Mohon tunggu...
Trian Ferianto
Trian Ferianto Mohon Tunggu... Blogger

Menulis untuk Bahagia. Penikmat buku, kopi, dan kehidupan. Senang hidup nomaden: saat ini sudah tinggal di 7 kota, merapah di 5 negara. Running my blog at pinterim.com

Selanjutnya

Tutup

Finansial Pilihan

Saya dan Ibu Butuh Prima

24 Juli 2019   11:29 Diperbarui: 24 Juli 2019   15:20 76 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saya dan Ibu Butuh Prima
Ibu Saya Menggendong Cucunya| Dokpri

Bapak saya meninggal saat saya baru menjalani hari ke-4 perkuliahan saya di Tangerang Selatan. Padahal enam hari sebelumnya, saya baru berpamitan dengan beliau di rumah kami di Pasuruan, 800 kilometer lebih jaraknya dari tempat saya kala menerima berita sedih tersebut. Memang bapak sudah beberapa tahun mengalami gangguan kesehatannya kala itu.

Sejak saat itu, kebutuhan biaya terkait pendidikan dan kehidupan saya di perantauan ditanggung oleh kakak saya seorang, sebab ibu tidak pernah meninggalkan profesi kebanggaannya sebagai ibu rumah tangga sejak awal pernikahannya dan bapak tidak meninggalkan uang pension sama sekali. Kakaklah tulang pungguh kami sekeluarga.

Saya masih teringat, sebelum berangkat kuliah di perantauan jauh, saya diantarkan ke bank untuk pertama kalinya dalam rangka membuat rekening. Dipilihkan Bank yang sama dengan yang dimiliki kakak saya.

"Biar nanti mudah kirim uangnya," kata kakak saya.

Saya yang baru lulus SMA dan baru akan hidup jauh dari keluarga, mengiyakan saja saran tersebut.

Tiga tahun saya menjalani perkuliahan di salah satu kampus kedinasan, tiap bulan kakak saya tidak lupa mengirimi biaya hidup saya untuk kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillah, untungnya kebutuhan biaya Pendidikan saya cukup diringankan karena kami tidak perlu membayar biaya perkuliahan karena sudah ditanggung oleh negara melalui beasiswa penuh yang saya terima. Paling cuma kebutuhan fotokopi dan alat tulis sewajarnya.

Kini saya sudah menyelesaikan pendidikan. Tidak perlu mencari-cari pekerjaan, saya langsung mendapatkan posisi sebagai seorang Aparatur Negeri Sipil dengan jabatan Auditor. Sebuah profesi yang sangat diinginkan oleh ibu saya agar dimiliki anak-anaknya. Maklum, wawasan bapak ibu yang hanya lulusan SMP tidaklah terlalu luas.

Profesi paling prestisius dan bergengsi buat mereka adalah jadi PNS (sebutan sebelum diganti menjadi ASN). Sebab, yang bagi beliau berdua sudah tidak mungkin lagi menjadi PNS, maka keinginan itu diimpikan mampir pada anak-anaknya melalui doa setiap malamnya. 

Dan kini terbukti, dua dari tiga anaknya benar-benar menjadi ASN melalui jalan tanpa perlu mengotori tangan dengan suap-menyuap.

Sedetik sejak diangkatnya saya jadi Calon ASN, saya menyadari kebutuhan biaya hidup Ibu di desa, mampir juga di pundak saya. Sebab selepas saya lulus kuliah, Kakak saya menikah dan harus menghidupi juga keluarga kecilnya. Tidak elok rasanya jika kakak saya seorang yang 'memikul' baktinya pada Ibu.

Penempatan pertama saya saat itu adalah di Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Suatu pulau yang tidak besar dan terpisah dari daratan Sumatera. Tidak pernah saya terpikir akan hidup di sana kala itu.

Saya pulang bertemu ibu saya hanya setahun sekali saat lebaran. Selebihnya, kami hanya bisa berkirim kabar melalui telepon. Untuk kebutuhan mengirimkan uang bulanan untuk Ibu di desa, saya mengandalkan transfer uang melalui ATM. 

Untungnya saat itu Jaringan ATM PRIMA sudah hadir di hampir seluruh wilayah Indonesia. Jadi saya dengan mudah mengirimkan uang bulanan untuk Ibu yang saya sisihkan dari gaji bulanan saya.

Saya teringat bagaimana susahnya Bapak dulu mengirimkan uang ke Kakak saya di perantauannya saat pendidikan. Pernah saya diajak ke kantor pos untuk mengirim uang melalui wesel, yang uangnya akan diterima beberapa hari kemudian. Untung saya tidak harus mengalami masa-masa itu. 

Dengan layanan ATM Prima yang tersebar dibanyak tempat, transferan saya ke Ibu di desa yang jaraknya 1.500 kilometer dari tempat saya tinggal terasa mudah dan realtime langsung diterima saat itu juga. Saya tinggal mengabari Ibu melalui SMS dan Ibu dapat mengambilnya langsung dari ATM terdekat.

Sekarang saya memiliki lebih dari dua rekening Bank yang berbada, sedangkan Ibu di desa cukup satu rekening saja yang ATMnya nangkring dekat dengan rumah beliau. Rekening saya memang banyak, tapi kadang tidak semuanya terisi. Dulu mungkin saya harus memindahkan ke rekening yang sama dengan ibu saya terlebih dahulu sebelum mentransfernya, tapi dengan Jaringan ATM Prima, transfer antarbank pun bisa dilakukan kapanpun dan langsung sampai! Easy Way Prima.

Kini saya sudah pindah lagi penempatan tugas di Bengkulu. Tetap jauh dari rumah ibu saya. Tetap harus menyeberang pulau untuk sampai. Namun hubungan kami tetap terjalin baik dengan komunikasi rutin melalui video call.

Di video call terakhir kami kemarin, Ibu saya mengabarkan bahwa rumahnya di desa yang selama ini belum bersertipikat, hendak mau diuruskan dokumen legalitasnya. Efek perluasan wilayah kota membuat daerah pinggiran seperti rumah Ibu saya menjadi urgen memiliki legalitas yang baik. Maka kebutuhan dokumen legal menjadi perlu jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

"Le, Ibu mau mensertipikatkan rumah di sini, kebetulan ada barengannya dengan tetangga-tetangga sebelah 7 orang, jadi Ibu bisa nitip-nitip menguruskan agar lebih mudah. Tapi biayanya sekian juta. Tapi perlu cepat karena lusa Pak Wahyu mau mulai ngurusnya."

Kalau dulu jaman wesel mungkin Ibu harus menunggu berhari-hari agar uangnya sampai, namun sekarang #mudahpakaiPrima

"Bu, sudah saya transfer nggih. Semoga cukup."

VIDEO PILIHAN