L. Wahyu Putra Utama
L. Wahyu Putra Utama Editor Buku, Penulis, Kolumnis dan Pengajar

Literasi dan Peradaban

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

The Last Minutes Peta Konstelasi Pilpres 2019

16 April 2019   19:09 Diperbarui: 16 April 2019   19:16 476 3 2
The Last Minutes Peta Konstelasi Pilpres 2019
Gema.id

Pilpres hanya menyisakan satu hari lagi. Hingga menit terakhir kampanye terbuka, kejutan besar datang dari paslon Prabowo-Sandi. Di menit-menit terakhir, deretan ulama kenamaan dan tokoh negarawan merapat memberi dukungan. Sebelumnya, Ustadz Abdul Somad (UAS), Ustadz Adi Hidayat (UAH) dan Aagym menemui Prabowo. Terakhir, Dahlan Iskan dan Gatot Nurmantyo pun akhirnya mantap mendukung paslon No.Urut 02 tersebut.

Kejutan di menit terakhir memiliki dampak signifikan terhadap hasil Pilpres yang  digelar besok 17 April 2019. Saya sebelumnya menduga Pilpres nantinya mutlak dimenangkan Petahana, Jokowi-Amin, namun di menit-menit terakhir melihat dukungan dan antusiasme dari sebagian besar elemen masyarakat, peluang Prabowo-Sandi untuk memenangkan Pilpres kali ini terbuka lebar.

Hipotesa saya,  jika Pilpres esok hari potensial akan dimenangkan Prabowo-Sandi. Kenapa demikian? ada dua alasan jika Prabowo-Sandi akan menang dalam pilpres kali ini. 

Pertama, banyak kalangan yang merasa kondisi ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Jokowi-JK tak kunjung membaik, padahal sejak awal Jokowi sudah sesumbar meyakinkan masyarakat bahwa ekonomi  Indonesia mencapai 6%. Faktanya, empat tahun terakhir, di bawah pemerintahan Jokowi, ekonomi Indonesia mengalami stagnan bahkan cenderung menurun, belum lagi persoalan sosial dan hukum.  

Saya tidak ingin menggiring opini, faktanya demikian empat tahun pemerintahan Jokowi, BBM, listrik dan harga bahan pokok naik dan persoalan impor yang dirasa merugikan masyarakat. Revolusi Mental yang digaungkan Jokowi pun gagal, kejahatan, korupsi dan nepotisme marak terjadi hingga menjelang akhir jabatan Jokowi yaitu korupsi bagi-bagi jabatan di Kemenag.

Jokowi hanya mengklaim satu hal dalam pemerintahannya selama hampir lima tahun yaitu berhasil membangun infrastruktur jalan. Tidak ada artinya membangun infrastruktur apabila insfrastruktur sosial dan hukum pincang. Belum lagi, hasil infrastruktur itu belum dapat berkontribusi dalam upaya membantu prekonomian secara nyata. Itulah sebabnya, sinyalemen dukungan mayoritas masyarakat hari-hari ini ditujukan pada paslon Prabowo-Sandi. 

Kedua,  dukungan masif dari kalangan ulama dan nasionalis. Bila kita memperhatikan aspek mikroskopis dari Pilkada Jakarta di mana Anies-Sandi berhasil keluar sebagai  pemenang. Kemanangan itu karena hasil konsolidasi dari ulama dan berbagai elemen lain.   

Dukungan masif ulama yang ditujukan pada Prabowo-Sandi akan menghadirkan fenomena politik yang saya anggap unik dan baru. Unik dalam bingkai soliditas dan solidaritas, bingkai politik Islam dan negara (nasionalis). Tabligh akbar di GBK bukan politik identitas, tetapi gerakan yang berasal dari rasa keikhlasan, kepedulian dan harapan untuk Indonesia adil dan makmur.  

Ini menunjukkan bahwa panggung politik Indonesia ke depan akan dikuasai kelompok Islam. Saya ingin menggaris bawahi, Islam-politik yang dimaksud dalam tulisan ini adalah gerakan kelompok Islam inklusif yaitu corak Islam terbuka. Bukan Islam politik versi Petahana atau dugaan para politisi yang khawatir bahwa Islam-politik yang menguasai panggung hari-hari ini adalah corak Islam konservatif dan fundamentalis.

Konstelasi Pilpres dan Kebangkitan Islam Politik

Jika pada bulan-bulan sebelumnya, kubu Petahana dapat bernafas lega dengan perkiraan selisih suara dua digit, kini selisih suara kedua paslon makin tipis. Sehingga disinyalir demokratisasi yang dilaksanakan esok hari kemungkinan akan menghadirkan sosok baru, pemimpin baru yang diharapkan mampu membawa Indonesia lebih baik, Indonesia yang berkeadilan.

Kembali pada potensi kebangkitan Islam-politik, saya menggaris bawahi, definsi Islam-politik yang dimaksud adalah Islam inklusif, sebuah gerakan kalangan Islam terbuka; watak Islam nasionalis. Lalu siapakah kelompok Islam politik yang dimaksud? Hingga kini ada pelbagai partai politik Islam dengan berbagai landasan politik yang berbeda-beda, PAN dan PKS adalah sederet partai basis Islam. Meskipun demikian, hanya PKS dan PAN yang mampu bersaing dengan partai politik di tengah dominasi  partai berhaluan sekular.

Apa yang kita khawatirkan?

Pertanyaan ini muncul dari beragam tuduhan yang ditujukan pada partai Islam atau bahkan stereotape ini dilontarkan pada paslon Prabowo-Sandi. Tuduhan itu di antaranya bahwa jika Paslon No.Urut 02 menang, Indonesia akan menjadi negara khilafah dan tuduhan-tuduhan yang tidak logis atau bahkan jauh dari fakta. Sekali lagi saya tegaskan, kita tidak perlu khawatir dengan Islam-Politik, sebaliknya  kita harus berangkat dari pemahaman universal bahwa Islam Indonesia pada taraf konsepsi negara telah berpadu dengan nasionalisme, cinta tanah air dan harmonis.

Mari kita belajar dari sejarah, bahwa Islam-lah yang pertama kali merangkul, Islam-lah yang berhasil menanamkan  nasionalisme di hati rakyat, Islam-lah yang lebih dahulu merangkul semua elemen bangsa untuk sama-sama berjuang membela bangsa, spirit nasionalisme itu lahir atas usaha dan kerja keras dari tokoh-tokoh Islam. Islam masyoritas Indonesia sudah paham demokrasi, arti perjuangan dan nasionalisme itu sendiri sehingga anda dan siapapun itu tidak perlu takut, mencela dan menggiring opini. Fenomena bangkitnya Islam-politik adalah sejarah demokrasi yang akan terulang kembali, Islam-politik yang dimaksud adalah Islam inklusif, terbuka bagi demokrasi, merangkul dan saling menghargai, bukan hanya antar se-agama, melainkan bagi semua golongan.

Salam Hangat......