Mohon tunggu...
Tsuroyya Rizqi
Tsuroyya Rizqi Mohon Tunggu... Guru - Muslimah

seseorang yang pesimis akan melihat kesempitan dalam kesempatan, tapi seseorang yang optimis akan melihat kesempatan dalam kesempitan

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Corona Tidak Menjadi Alasan Ramadan Tak Sempurna

20 Mei 2020   06:01 Diperbarui: 20 Mei 2020   06:06 371
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto saat melaksanakan sholat terawih bersama | dokpri

Tiada hal yang bergulir sangat cepat selain waktu, rasanya baru kemarin merayakan hari kemenangan, kini sudah berjumpa lagi dengan bulan ramadhan, rasanya baru kemarin menyambut ramadhan, tak terasa kini sudah berada di sepuluh hari terakhir bulan yang dimuliakan, bahkan tinggal menghitung hari saja bulan yang sangat diistimewakan, bulan penuh dengan limpahan ampunan dan selalu didambakan umat Islam diseluruh penjuru dunia tak terkecuali muslim Indonesia ini akan segera pergi.

Ramadhan kali ini memang sedikit berbeda dengan biasanya. Dimana kita menjalaninya ditengah-tengah pandemi wabah yang tak kunjung reda. Iya, tak terasa hampir 3 bulan sudah corona singgah di Indonesia.
Sedih ?
T

entu. Kita (umat Muslim) pasti merasa sedih sebab tidak bisa menjalankan ibadah juga kegiatan euforia bulan ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang mana kegiatan-kegiatan bulan ramadhan selalu mengundang rindu bagi kita.

Bagaimana tak berbeda ? Yang biasanya menjelang pagi terdengar suara semangat warga berpatrol dengan alat musik seadanya sebagai isyarat menunjukkan waktu sahur telah tiba. Bahkan tak sedikit pula yang melaksanakan sahur dan berbuka bersama bergerombolan alias on the road. 

Masjid dan mushollah padat sebab usai berbuka semua berbondong-bondong pergi dengan ramai dan gembira untuk melaksanakan sholat tarawih. Usai terawih dilaksanakan ibu-ibu sempoyongan membawa makanan dalam nampan untuk teman tadarusan sudah tidak kita jumpa, juga tak ada lagi suara-suara kembang api bahkan petasan yang khas dimainkan untuk meramaikan bulan ramadhan. Sangat sunyi, semua aktivitas bahkan perihal ibadah dianjurkan untuk dikerjakan dirumah saja.

Namun demikian tidak berarti bahwa keistimewaan bulan ramadhan ini tidak ada. Juga bukanlah sebuah hambatan untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, apalagi jika menjadikan keadaan ini sebagai alasan untuk menyia-nyiakan sedetikpun waktu yang begitu diagungkan.
sebab, bukan hanya hal itu esensi dari bulan ramadhan. Segala hal yang diberhentikan sementara, dialihkan ataupun ditiadakan sementara bukan berarti tidak diperbolehkan melakukannya.

Bulan ramadhan adalah bulan dimana umat muslim melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh tanpa jeda. Dimana akan dilipatgandakan semua amal baik yang dilakukan, akan diijabah seluruh doa yang dipanjatkan, akan diterima seluruh taubat yang diikrarkan serta barang siapa menjalankan ibadah ini dengan bersungguh-sungguh.

Maka niscaya ia akan memperoleh kemenangan dihari yang fitri, ia akan kembali suci bersih layaknya seorang bayi yang baru dilahirkan dari rahim seorang ibu. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk meperbaiki diri, untuk lebih mendekatkan pribadi kepada sang Ilahi.

Seperti yang dijelaskan oleh Kyai Anwar Zahid dalam ceramahnya "Kalau ramadhan tidak mampu membuat kita lebih baik dalam beribadah dan pengabdian mungkin hanya kematian yang akan membuat kita menyesal karena telah meninggalkan ibadah dan pengabdian". Kalimat nasihat ini mengandung makna bahwa sungguh sangatlah merugi orang-orang yang melewatkan bulan ramadhan dengan sia-sia sebab ramadhan yang akan tiba belum tentu kita berjumpa.

Lalu apa hikmah dibalik pandemi ini ? Apa hikmah dibalik anjuran beribadah dirumah saja ditengah-tengah wabah ini ?
Segala hal yang ditakdirkan oleh Sang kuasa tentu memiliki sebuah hikmah bahkan jika itu sebuah musibah. Hikmah adanya wabah ini tidak hanya menyadarkan kepada manusia akan pentingnya hidup bersih dan menjaga segala hal yang akan dikonsumsi. Melainkan menyadarkan kita umat manusia untuk kembali menjalankan tugas utama kita diciptakan didunua ini, yakni "Li Ya'buduun". 

Iya kita para manusia dan jin semata-semata diciptakan hanya untuk menyembah dan beribadah kepada Allah Maha Kuasa seperti yang difirmankanNya. Adanya pandemi ini menjadikan kita sadar bahwa selama ini tentu masih banyak dari kita yang mengabaikanNya. lebih mementingkan urusan dunia hingga lupa mengabdi padaNya bahkan itu ditengah-tengah bulan yang mulia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun