Mohon tunggu...
Venusgazer EP
Venusgazer EP Mohon Tunggu... Just an ordinary freelancer

#You'llNeverWalkAlone |Twitter @venusgazer |email venusgazer@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Kesalahan Teknis pada Buku Tanggung Jawab Siapa?

13 Februari 2015   09:19 Diperbarui: 17 Juni 2015   11:16 343 9 10 Mohon Tunggu...

Akhir pekan lalu saya membeli sebuah buku di sebuah toko buku terkenal di kota Medan. Rasanya sudah cukup lama tidak membeli buku untuk diri sendiri karena sejak anak pertama masuk sekolah anggaran membeli buku bacaan beralih ke dia demi menumbuhkan minat bacanya.

Buku yang saya beli adalah buku pengetahuan untuk investasi. Selama ini saya hanya belajar dari internet maupun e-book gratis saja. Timbang punya timbang akhirnya saya putuskan untuk membeli buku tersebut yang akan saya jadikan referensi tambahan. Disamping itu saya terpikat dengan ketebalannya yang hampir mencapai 500 halaman, dengan kata lain akan ada banyak materi baru yang bisa saya dapatkan.

Terus terang sebelum membeli saya baca terlebih dahulu, sekilas isinya yang sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan apa yang sudah pernah saya pelajari selama ini. Tetapi bagaimanapun saya percaya setiap buku selalu punya cerita tersendiri. Sayang saya belum punya Value Card Kompasiana jadinya tidak dapat diskon untuk buku seharga Rp.94.000,-. Lumayan mahal juga untuk ukuran saya, tapi ya sekali-kali tidak apa. Anggap saja investasi ilmu.

Sudah hampir 1 minggu, belum kelar juga bacanya. Kelar di sini saya artikan paham betul 100% isinya. Baca buku non-fiksi tentu berbeda dengan fiksi. Perlu pelan-pelan, ada bagian yang mesti diulang. Dan tentu saja harus berbekal kertas note dan stabilo.

Secara garis besar konten buku itu bagus bagi mereka yang sedang mendalami trading. Buku itu tidak hanya sekedar membahas masalah teknis semata. Buku tersebut bisa memotivasi dan juga menginspirasi terutama bagi trader pemula karena memuat beberapa kisah trader sukses dunia. Dibagian akhir terdapat semacam kamus istilah yang sangat bermanfaat bagi novice trader.

Kembali ke judul tulisan ini tentang kesalahan teknis pada buku. Agak sayang dibalik konten yang bermanfaat terdapat beberapa ‘cacat’ teknis yang harus saya temui. Buku yang sudah masuk ke cetakan ke-3 itu ternyata masih menyisahkan kesalahan yang mengganggu.

Saya sebagai konsumen merasa agak terganggu dengan hal tersebut. Saya mungkin bisa sedikit maklum bila kesalahan teknis itu ada pada buku yang diterbitkan secara indie. Buku yang saya beli itu adalah buku terbitan PT Elex Media Komputindo, yang merupakan bagian dari Kompas Gramedia. Kita ketahui bersama nama Elex Media sudah sejak lama menjadi penerbit buku-buku berkualitas. Beberapa buku karya sahabat-sahabat Kompasiana juga diterbitkan oleh Elex Media.

Kesalahan teknis apa yang terdapat pada buku tersebut? Ada beberapa ‘gangguang’ baik itu yang tidak mencolok maupun jelas terpampang dan membuat pembaca bingung.

1.Typo, kesalahan ketik.

2.Kesalahan perjemahan

3.Ilustrasi/gambar yang tidak muncul.

Kesalahan ketik (typo) berapa kata untuk buku setebal 500 halaman mungkin buat sebagian orang bisa dimaklumi. Sering kita jumpai kesalahan-kesalahan yang lebih parah di buku-buku pelajaran sekolah. Padahal pada era digital yang serba computerize seharusnya bisa dielakan. Setahu saya jaman dahulu boleh dikatakan tidak pernah dijumpai buku yang salah ketik. Kalau berkaca pada buku-buku asli terbitan luar negeri bisa dikatakan zero mistake untuk urusan typo.

Buku non-fiksi yang ‘ilmu’-nya berasal dari luar negeri mau tidak mau tentunya penulis harus mengambil referensi dari buku/situs berbahasa Inggris. Sebenarnya sudah cukup bagus untuk istilah-istilah tertentu tidak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan pembaca pasti sudah mengerti. Namun ada kata yang bisa dan biasa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ternyata malah salah total. Saya akui kemampuan Bahasa Inggris saya buruk namun bila untuk bidang ini kata go long diterjemahkan menjadi pergi panjang itu lucu sekali. Ada tertulis juga “Saya memasukan panjang di 1,3059 ......”yang tentu versi bahasa Inggrisnya adalah “ I go/entry long...”. Di halaman lain juga ada tertulis Preferred time frame: 4 pukul dan harian. Tentu yang dimaksud adalah 4 Hours (H-4) and Daily (D-1). Terus terang saya sangsi yakin itu hasil terjemahan penulisnya.

Baiknya buku ini adalah diperkaya oleh ilustrasi seperti grafik/carta. Hanya saja karena tidak berwarna sehingga grafik yang aslinya (tentu saja) berwarna jadi terlihat kurang jelas ketika dicetak biasa. Padahal penulisnya sedang menunjukan misalnya garis merah pada sebuah indikator, pembaca dibuat bingung. Jadi terpaksa harus kembali ke laptop.

Kesalahan teknis yang fatal adalah ketika ilustrasi sebuah kotak persegi panjang dengan tulisan di tengah-tengahnya “gambar tidak tampil”. Satu lagi sama kasusnya tertulis “gambar tidak muncul”. Terus terang ini sungguh aneh, bagaimana buku yang sudah 3 kali dicetak ulang seperti itu. Lalu apakah pembaca harus mengecek lagi dari sumber lain?

Mungkin kesalahan bisa ditimpakan kepada konsumen buku, mengapa tidak mengecek dengan baik sebelum membeli? Bukankah pihak toko buku telah menyediakan buku sejenis yang sudah dibuka segelnya agar calon pembeli bisa membaca sekaligus mengecek buku tersebut. Betul, hanya saja tidak semua pembeli punya waktu yang cukup untuk melakukan hal tersebut.

Sedikit menoleh pada industri otomotif, produsen mobil tidak segan menarik kembali ribuan kendaraan hanya dikarenakan ‘cacat’. Lalu bagaimana dengan buku yang punya kesalahan teknis, apakah pihak penerbit bisa bertanggungjawab?

Apakah tidak ada review terhadap buku yang sudah diluncurkan kepada masyarakat. Okelah buku dengan prestasi tertentu sehingga dicetak ulang oleh penerbit menandakan bahwa buku tersebut laku dan diterima oleh masyarakat. Sehingga jika sebenarnya ada kekurangan (baca:cacat) dianggap bukan sesuatu yang berarti.

Masalahnya sebenarnya bukan ada komplain atau tidak dari pembaca. Ini persoalan tanggungjawab, memang jelas bukan tanggungjawab Gramedia sebagai pencetak karena jelas dinyatakan bahwa isi diluar tanggungjawab percetakan.

Menurut saya tanggungjawab ada pada penulis, editor dan penerbit. Sebelum sebuah buku terpajang di rak toko buku terkemuka tentu sudah melalui proses yang panjang. Sebelum mampir ke meja editor penulis pasti sudah mereview karyanya berulang-ulang. Pada bagian lain, seorang editor atau penyunting jelas memegang peranan yang besar sebelum karya penulis itu naik cetak. Dan editor biasanya bagian dari pihak penerbit itu sendiri. Seorang editor bukan orang sembarangan, dibutuhkan pengalaman dan ilmu yang mumpuni terutama untuk buku-buku non-fiksi. Kemampuannya dalam bahasa Inggris tentu saja tidak bersandar pada Google translate.

Bagaimana dengan penerbit? Dalam hal ini pihak Elex Media bisa saja melakukan kekhilafan. Mungkin karena begitu banyak buku yang harus mereka terbitkan. Atau bisa juga kesalahan teknis baru diketahui setelah buku dicetak, daripada rugi ongkos produksi karena sudah mencetak ribuan maka dibiarkannya kesalahan teknis berharap pembeli/pembaca akan memaklumi.

Saya pribadi sebagai konsumen memaklumi, namun menyayangkan hal itu terjadi. Penulis dan penerbit jelas mendapatkan keuntungan materi. Terus terang ada sisi yang tidak fair di sini. Konsumen tentu berhak mendapatkan buku yang sempurna secara teknis. Soal konten tentu tidak bisa diukur karena jelas relatif. Saya sendiri menilai buku tersebut bagus dan banyak yang bisa saya gali di sana.

Penulis dan penerbit jelas tidak bisa menutup mata dalam hal ini. Tanggungjawab moral hendaknya selalu dikedepankan. Nama besar Kompas Gramedia yang menjadi induk Elex Media yang selama ini terdepan dalam dunia penerbitan di tanah air hendaknya menjadi semacam filter untuk menerbitkan buku yang tidak hanya bagus secara konten namun sempurna secara teknis.

Di tengah masyarakat kita yang terkenal permisif ini saya berharap tidak dimanfaatkan oleh penerbit manapun baik itu major maupun indie untuk melempar buku yang punya kesalahan-kesalahan baik itu typo, terjemahan maupun ilustrasi. Banyak orang yang harus menabung atau mengirit-irit hanya untuk membeli sebuah buku, sungguh kasihan jika buku yang dibelinya itu ‘cacat’.

Oh ya sebelum saya tutup, ini buku yang menjadi bahasan dalam tulisan ini.

Judul: Investasi Secara Benar: Mengungkap Rahasia Forex, karya Frento T. Suharto, MM,MBA

Editor: Rayendra L. Toruan

Penerbit: PT Elex Media Komputindo, cetakan ke-3

Kepada admin Kompasiana dapatkah tulisan ini diteruskan kepada pihak Elex Media Komputindo selaku penerbit untuk dijadikan perhatian demi kebaikan bersama? Syukur-syukur ditanggapi, karena mungkin kesalahan hanya ada pada buku yang saya beli saja. Terima kasih ‘min.

salam

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x