Mohon tunggu...
Usman D. Ganggang
Usman D. Ganggang Mohon Tunggu... Dosen - Dosen dan penulis

Berawal dari cerita, selanjutnya aku menulis tentang sesuatu, iya akhirnya tercipta sebuah simpulan, menulis adalah roh menuntaskan masalah

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Mari Beranjangsana ke Museum Asi Mbojo (Bima) NTB

26 Januari 2020   18:15 Diperbarui: 26 Januari 2020   18:18 337
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Boleh jadi,  karena oleh karena keaktifannya dalam mengekspos sejarah Bima dari zaman ke zaman , akhirnya belau dipercayakan oleh atasannya untuk menjabat Kepala Museum. Beliau merasa bangga sekaligus bersyukur karena tugas ini mendukung kegiatannya dalam mengeskpos sejarah Bima yang sarat nilai pada zamannya. ," Di sini cocok untuk kerjanya seorang penulis, Pua Usman ", ujarnya bangga.

Sambil menikmati pengaha (kue ala Bima), penulis menanyakan terkait nama bangunan megah ini sekaligus benda-benda yang sudah dicatat sebelum masuk ruangan. Bung Alan menjelaskan secara etimologi(asal usul kata) Asi berarti mengeluarkan dari dalam perut baik melalui mulut maupun alat kelamin. Secara Terminologi Asi berarti Rumah atau bagian yang berfungsi sebagai pusat Pemerintahan, Peradilan, Pengembangan Agama dan Budaya serta tempat tinggal Raja/Sultan beserta keluarganya.

dokpri
dokpri
Dari dua tinjauan di atas Asi adalah tempat untuk mengeluarkan keputusan-keputusan penting dari kerajaan dengan konsep filosofi Tohompa Ra Nahu Sura Dou Labo Dana (Kepentingan Rakyat harus didahulukan daripada kepentingan pribadi atau golongan)  Lalu, Asi Mbojo adalah penghubung mata rantai sejarah Bima. Dia akan tetap mendendangkan syair keluguan masa silam kepada generasi-generasinya sampai kapan pun.

Asi Mbojo dibangun pada tahun 1927. Setelah kesultanan Bima bubar, Asi Mbojo sempat beralih fungsi menjadi Gedung Daerah, Asrama Kompi dan Kampus STIT Sunan Giri. Pada tahun 1986, Bupati KDH Bima H.Oemar Harun, Bsc mengusulkan ke Pemerintah Pusat untuk menjadi Museum. Pada tahun 1989 Gubernur NTB H.Warsito meresmikan menjadi Museum Asi Mbojo.

Pada tahun 2009, Asi Mbojo menjadi UPTD( Unit Pelaksana Tehnis Daerah) di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Pada tahun 2016, seiring perubahan nomenklatur Di Pemerintah Kabupaten Bima, UPTD Museum Asi Mbojo berada di bawah Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima.

Kini Asi Mbojo berusia 93 tahun.Usianya sebagai Museum sudah 31 tahun. Penarikan karcis termurah sedunia sudah berjalan 18 tahun.Asi Mbojo belum mengalami perkembangan yang meyakinkan baik dari pemeliharaan, penataan maupun konservasi benda benda pusaka dan koleksinya. "Saatnya Asi Mbojo berbenah. Mohon doa dan dukungan, bukan pro kontra soal karcis yang termurah sedunia", ujarnya sambil pasang senyum.

Lebih lanjut Bung Alan menjelaskan, Museum Asi Mbojo adalah Situs Cagar Budaya Nasional sekaligus Obyek Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya. Sebagai obyek wisata tentu ada ketenuannya termasuk membayar karcis masuk. Penarikan karcis tidak hanya untuk pengunjung yang melihat koleksi, masuk di halama pun tetap harus bayar karena di halaman Asi Mbojo juga ada koleksi halaman yang perlu dijaga, ditata dan dilestarikan.

Koleksi halaman Museum Asi Mbojo adalah Meriam, Lare Lare, Temba Asi, Jompa, Lengge, Arca dan lain lain. Selama ini keberadaan benda benda itu belum dideskripsi sebagai informasi sejarah yang akan bermanfaat untuk wisata literasi dan edukasi. Dalam waktu dekat koleksi halaman maupun koleksi ruangan akan ditata dan diberikan drskripsi.

Hal itu dimaksudkan agar benda benda itu bisa bercerita kepada pengunjung."Kami akan menerbitkan Tata Tertib Pengunjung dan setiap pengunjung ada ID Card.Petugas Loket dan pemandu juga ada ID Card.,"ujar Bung Alan Malingi yang bernama asli Ruslan,S.Sos.

dokpri
dokpri
Lalu terkait Sejarah, filosofi dan Fungsi Lare-Lare? Bung Alan menjelaskan bahwa  
Lare Lare atau juga dikenal dengan Lawa Se adalah koleksi bersejarah dari Asi Mbojo. Banyak wisatawan yang menyebut bahwa salah satu daya tarik Asi Mbojo adalah keberadaan Lare- Lare.

Lare Lare dibangun pada tanggal 12 Pebruari 1781 pada masa Sultan Bima ke -9 : Abdul Hamid Muhammadsyah Zilullah fil alam.Usia Lare Lare kini, sudah mencapai 279 tahun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun