Mohon tunggu...
uhan subhan
uhan subhan Mohon Tunggu... penikmat buku dan traveling

penikmat buku dan traveling.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Profesi Guru, Generasi Milenial, dan Wajah Pendidikan Kita

20 Januari 2020   17:42 Diperbarui: 21 Januari 2020   21:42 872 1 0 Mohon Tunggu...
Profesi Guru, Generasi Milenial, dan Wajah Pendidikan Kita
ilustrasi: sekolahdasar.net

Sejauh ini, upaya-upaya masyarakat menghormati dan atau menghargai guru senantiasa banyak jumlahnya. Apalagi saat menjelang atau bertepatan dengan momentum hari guru pada skala nasional maupun internasional. 

Bentuk-bentuk penghormatan dan atau penghargaannya juga beragam, baik yang dikemas dengan serius dan meriah berdasar pada penelitian atau penilaian dengan kriteria tertentu maupun sekadar perayaan sederhana atau sebatas ucapan selamat.

Masih banyaknya upaya masyarakat menghormati dan atau menghargai guru menandakan bahwa profesi guru dianggap penting dan mulia. Artinya, profesi guru tidak kalah penting dan mulianya dengan profesi-profesi lain semisal polisi, hakim, dokter, arsitek, gubernur, menteri, atau presiden. 

Bahkan pada taraf tertentu, baik yang sudah lama bekerja maupun yang baru, orang yang berprofesi sebagai guru ialah otomatis dianggap pahlawan, meski pun tanpa tanda jasa.

Namun demikian, banyaknya penghormatan dan atau penghargaan masyarakat terhadap profesi guru tidak otomatis berbanding lurus dengan meningkatnya minat masyarakat, khususnya kaum muda, menjadi guru. Coba saja cek secara langsung di lapangan.

Jika kita bertanya cita-cita pada mereka, menjadi guru adalah jawaban yang pasti sangat tidak populer (untuk mengatakan tidak ada sama sekali). Alih-alih menjadi kebanggaan, yang kerap muncul malah persepsi semacam rasa "tabu". 

Tabu yang dimaksud pada kasus ini adalah pandangan-pandangan yang relatif bermakna merendahkan.

Lantas, barangkali, kita bertanya-tanya. Mengapa mayoritas dari mereka tidak berminat menjadi guru padahal profesi tersebut amat mulia? Mengapa kemudian profesi guru malah dianggap "tabu"? Jawabannya bisa sangat beragam, bergantung pada sudut pandang yang digunakan.

Namun, dari berbagai jawaban tersebut, ada satu alasan umum yang kiranya penting menjadi perhatian kita, yakni akibat adanya kekeliruan-kekeliruan persepsi atau bahkan fakta-fakta yang kurang relevan bagi hati nurani mereka sehingga akhirnya memunculkan suatu kesimpulan yang kurang baik.

Suka atau tidak, memang ada paradoksal yang cukup kuat dan berkembang di masyarakat ihwal profesi sang "Umar Bakri" tersebut. Meskipun dianggap penting dan mulia.

Profesi guru masih kerap dinilai sebagai profesi yang kurang menjanjikan bagi penghidupan di masa depan, harus serbatahu, tidak punya kebebasan, dan jam kerjanya dua puluh empat jam penuh.

Dari apa atau dari mana kekeliruan persepsi tersebut timbul? Kurang bijak rasanya bila kita menjawab pertanyaan tersebut dengan hanya menyalahkan mereka.

Guru yang baik atau guru yang memiliki kompetensi yang berkualitas pasti akan menarik persoalan tersebut pada dirinya dengan cara introspeksi dan berani mengevaluasi atas segala hal yang menjadi kekurangannya.

Sesungguhnya problematika tersebut kerap ditepis dengan berbagai argumentasi yang cukup bijak atau contoh-contoh yang inspiratif. Sayangnya, semua itu belum dirasa cukup deras untuk dapat mengempaskan paradigma yang keliru tersebut.

Mengubah Persepsi

Masih adanya paradigma atau persepsi yang keliru, sejatinya, bukan hanya terjadi pada profesi guru. Banyak pula profesi lain yang sesungguhnya baik dan mulia namun kerap pula diasumsikan sebagai profesi "tabu", sebut saja di antaranya politikus, pengacara, seniman, atau sales marketing. 

Khusus beberapa persepsi keliru yang menimpa pada profesi guru ada baiknya kita bedah seraya memberi upaya alternatif untuk memperbaikinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x