Mohon tunggu...
Dayu Komang Wahyu Pradnyan
Dayu Komang Wahyu Pradnyan Mohon Tunggu... Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Hi, saya Wahyu Pradnyan, salah satu mahasiswa ilmu komunikasi semester 3 Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Disini saya mulai menulis, bukan hanya untuk menunjang mata kuliah, maupun tugas namun juga untuk meningkatkan minat dan bakat saya. Terimakasih sudah berkunjung.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pestisida, Pemberantasan Terorisme di Media

29 Desember 2020   19:04 Diperbarui: 29 Desember 2020   19:09 51 2 0 Mohon Tunggu...

Segala sesuatu dalam kehidupan dapat dianalogikan, peristiwa-peristiwa kecil hingga besar tak luput dari sorotan mata. Zaman dahulu segala kegiatan dilakukan dengan cara manual, sederhana dan tradisional. Hingga bergeraknya dunia ke era globalisasi, dimana teknologi yang mendominasi. Outlet-outlet media pun terus mengalami perubahan, berangsur-angsur segala yang manual ditinggalkan, diganti dengan media canggih yang lebih cepat dan praktis. Satu hal berkembang pasti diiringi dengan perkembangan yang lain, segala hal layaknya pisau bermata dua, jika terdapat sisi positifnya pasti juga terdapat sisi negatifnya. Hal inipun terjadi bagi media sosial, sejauh ini kajian dalam media sosial hanya sebatas mengenai hal-hal yang memudahkan manusia, tentang kecanggihan dan keajaiban media sosial. Namun layaknya sawah yang luas, disana pasti ada saja satu dua hama dan tikus yang siap merusak padi.

Dalam kehidupan media sosial tentu saja terdapat pergerakan-pergerakan selayaknya hama dan tikus dalam sawah, pergerakan yang merugikan ini dalam media sosial terdapat berbagai macam jenis dan berbagai macam bentuk, mulai dari pelecehan, penipuan, pemaksaan, terror, hingga terorisme. Terorisme bukanlah yang tidak mungkin dilakukan di media sosial, bahkan dengan fitur media sosial menambah pesatnya pergerakan ini. Bentuk-bentuk aksi terorisme yang dilakukan di media sosial sudah semakin beragam, mulai dari penyebaran fitnah, provokasi, propaganda, ancaman hingga terror. Sehingga dengan pesatnya aksi ini dibutuhkan tindakan yang tegas untuk menanggulangi dan membasmi tindakan tersebut.

Sekali lagi, layaknya hama dan tikus yang merusak padi, terorisme juga bisa diberantas dan dibasmi. Dahulu memberantas hama dan tikus dilakukan dengan cara yang sangat manual, mulai dari membakar jerami di sawah hingga ditemukannya pestisida, yaitu obat untuk membasmi hama wereng perusak padi. Begitupula berlaku untuk pergerakan terorisme, dahulu pergerakan ini hanya dilakukan di dunia nyata sehingga cara memberantasnya bisa dilakukan dengan teknik-teknik seperti menembak, menangkap atau menjebak, namun melihat bagaimana terorisme juga dilakukan di media sosial hal ini membuat kita harus memutar otak kembali untuk menemukan cara memberantasnya.

Pemberantasan terorisme di media sosial tidak semudah yang kita bayangkan, mengingat banyaknya pengguna media sosial di Indonesia, hal ini menyebabkan pergerakan terorisme dengan mudah bisa dimanipulasi dan disembunyikan. Dengan demikian dibutuhkannya kerjasama antara pemerintah dan warga internet untuk menemukan pestisida yang cocok digunakan memberantas terorisme.

Lalu dalam bentuk apakah pestisida untuk terorisme di media?

Sebenarnya pestisida pemberantas terorisme adalah super power dari pemerintah dan warga internet. Dimana keduanya harus bersatu padu, baik pemerintah dan warga internet memiliki peran, tugasnya masing-masing untuk ikut andil dalam hal ini.

Dari sudut pemerintah, pemerintah harus memaksimalkan peran Badan Cyber yang telah dibentuk untuk melacak dan mencari sumber dari segala hal yang dicurigai menjadi jentik terorisme, pengawasan yang ketat harus dilakukan oleh Kementrian Kominfo guna memotong adanya kesempatan memulai pergerakan dari terorisme, pemerintah harus dengan maksimal mengawasi dan mengontrol segala sesuatu di media dengan mengerahkan pasukan dalam bidang media teknologi komunikasi dan informasinya.

Dari sudut warga internet, warga internet harus lebih cerdas, cepat dan tangkas. Kita harus lebih terbuka dan tranparan, jika ingin damai dan harmonis maka paksakan jarimu untuk menekan report atau laporkan segala sesuatu yang mencurigakan. Kita harus ikut andil dalam mengawasi media sosial kita, keselamatn bukan hanya untuk kita tetapi semua pengguna internet, kita juga harus lebih selektif dalam menerima informasi, biasakan mengonsumsi berita dari akun-akun resmi. Jadikan keluarga sebagai filter utama dalam mengatasi pergerakan terorisme dengan selalu mengajarkan dan diajarkan hal-hal yang baik dan positif.

Kerjasama ini adalah pestisida yang kuat untuk memberantas terorisme. Karena kehidupan negara bukan hanya tentang pemerintah ataupun hanya tentang masyarakat, jika masyarakat dan pemerintah bisa bersatu padu maka masalah pasti bisa terselesaikan.

"Jika pemerintah dan masyarakat sudah satu, apa lagi yang bisa di propagandakan?"

Refrensi:

Achmad Sulfikar. 2018. Swa-radikalisme Melalui Media Sosial di Indonesia. 04, 87

VIDEO PILIHAN