Kang Yana
Kang Yana wiraswasta

Simpel apa adanya. Anggota PPI http://www.pedati2.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cermin Artikel Utama

Papa Lim

22 Mei 2015   21:45 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:42 33 0 0
Papa Lim
14323317131897454147

[caption id="attachment_419462" align="aligncenter" width="450" caption="Papa Lim"][/caption]

Malam itu,Yana mendapat berita dari Bibi yang menjaga papa Lim. Bahwa penyakitnya papa Lim bertambah buruk lagi,malah lebih buruk dari hari-hari sebelumnya. Dengan cepat,malam itu juga Yana pergi kerumahnya papa Lim,untuk menjenguknya. Kebetulan papa Lim masih bisa bicara,dan mengenalinya sambil mengingat Darmin sahabat karibnya. Namun penyakitnya memang semakin parah terhadap orang tua itu.

Masalah yang dihadapi Yana,Darmin sahabatnya itu tidak ada disini saat ini. Darmin sedang pulang kekampung di Indonesia sana sekarang. Namun Darmin pernah berpesan sebelum pulang,jika keadaanya papa Lim semakin serius,walau dengan cara apa sekalipun Darmin akan kembali lagi ke Malaysia. Tapi tidak mungkin Darmin langsung kesini kalau aku beritau,sebab dia baru pulang ke kampungnya sejak sekian lama disini. Dan juga tidak mungkin aku menyuruh dia cepat datang lagi kesini,sebab dia pulangpun belum sampai satu minggu. Yana tidak tega untuk memberitau Darmin tentang keadaan papa Lim saat ini. Biarlah nanti dia yang bertanggung jawab menjelaskan pada Darmin kalau dia kembali lagi kesini. Yana menguatkan semangatnya,dan hidup ini pun sememangnya memerlukan semangat yang kuat untuk menghadapi arus deras dan runi ombak kehidupan ini.

Yana memandang wajah papa Lim dengan sayu, begitu juga dengan papa Lim memandang Yana. Wajah mereka berpandangan dan ada garis perjuangan dan penderitaan diretina mata mereka. Bibi pula masih mengerjakan sesuatu didapur untuk keperluan hari ini. Semenjak Yana pindah kontrakanya,papa Lim tinggal dengan Bibi dan suaminya. Papa Lim tidak mau tinggal bersama kami, ' menyusahkan kami berdua ' katanya kepada Bibi. Di dapur Yana mendengar bunyi pinggan dan gelas bertemu diantara satu sama lainya,' bibi sedang mencuci pinggan ' kata Yana dalam hati.

" papa bagaimana keadaanya? " tanya Yana dengan suara perlahan dan semakin dekat dengan tempat tidurnya papa Lim.

Papa Lim hanya menggelengkan kepalanya tanda penyakitnya masih belum sembuh. Memang menurut dokter,penyakit kangker yang menyerang papa Lim ini tidak mempunyai harapan untuk sembuh. Malah ketika Yana mengantar papa Lim ke Rumah sakit,dokter menasehatinya agar membawa papa Lim pulang saja dan menjaganya dirumah.

Papa Lim memberikan senyumanya sekali lagi kepada Yana,senyuman itu sebenarnya memberi banyak makna didalam kehidupan mereka bertiga. Kehidupan Yana,Darmin dan papa Lim sendiri. Senyuman itu tetap tidak berubah,meskipun papa Lim sudah dimamah usia. Papa Lim dengan senyuman itulah menjaga mereka berdua disini,menjaga mereka bagaikan membawa minyak yang penuh. Masih terngiang-ngiang ditelinga Yana sewaktu papa Lim memberi nasehat kepada mereka. Papa Lim akan bernyanyi sambil memberikan nasehatnya buat kami berdua.

Papa Lim bersama senyuman itulah membimbing kami mengenal pencipta kehidupan sebenarnya. Bersama senyuman itu jugalah yang membela mereka ketika mereka terumbang-ambing diarus deras kehidupan ini. Sedangkan masyarakat disekitarnya tidak mau mengambil tau tentang nasib manusia-manusia kerdil seperti mereka. Dunia memejamkan mata! Dunia juga membisu  seribu bahasa! pada nasib manusia kerdil seperti mereka.

" tinggal bersama papa Lim harus baik-baik,tidak mau nakal tau " bisik papa Lim ketika mula-mula mengajak kami tinggal bersamanya.

Itulah perkataan yang masih terngiang-ngiang ditelinga Yana. Waktu itu dia pun tidak mengerti,kenapa dia harus tinggal dan hidup bersama papa Lim,dan Yana juga merasa hidup ini satu paksaan yang harus ditempuhinya bersama Darmin sahabatnya.

Dia masih ingat lagi,makan dan minumnya bersama Darmin, pakaian dan berbagai macam keperluan lainya ditanggung oleh papa Lim. Alangkah besarnya jasa papa Lim terhadap dirinya dan Darmin. Kalau di ibaratkan dengan gunung dan lautan,rasanya masih besar jasa papa Lim terhadap mereka berdua.

Papa Lim lah yang selalu mencarikan mereka pekerjaan,dia perkenalkan kami berdua dengan teman-temanya. Jika temanya ingin membuat sesuatu pekerjaan,papa Lim lah yang selalu menunjukan kepada mereka tentang kami. Ketika mereka menanyakan tentang majikan,papa Lim jugalah yang mengaku menjadi majikan kami.

Tentu terasa aneh bukan,bila kami yang beragama islam tinggal bersama dengan orang yang bukan islam. Bertambah aneh lagi apabila papa Lim sangat prihatin dengan perkembangan agama kami. Dengan rasa tersisih dan kurang bergaaul dengan masyarakat sekitar,pada mulanya kami merasa canggung ketika papa Lim selalu mengajak kami bergaul dengan mereka.

" kamu mesti menunaikan dengan betul agama kalian itu,lagipun islam itu agama yang bagus. kalian bisa menjadi orang baik-baik "

Demikian Yana terkenang tutur kata papa Lim yang sudahpun menjangkau usia tua ketika itu,dan bila nostalgia itu mengusik mindanya dia tersenyum sendirian. Tersenyum karena mereka berdua disuruh selalu bersembahyang dan mengaji,sedangkan papa Lim sendiri menyembah colok yang dibakarnya sendiri. Apabila Yana bertanya kepadanya,mengapa berbuat demikian?

" papa bersembahyang untuk kakek dan nenek papa yang telah lama meninggal dunia "

Mendengar yang demikian Yana pun diam,tapi Darmin yang suka menyela ketika orang lain sedang bicara lalu berkata; " papa masuk islam saja seperti kami,islam bagus papa. nanti boleh masuk surga "

Papa Lim hanya tersenyum dan kemudian tertawa lirih,orang tua itu tidak tau untuk menjawab perkataanya Darmin. Tapi tanganya dengan perlahan mengusap-usap rambut keriting Darmin dengan penuh kasih sayang. Malamnya pula,sambil beristirahat sebelum tidur papa Lim terus dengan nasehat-nasehatnya kepada kami berdua. Hingga mata kami tertidur dengan lena tanpa memperdulikan dunia yang gulita dan kejam disekelilingnya.

Kini kami sudah mulai bisa mandiri,berkat bimbinganya. Darmin sudahpun bisa pulang kekampungnya setelah sekian lama disini terbawa arus kemewahan hidup disini. Bahkan katanya,Darmin mau membangun rumah dikampungnya. Semua itu sudah tentulah hasil bimbingan yang diberikan papa Lim terhadap kami tanpa jemu-jemu. Dan juga dengan ijin Allah jua dia cukup berterima kasih kepada papa Lim yang selama ini telah menunjukan kami agar tidak lari dari tujuan asal.

Tapi hari ini keadaan begitu teruja baginya,setelah penyakit papa Lim kini begitu kritikal,sadarlah dia tidak maunya papa Lim kepada islam adalah karena hidayah dari Allah juga. Tapi dari dulu,dia dan Darmin sendiri tidak pernah berputus asa untuk mengajak papa Lim kepada agama yang suci ini. Tapi papa Lim tetap berdegil,hati papa Lim tetap keras seperti batu. Malah kalau di ibaratkan kerasnya batu,hati papa Lim lebih keras lagi.

Melihat kedegilan papa Lim,mau rasanya marajuk dan mengancam untuk tidak menjenguk orang tua itu selalu. Tapi tidak sampai hati pula berbuat demikian,karena islam bukanlah agama paksaan. Hidayah pula bukan datang dari genggaman tangan manusia,tapi dari Allah jua. Yang ada hanya sepohon do'a dan secebis harapan untuk papa Lim tercinta.

" Yana,papa teringat Darmin dan nasehat-nasehat itu " bisik papa Lim tidak bermaya.

Papa Lim masih tersenyum. Hari-hari yang pernah dilaluinya bersama Darmin begitu jelas dalam ingatanya. Nasehatnya bermain-main semula dalam nostalgianya.

" tapi Darmin baru beberapa hari pulang ke Indonesia papa? " jawab Yana.

" tidak mengapa-tidak mengapa,biarlah dia dengan kegembiraanya bersama keluarganya. lagipun rasanya tidak sempat lagi kami hendak bersama " keluh papa Lim,kemudian dia berkata lagi.

" yana? kamu bacalah ayat-ayat Al-Qur'an yang sering kamu baca dirumah ini dulu. papa sudah lama tidak mendengarnya " bisik papa Lim.

Mendengar permintaan papa Lim yang ganjil itu,Yana menjadi tidak karuan. ' bolehkah orang bukan islam yang sedang nazak dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an ditelinganya? '

" bacalah yana " desak papa Lim lagi

" papa harus mengucap dulu,biar yana ajarkan ya?"  desak Yana dengan seribu harapan walaupun merasa gemetar seluruh tubuhnya. Moga Allah membuka hidayahnya.

" ajarkanlah " balas papa Lim dengan nada menyerah dan sungguh tidak bermaya.

Mendengar permintaan papa Lim itu,Yana benar-benar terkejut. Dan sambil menangis terisak-isak,dia pun membisikan dua kalimat Syahadat itu ditelinganya papa Lim. Dan dengan lancar papa Lim juga mengikuti apa yang diucapkan oleh Yana. Sehinggalah nafasnya benar-benar berhenti dan ketika itu terpisahlah papa Lim dari dunia yang fana ini.

Milihat nafas papa Lim yang sudah pun berhenti,Yana menundukan mukanya ditepi ranjang papa Lim,dia begitu terharu karena papa Lim menghembuskan nafas terahirnya dalam kalimat ' La ilaha illallah '. Kalimat yang menentukan seseorang itu islam atau tidak.

" memang papa Lim sudah memeluk agama islam yan? " tanpa sadar Bibi yang sedari tadi duduk disebelahnya berkata.

" papa Lim islam? bagaimana bibi tau? " tanya Yana dengan rasa keherananya kepada Bibi.

" sudah tiga bulan yang lalu,sertifikat islamnya ada didalam lemari " balas Bibi penuh dengan perasaan.

Yana tidak dapat menahan perasaanya, dia memeluk Bibi sambil menangis gembira dan duka. Dia teringat Darmin sahabatnya yang selalu disayang dengan nasehat-nasehatnya papa Lim,dan Darmin pula harus diberitau segera tentang kematianya papa Lim. Jenasah papa Lim harus dikubur ditanah pekuburan orang-orang islam,Yana membuat keputusan.

By;   Turyana. Sah Alam

Sumber Ilustrasi