Mohon tunggu...
Tony Mardianto
Tony Mardianto Mohon Tunggu... -

.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Manisnya Hubungan Bung Karno dan Kompas

24 November 2009   21:03 Diperbarui: 26 Juni 2015   19:12 719
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pemerintahan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

"Tangan sejuk Tuhan" saya rasakan sangat berperan dalam penulisan figur Bung Karno kali ini. Tak sedikitpun terlintas dalam fikiran saya bila forum Kompasiana tempat saya mangkal yang notabene memiliki ikatan rahim yang kuat dengan harian Kompas juga memiliki alur sejarah yang begitu dekat dengan Putera Sang Fajar. Bung Karno.

Semua ini bermula dari rasa kerinduan saya untuk menikmati hidangan nasi pecel di pinggiran jalan Karimata kota Jember, tempat saya dulu kost pada tahun 1987 dengan harga Rp 150 perpiring pada saat itu. Saya ingin bernostalgia dengan pemilik warung yang saya yakin sudah melupakan wajah saya.

Warung itu ternyata masih tetap seperti dulu, dindingnya terbuat dari bambu dan kelihatan sangat rapuh, bahkan jauh dari kesan rapi dan sehat. Tapi disanalah saya menghabiskan waktu hampir 4 tahun. Kunjungan nostalgia saya membuahkan dua kejutan, pertama bapak pemilik warung yang biasa melayani para mahasiswa sarapan pagi ternyata sudah meninggal, kejutan kedua saya bertemu dengan seorang sahabat yang sudah terpisah selama 18 tahun, ternyata dia sekarang berprofesi sebagai wartawan sebuah harian terkemuka. Diantara kami sepertinya ada kontak batin, sama-sama ingin menikmati hidangan nostalgia.

Dalam perbincangan santai sahabat saya menceritakan betapa bangganya saat memiliki kesempatan mewancarai Jurnalis senior harian Kompas. Bapak Jakob Oetama. Dan berawal dari penuturannyalah tulisan ini mengalir.

Adalah dua nama: Jakob Oetama dan Petrus Kanisius (PK) Ojong, dua dedengkot pendiri Harian Kompas yang dikenal masyarakat. Dan tahukah Anda, di antara dua nama itu, Bung Karno konon lebih suka kepada Jakob Oetama. Karenanya, saat Harian Kompas terbit, Jakob-lah yang memegang kemudi redaksi. Sementara, PK Ojong berkutat di bagian tata usaha.

Sambung kisah antara Kompas dan Bung Karno, sejatinya memang cukup erat. Sebab, nama "Kompas" itu sendiri adalah nama pemberian Bung Karno. Tentu saja, kisahnya tidak sesederhana itu. Bermula dari suatu kurun bernama tahun 1964, ketika Bung Karno meminta agar Partai Katolik membuat suratkabar. Perintah Bung Karno, langsung ditanggapi positif. Sejumlah tokoh Katolik seperti Frans Xaverius Seda, PK Ojong, Jakob Oetama, R.G. Doeriat, Policarpus Swantoro, dan R. Soekarsono mengadakan pertemuan dengan Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI), Partai Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pemuda Katolik dan Perempuan Katolik. Pertemuan ini menyepakati pembantukan Yayasan Bentara Rakyat.

Yayasan itu diketuai Ignatius Joseph Kasimo (Ketua Partai Katolik), wakil ketua Frans Seda (Menteri Perkebunan Kabinet Sukarno), penulis I, F.C. Palaunsuka, penulis II, Jakob Oetama, dan bendahara PK Ojong. Dari yayasan inilah kemudian lahir harian Kompas.

Dalam sebuah keterangan, Frans Seda pernah mengatakan ihwal pesan Jenderal Ahmad Yani, agar harian Kompas dapat menandingi wacana yang dikembangkan PKI. Masih menurut Frans Seda, PKI tahu ihwal Kompas yang berpotensi menandingi PKI, maka dilakukanlah usaha penghadangan dan penggagalan penerbitan koran ini. Namun, karena Bung Karno sudah memberi izin, maka praktis upaya PKI sia-sia.

Setelah ada izin Bung Karno, yayasan Bentara Rakyat tidak segera bisa menerbitkan koran dimaksud. Sebab, ia harus pula mengantongi izin dari Panglima Militer Jakarta, yang waktu itu dijabat Letnan Kolonel Dachja. Sang Letnan Kolonel memberi syarat, izin keluar kalau Yayasan Bentara Rakyat mampu mendapatkan sedikitnya 5.000 tanda tangan warga sebagai pelanggan. Frans Seda mengutus para wartawan pergi ke NTT, sehingga syarat itu dengan mudah bisa dipenuhi.

Setelah semua siap, kembali Frans Seda melapor kepada Bung Karno. Kedudukannya sebagai menteri ketika itu, memang memungkinkan setiap saat bisa menjumpai Bung Karno. Saat bertemu, Frans Seda melaporkan kesiapan Yayasan Bentara Rakyat menerbitkan koran Katolik, seperti diminta Bung Karno.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun