Mohon tunggu...
Severus Trianto
Severus Trianto Mohon Tunggu...

mengembalikan kata pada dunia

Selanjutnya

Tutup

Media

Vonis Atas Ahok di Mata Beberapa Media Asing

9 Mei 2017   14:09 Diperbarui: 9 Mei 2017   14:27 0 2 0 Mohon Tunggu...

Bunyi ketokan palu PN Jakarta Utara yang mensahkan putusan bersalah atas Ahok dalam sidang perkara penistaan agama, bergema tidak saja ke seantero nusantara tapi sampai ke mancanegara. Terlalu lebay untuk mengatakan dunia dikejutkan oleh keputusan itu. Yang pasti, beberapa media internasional tidak mampu menahan diri untuk menafsirkan ulang wajah toleran kehidupan beragama di Indonesia dan menghubungkannya dengan pesta demokrasi DKI yang dianggap ternodai secara massif dan sistematis oleh perkara SARA.

The Straits Times Singapore misalnya, mengingatkan bagaimana putusan bersalah tadi dijatuhkan lebih kurang sebulan setelah kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI kemarin. The Straits Times menegaskan pula bahwa putusan ini jauh lebih berat dari tuntutan jaksa. Di akhir berita yang menempati posisi top stories ini terungkap juga wawancara dengan beberapa pendukung Ahok. "Dua tahun itu terlalu lama... hal ini sungguh tidak dapat dipercaya," ujar seorang pegawai bank yang datang di depan gedung Kementerian Pertanian untuk mendukung Ahok. 

Sepertid The Straits Times, kantor berita Aljazeera yang berpusat di Doha, Qatar, menempatkan putusan sidang ini sebagai berita utamanya, di atas berita tentang Pemilihan Presiden Korea Selatan dan berta tentang kemenangan Macron dalam Pemilihan Presiden Perancis. Dalam situs beritanya, Aljazeera lebih tegas lagi menekankan dampak putusan ini bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. "... tidak dapat dibayangkan betapa mudahnya nanti menjatuhkan tuduhan penistaan agama atas mereka yang dianggap lawan, khususnya atas diri mereka yang dianggap kaum minoritas," ungkap pewarta Aljazeera, Step Vaessen, di Jakarta. 

Sementara itu, Time International meletakkan berita dari PN Jakarta Utara sebagai breaking news.

Situs berita CNN tidak kalah tegas. Ia mengutip pernyataan seorang pengamat politik Indonesia asal Australlia, Greg Fealy yang mengatakan, "...hukum penistaan agama telah menjadi suatu kutukan bagi demokrasi di Indonesia selama puluhan tahun... kenyataan bahwa Ahok menjadi terdakwa dan diputuskan bersalah merupakan buah dari demonstrasi besar-besaran yang menteror pemerintahan." 

Lebih jauh, Fealy mengatakan bahwa, ".... Ahok adalah kasus khusus... putusan ini merupakan tamparan bagi toleransi beragama di Indonesia." Di akhir artikelnya, CNN mengutip komentar The Jakarta Post atas Pilkada DKI kali lalu yang secara gamblang diwarnai oleh kampanya " yang paling kotor dan memecah belah."

Dan terakhir, situs berita BBC tidak mau kalah dalam memberitakan putusan PN Jakarta Utara atas Ahok. Lebih dari situs-situs berita lainnya, BBC tanpa ragu-ragu menyampaikan tafsirannya atas pilkada DKI kali lalu. Diungkapkan bahwa kesuksesan politik Ahok merupakan perkembangan yang sangat berarti bagi Indonesia setelah huru-hara 1998 ketika banyak warga Indonesia "keturunan" Tionghoa menjadi korban. 

Sebelum tuduhan dan penetapan terdakwa atas kasus penistaan agama, Ahok merupakan politikus yang diterima banyak pihak karena kelugasan dan sikap anti-korupsinya. Akan tetapi, dakwaan kontroversial menjatuhkan popularitasnya. Dengan kata lain, BBC mengakui kalau pesta demokrasi DKI kali lalu terciderai oleh masalah SARA.

Apa yang bisa ditarik dari mozaik breaking news yang diwartakan situs-situs berita mancanegara atas kasus Ahok ini? Sekilas, kita melihat bahwa dunia luar ternyata punya harapan pada Indonesia untuk menjadi duta toleransi bagi dunia. Namun, harapan itu harus dihadapkan pada putusan PN Jakarta Utara. Bukan putusannya itu sendiri tetapi keseluruhan proses mulai dari tuduhan sampai putusannya itu yang dipertanyakan. Oleh karena itu, situs-situs berita internasional itu pun bertanya, apakah mereka harus menyesuaikan pengandaian Indonesia negeri toleran dengan kenyataan yang tidak sesuai harapan?

Sebuah pertanyaan yang berlaku untuk kita juga..... saya rasa.

Bumi Batavia, 9 Mei 2017

KONTEN MENARIK LAINNYA
x