Mohon tunggu...
Via Mardiana
Via Mardiana Mohon Tunggu... Freelance Writer

Penulis Novel | Freelance Writer | Blogger | Traveller | Instagram : @viamardiana | Twitter: @viamardianaaaaa | Blog pribadi : www.viamardiana.com | Email : engineersukasastra@gmail.com atau mardianavia@gmail.com |

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Generasi Solutif, Ciptakan Solusi Meski dalam Keadaan Terjepit

23 November 2018   22:32 Diperbarui: 23 November 2018   23:05 0 1 0 Mohon Tunggu...
Generasi Solutif, Ciptakan Solusi Meski dalam Keadaan Terjepit
Ilustrasi oleh Via Mardiana

Hal pertama yang akan aku lakukan adalah mengedukasi peserta untuk tidak panik. Banyak hal yang terjadi yang diakibatkan oleh kepanikan manusia yang berakibat fatal pada dirinya. Ketika panik, otak cenderung susah untuk berpikir jernih sehingga sulit untuk menemukan solusi yang tepat dikala keadaan sulit.

Ilustrasi oleh Via Mardiana
Ilustrasi oleh Via Mardiana
"Teman-teman, sebelumnya mohon maaf atas ketidaknyamanan tour hari ini. Saat ini, saya sudah meminta bantuan teman saya, Frans dari kota untuk menjemput kita. Namun, Frans baru datang sekitar 2 jam 15 menit lagi. Namun, teman-teman tidak perlu khawatir karena saya sudah menghubungi penjaga pintu hutan konservasi yang bernama pak Tedjo untuk menjemput kita ke pondoknya sambil menunggu mobil dari kota datang," kataku.

Sebelumnya, saat minibus kami mogok aku segera menghubungi kedua temanku, yakni Frans dari kota dan Pak Tedjo selaku penjaga pintu hutan. Solusi ini, aku yakin sangat efektif karena aku juga harus memikirkan ketiga peserta tour ku yang harus ada di Jakarta besok pagi untuk mengikuti Kompasianival 2018 dan juga jeda waktu istirahat untuk mereka semua.

Aku juga menelpon pak Tedjo untuk dibawakan beberapa cemilan karena makanan kami hanya tertinggal 2 pack saja. Beruntung sekali pak Tedjo memiliki simpanan biskuit sehingga bisa mengganjal perut peserta tour untuk sementara waktu. Edukasi peserta untuk tidak panik dilanjutkan oleh Lukman. Hal ini aku lakukan karena Lukman memiliki latar belakang kemampuan dimana dia bisa melakukan persuasi terhadap orang-orang. 

Ilustrasi oleh Via Mardiana
Ilustrasi oleh Via Mardiana
Selanjutnya, aku akan mengecek bunyi pluit yang tadi sepertinya ditiup oleh Fred. Ternyata, memang benar Fred yang meniupkan peluit karena dia melihat sesuatu yang mencurigakan seperti hewan buas ketika dia BAB. Aku dan Fred kembali ke minibus. Saat itu, aku meminta tolong kepada Fred untuk membuat api unggun untuk melindungi kami dari binatang buas. Hal ini tentunya sudah sering dilakukan oleh Fred karena dia terbiasa berpetualang dihutan.

Aku juga memberi pengertian kepada Her bahwa hal ini bukan merupakan kesalahannya. Sebab, aku melihat Her begitu merasa bersalah atas kejadian ini. Aku menepuk pundak Her dan mengatakan bahwa semua ini akan baik-baik saja. Yang terpenting, kita tidak boleh demotivasi dan juga merasa panik dalam keadaan seperti ini.

Tak lama kemudian Pak Tedjo datang. Aku putuskan agar Anggi dijemput pertama kali ke pondok dikarenakan kondisi kakinya yang terkilir dan sedikit membengkak. Aku pikir hal tersebut harus segera ditangani, aku minta tolong kepada pak Tedjo ketika sampai dipondok untuk mengompres terlebih dahulu kaki Anggi dengan air hangat lalu pak Tedjo bisa kembali menjemput salah satu dari kami. Sementara yang lainnya aku persilahkan untuk memakan cemilan yang dibawa oleh temanku.

30 menit pertama Pak Tedjo berhasil membawa Anggi, selanjutnya 30 menit kedua giliran Lukman. Pertimbanganku adalah agar Pak Tedjo bisa membantu memijat kaki Anggi yang terkilir sementara Lukman bisa menjemput anak dan istrinya. Namun, aku bicara terlebih dahulu kepada Lukman untuk menghafal jalan. Jika dia ragu, aku sarankan dia untuk memberikan tanda. Sebenarnya, jalan dari tempat minibus mogok menuju pondok hanya ada satu. Aku pula menyuruh Lukman untuk membawa peluit, kebetulan Fred memiliki 2 peluit. Selanjutnya, 30 menit ketiga Lukman menjemput Kanaya.

Sehingga, tersisalah aku, Fred, dan Her yang akan menunggu bantuan dari kota. Artinya, aku hanya akan menungu sekitar 45 menit sampai bantuan datang. Sambil menunggu, aku meminta Fred untuk menceritakan pengalamannya berpetualang di hutan. Ternyata waktu 45 menit tidak cukup untuk menceritakan petualangan Fred menjelajah hutan di Indonesia.

Tak lama kemudian, bantuan dari kota datang. Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih terlebih dahulu kepada Frans yang sudah mau membantu kami. Selanjutnya, aku meminta untuk diantarkan ke pondok penjaga pintu hutan terlebih dahulu. Akhirnya, kami berempat pergi menuju pondok pak Tedjo.

Sesampainya dipondok, aku meminta maaf atas kejadian hari ini. Lalu, aku menanyakan kabar dari Anggi yang kakinya sempat terkilir tadi. Sementara itu, Kevin sedang tertidur pulas dipondok. Sambil menunggu peserta tout beristirahat, aku memasak mie instan untuk mengganjal perut peserta. Mie instan ini aku minta kepada Frans untuk dibelikan terlebih dahulu di kota tadi ketika menelpon.

Akhirnya, kami semua makan bersama dipondok. Rasanya saat itu kami menjadi dekat satu sama lain, karena sambil makan beberapa diantara kami juga bercerita tentang kehidupannya termasuk dua anak muda yang ikut dalam tour ini yakni Anggi dan Kanaya.

Ilustrasi oleh Via Mardiana
Ilustrasi oleh Via Mardiana
Sekitar 1 jam kemudian, aku meminta kepada Frans untuk membawa terlebih dahulu Prita, Lukman, Kevin, Anggi dan Kanaya. Prita, Anggi, dan Kanaya akan duduk dibelakang sedangkan Lukman akan memangku Kevin dikursi depan.

Her meminta bantuan Frans untuk menginformasikan kepada bengkel langganannya di kota untuk dikirimkan mekanik ke tempat dimana minibusnya mogok. Sementara, aku, Fred, Her, dan penjaga pintu mengobrol sampai larut malam ditemani api unggun diluar pondok dan segelas kopi yang sudah mulai habis digelas masing-masing.