-gara aku, beliau jadi terbantu dalam menulis esai untuk kegiatan Calon Guru Penggerak (CGP).

Kok bisa? Ya, kapan lalu aku "menulari" beberapa temanku untuk menulis. Beberapa ada yang berhasil bergabung di Kompasiana, lainnya menulis di blog pribadi. Lainnya mengaku pernah punya blog tapi lupa password karena lama tidak menulis, perlahan kembali menulis.

Syukurlah, kalau dengan hal receh itu aku bisa berbagi berkat. Lagi pula, bukankah semua guru yang hebat harus bisa menulis (mengetik)? Menulis apa? Apa saja, misalnya artikel, syukur jurnal ilmiah. Asal jangan cuma menulis status di beranda medsos.

Hanya guru angkatan old yang berhasil memindahkan isi buku ke dalam kepala yang---barangkali---tidak perlu menulis. Mereka adalah generasi hapalan. Satu sisi keren, bisa hapal di luar kepala. Sisi lain, mereka ketinggalan dan susah beradaptasi karena tugas menghapal dan menyimpan sudah diambil alih Google yang banyak tahu.

Guru harus menulis. Selain mengajar, guru punya kewajiban membuat administrasi seperti RPP (lesson plan), soal tes dan latihan soal serta membuat rapor (ada juga versi rapor yang deskriptif!) Di tempatku, guru juga wajib membuat ringkasan materi (summary), jadwal bulanan dan tugas harian. Masa iya mau copy-paste via Google?

Dari mana guru bisa membuat semua perangkat itu kalau tidak membaca dan berlatih menulis? Membaca dan menulis bak dua sisi mata uang, tidak bisa dipisahkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun