Mohon tunggu...
Humaniora

Tumbuhkan Minat Baca dengan Budaya Literasi

17 Januari 2019   17:35 Diperbarui: 17 Januari 2019   18:07 2292
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada 2011, serta Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2009 dan 2012, menunjukkan bahwa keterampilan membaca siswa Indonesia masih berada pada peringkat bawah. Fakta inimembuka mata kita semua bahwa
kemampuan literasi siswa Indonesia masih rendah.

Pemerintah Indonesiapun menyadari akan hal itu sehingga bebeberapa aturanpun di terbitkan. Katakanlah, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang memperkuat upaya pembentukan budaya literasi. 

Selain dalam bentuk Permendikbud, upaya pemerintah menumbuhkan masyarakat gemar membaca diimplementasikan dalam bentuk Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Literasi Masyarakat (GLM) dan Gerakan Literasi Bangsa (GLB). GLS dan GLB dilakukan di sekolah-sekolah untuk para siswa dan warga sekolah lainnya.

Pentingnya literasi bagi siswa membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Tujuannya agar siswa dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat. 

Pembiasaan membaca buku ini dianggap dapat menumbuhkan minat baca serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Jika membiasakan diri untuk membaca sudah tertanam, tahap selanjutnya adalah terbentuk karakter gemar membaca, dan akhirnya memiliki budaya membaca yang baik.

Mereka yang tidak membudayakan membaca dan mudah bereaksi tanpa mempertimbangkan sesuatunya adalah cerminan masyarakat yang belum memiliki literasi informasi dengan baik. Untuk menjadi insan dengan literasi informasi yang baik, perlu pembiasaan membaca.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) harus dikembangkan di sekolah baik pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar maupun pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah. Agar lebih efisien, sebaiknya GLS dilaksanakan dengan tiga tahapan, yakni :
(1). Penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca buku non-pelajaran.
(2). Meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan.
(3). Meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran.
Jika ketiga tahapan ini terlaksana dengan baik, niscaya kemauan membaca siswa meningkat. Bahkan ada kesadaran siswa untuk membaca, ala bisa karena biasa. Hal ini sudah terbukti pada sekolah  - sekolah binaan Agupena cabang Flores Timur.

Sadar atau tidak, Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Ia menjadi sarana bagi siswa dalam mengenal,memahami, dan menerapkan ilmu yang
didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan peserta didik, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya.

Mengapa perlu adanya Gerakan Literasi Sekolah? Karena tuntutan keterampilan membaca pada abad 21 adalah kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan efektif. Pembelajaran di sekolah belum mampu mengajarkan kompetensi abad 21 Kegiatan membaca di sekolah perlu dikuatkan dengan pembiasaan membaca di keluarga dan masyarakat.

Adanya Gerakan Literasi Masyarakat (GLM) dengan menghadirksn Taman Baca Masyarakat(TBM), Perpustakaan Desa dan jenis lainnya sangat membantu warga untuk mengakses informasi. GLM juga menekankan pada kegiatan literasi yang mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber - sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori.

Untuk mendukung budaya literasi di wilayah kabupaten Flores Timur, pemerintah daerah, dalam hal ini Bupati Flores Timur, Antonius G. Hadjon mendekrasikan Flores Timur sebagai Kabupaten Literasi pada moment Hari Ulang Tahun Agupena ke 12 yang secara Nasional dilaksanakan di Kota Renya Larantuka. Gerakan Literasi di Flores Timur, boleh dikata berawal dari gerakan Agupena Flores Timur. Para guru dan penggiat sosial yang tergabung dalam organisasi ini selalu dengan semangat dalam melaksanakan pendampingan pada lapisan masyarakat baik yang terisolir maupun masyarakat perkotaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun