Mohon tunggu...
Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Mohon Tunggu... Penulis - Penulis #Peraih Best In Fiction Kompasiana Award 2018#

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Foodie Artikel Utama

Lentog, Kuliner Khas Kota Kudus, Sajian Tanpa Daging

15 Mei 2021   23:34 Diperbarui: 16 Mei 2021   02:33 1435
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Lentog, kuliner khas Kota Kudus, sajian tanpa daging. Foto: Wahyu Sapta.

Sajian ini, tanpa daging maupun kaldunya. Cocok juga untuk vegetarian, karena tanpa daging. Paling banter, teman dari lentog ini adalah sate telur puyuh, sate uritan, gorengan, dan kerupuk krecek.

Jika mau pedas, biasanya disediakan cabai rawit utuh yang direbus, atau bisa juga ditambah sambal cabai merah. Bisa meminta sesuai selera.

Sajian ini, tanpa daging maupun kaldunya. Cocok juga untuk vegetarian. Teman lentog adalah sate telur puyuh, sate uritan, gorengan, dan kerupuk krecek. Foto: Wahyu Sapta.
Sajian ini, tanpa daging maupun kaldunya. Cocok juga untuk vegetarian. Teman lentog adalah sate telur puyuh, sate uritan, gorengan, dan kerupuk krecek. Foto: Wahyu Sapta.
Cara menyajikannya saat makan di tempat, memakai piring yang di atasnya telah diberi samir daun pisang terlebih dahulu. Rasanya lebih nikmat dengan aroma daun. Tetapi karena saya membelinya untuk dibawa pulang, maka samir daun pisang diselipkan pada pembungkusnya. Kemudian lontong, kuah sayur gori atau nangka muda, dan tahu, dibungkus terpisah tidak dicampur, agar lontong tidak mekar saat akan disantap.

Hem, ketika saya bisa mencicipi Lentog Kudus, saya merasakan nikmat yang patut disyukuri. Merasakan lentog ini adalah sesuatu, karena lebaran kemarin tergelontor oleh makanan yang berdaging dan bersantan. Lentog cocok sebagai sajian penyeimbang setelah lebaran.

Dua hari menikmati sajian lontong opor, rendang daging, sambal goreng hati, perut rasanya penuh dan ingin menikmati sajian yang lebih ringan. Lentog ini salah satu sajian yang cocok disantap saat habis lebaran. Meskipun sebenarnya, lentog bisa dinikmati setiap hari, tidak hanya pada saat lebaran saja. 

Banyak yang menjualnya pada pagi hari, karena lentog merupakan kuliner sarapan favorit yang banyak dicari di kota Kudus. Murah meriah, sederhana, dan tidak membuat kantong jebol. 

Porsi kecil, bisa nambah berkali-kali apalagi jika penikmatnya adalah ABG. Kalau saya sih cukup satu porsi sudah kenyang, apalagi setelah puasa ramadan, perut masih menyesuaikan agar tidak makan terlalu banyak terlebih dahulu.

Yuk, jika mampir ke Kota Kudus, cicip lentog ya. Bisa ditemukan pada saat pagi hari hingga siang. Kuliner khas Kota Kudus yang legendaris ini, merupakan sajian tanpa daging. Nikmat dan lezat. Segar dan ringan. Tidak eneg meskipun bersantan. 

Bisa menjadi menu alternatif setelah lebaran, karena sajiannya tanpa daging. 

Tetap menjaga protokoler kesehatan dengan 3 M. Memakai masker, menjaga jarak, dan selalu mencuci tangan dengan sabun, agar terhindar dari penularan dan penyebaran penyakit Covid-19. 

Menikmati kuliner khas, tetapi tetap harus menjaga kesehatan. Jangan lengah, ya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun