Mohon tunggu...
Triyono Abdul Gani
Triyono Abdul Gani Mohon Tunggu...

Deadly combination dari Jawa dan Sunda

Selanjutnya

Tutup

Film

Nilai Nasionalisme yang Dapat Dipetik dari Film Black Panther

13 Agustus 2018   15:58 Diperbarui: 21 Agustus 2018   11:20 0 0 0 Mohon Tunggu...

Liburan lebaran kali ini cukup panjang. Perlu dicarikan kegiatan untuk mengisi waktu luang. Berhubung suasana yang hingar bingar dan jauh dari keseriusan, maka kegiatan mengisi waktu pun harus yang bersifat santai. Salah satunya adalah menonton film box office yang belum sempat ditonton. Baik itu film Indonesia maupun bikinan Hollywood. 

Salah satu film yang belum sempat ditonton adalah Black Panther. Film bikinan Marvel Studios ini disutradarai oleh Ryan Coogler dan dibintangi oleh Chadwick Boseman yang berperan sebagai T'Challa seorang putra mahkota yang naik tahta sebagai raja Wakanda dan mewarisi sebagai Black Panther. 

Dalam hal prestasi, film Black Panther ini cukup sukses. Sebagai nominator film terbaik pada BET awards 2018, Black Panther telah meraup pendapatan lebih dari USD 1,3 miliar. Kelihatannya kerjasama Marvel Studios dan Disney Pictures ini memang masuk menjadi salah satu box office. 

Film ini cukup berhasil mengubah citra negara Afrika yang memiliki kesan terbelakang, menjadi negara yang supermodern dengan teknologi yang sangat maju. Bahkan Wakanda lebih maju daripada negara Barat sekalipun. 

Rahasia kesuksesan Wakanda adalah karena mereka memiliki vibranium. Namun Wakanda menutup diri dari dunia luar. Mereka menjaga vibranium itu dari dunia luar, walaupun akhirnya dijual oleh N'jobu untuk membuat senjata yang super ampuh. Upaya ini bisa digagalkan oleh T'Chaka, ayah dari T'Challa. 

Selain itu, sang Black Panther juga memiliki kekuatan super setelah minum ramuan berbentuk hati. Kemudian pada saat Killmonger merebut kekuasaan T'Challa, ramuan hati ini dimusnahkan semua agar tidak ada yang bisa mengalahkan dia. Namun Nakia sempat menyelamatkan satu ramuan itu yang kemudian diminumkan ke T'Challa yang sempat koma karena dikalahkan oleh Killmonger. 

Di balik cerita seru ini, yang lebih seru apabila menonton film nya secara langsung, ada hal menarik yang agak menunjukkan ke-Indonesia-an film ini. Mungkin ini hanya kebetulan saja. Tapi unik dan menarik. 

Pertama adalah baju yang dikenakan oleh T'Challa memiliki model yang mirip baju koko. Tidak heran, pada Idul Fitri 1439 H baju koko model Black Panther ini sangat laris. 

Di pasar-pasar dan mall-mall ramai orang menjual dan membeli baju koko model Black Panther. Secara tidak sengaja, film Black Panther ini juga memberikan kesempatan bisnis bagi pengusaha garmen Indonesia, khususnya penjual baju koko. 

Fenomena menarik ini tidak luput dari perhatian luar negeri. Misalnya situs berita Malaysia, yaitu The Star, juga memuat berita bahwa baju Black Panther menjadi trend di Indonesia. Baju koko Black Panther memang keren. 

Kedua, ada pelajaran yang menarik bahwa penguasa itu tidak hanya harus sangat kuat, tetapi harus memiliki kebijaksanaan yang baik. Hal ini ditunjukkan ketika Killmonger merebut tahta kerajaan Wakanda dari T'Challa. 

Di atas kertas, Killmonger itu sangat ahli dalam bertempur karena dilatih oleh tentara Amerika. Namun, dengan ambisi penguasaan dan pembinasaan, dia tidak pantas memegang tampuk pimpinan dan menjadi seorang Black Panther. 

Ketiga adalah kata-kata dalam pidato T'Challa di depan sidang PBB. Kalimat yang diucapkan adalah "in times of crisis, the wise build bridges, while the foolish build barriers". 

Kalimat ini memiliki makna sangat dalam. Paling tidak ada beberapa contoh yang bisa kita lihat:

  1. Dalam kehidupan kenegaraan Indonesia, para pendahulu kita sangat menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Padahal perpolitikan saat ini, sangat mengedepankan fitnah dan perpecahan. Dengan adanya pengotakan ini maka negara kita akan menjadi rapuh dan tidak bisa berkembang optimal. 
  2. Dalam pembangunan di Indonesia saat ini, pemerintah banyak membangun dan memperlancar konektivitas. Hal ini baik sekali untuk memperkuat persatuan dan kesatuan, sekaligus memperkuat perekonomian. Banyak teori yang bisa menjelaskan hal ini. Dengan distribusi logistik yang lancar, inflasi akan semakin rendah, ekonomi bergerak tanpa beban sehingga bisa lebih lancar, pendapatan dan kesejahteraan masyarakat akan lebih meningkat, dan seterusnya.
  3. Dalam kehidupan organisasi juga seperti itu. Memperkuat ikatan ke dalam sangatlah penting. Pembuatan barriers, hanya akan mempersulit kerjasama dan pada akhirnya memperlemah organisasi. Oleh karena itu, banyak program dilakukan di kantor untuk mempererat ikatan ke dalam organisasi. Sekat dan penghalang haruslah diminimalkan, sehingga bersifat seamless. Pemimpin yang sukses adalah yang mampu membangun jembatan di organisasi, bukan membangun sekat.

Tulisan ini mungkin memberikan kesan "pemaksaan" atau istilah bahasa Jawanya "othak athik gathuk". Semoga tidak menurunkan arti dan nilai filosofis yang memang terkandung di dalamnya. Analisis dan pemikiran sederhana di tengah liburan panjang rasanya cukup untuk mengisi waktu secara produktif. 

Wakanda forever! NKRI harga mati! Mirip juga. 

(Try)