Mohon tunggu...
b
b Mohon Tunggu... Kompasianer

Terimakasih untuk teman2 yang sudah vote dan berkomentar di artikel saya

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Singkirkan Poyuono Pilih Fadli Zon, Representasi Gerindra Mengkhianati Jokowi

19 September 2020   16:55 Diperbarui: 19 September 2020   17:02 354 10 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Singkirkan Poyuono Pilih Fadli Zon, Representasi Gerindra Mengkhianati Jokowi
Sumber gambar pojoksatu.id

Singkirkan Poyuono Pilih Fadli Zon, Gerindra Mengkhianati Jokowi

Pemberitaan tentang Gerindra tengah ramai belakangan ini. Pasalnya Prabowo yang secara mutlak dipercaya untuk menjadi ketua umum Partai Gerindra akan segera mengumumkan kepengurusan barunya.

Sekalipun pengumumannya direncanakan besok, tapi bocoran tentang siapa yang akan mengisi kursi kepengurusan partai Gerindra sudah tersebar di media.

Yang cukup ramai dibahas adalah tidak masuknya nama Arief Poyuono dalam 12 waketum Gerindra pada periode ini. Padahal sebelumnya Poyuono adalah waketum bidang ketenaga kerjaan partai Gerindra dan terlibat aktif dalam perdebatan publik untuk membela Prabowo dari serangan Lawan.

Isu yang beredar posis Poyuono akan digantikan oleh Habiburokhman, sahabat lamanya sendiri.

Mengetahui namanya tidak masuk dalam kepengurusan Gerindra, dikabarkan menjadi alasan Poyuono bermanuver menyerang Prabowo. Poyuono menyenggol sang Ketum Prabowo Subianto soal isu pelanggaran HAM masa lalu.

Menurut Poyuono, isu pelanggaran HAM masa lalu jadi faktor yang membuat Prabowo gagal dalam dua kali pertarungan pilpres.

Maka Poyuono meminta Pihak kepolisian untuk mengusut kasus tersebut untuk memastikan Prabowo terlibat atau tidak. Sehingga kelak isu HAM tidak lagi dapat digunakan untuk menjegal Prabowo dalam pemilihan Presiden.

Pihak Gerindra pun merespon dengan tidak senang ucapan Poyuono. Habiburokhman rekan Poyuono sekaligus anggota DPR RI komisi III itu mengecam Poyuono sebagai orang yang tidak mengerti hukum.

Disisi lain Fadli Zon malah dipastikan tetap mengisi posisi waketum. Padahal Fadli Zon terus merongrong kekuasaan Jokowi melalui kritiknya yang tidak komprehensif.

Hal ini aneh mengingat Gerindra adalah koalisi pemerintah, dan ketua umumnya, yaitu Prabowo sudah jadi bawahan Presiden.

Maka posisi Gerindra jadi abu-abu karena membiarkan sosok yang tidak sejalan dengan pemerintahan mengisi posisi penting di partainya. Minimal harusnya Fadli didemosi menjadi kader biasa. Sehingga suaranya tidak perlu lagi diperhitungkan.

Bandingkan dengan Poyuono yang getol membela Rezim saat ini tapi malah disingkirkan. Artinya selama ini suara Fadli Zon lah yang menjadi representasi Gerindra. Maka sampai disini bisa disimpulkan bahwa Gerindra (Bersama Nasdem, tapi akan saya bahas lain kali) adalah partai yang mengkhianati Jokowi.

Sebab, Gerindra sejatinya percaya diri bahwa merekalah yang harusnya menguasai pemerintahan. Hal itu dibuktikan dengan tidak terimanya Gerindra dengan hasil pemilihan Presiden tahun 2019 lalu. Demikian juga dengan banyak pendukungnya.

Maka terlibatnya Gerindra dalam pemerintahan hanyalah agenda politik jangka panjang untuk kepentingan mereka sendiri.

Hal itu dibuktikan dengan lemahnya Prabowo dalam menanggapi isu teritorial, seperti yang terjadi di Natuna dimana China mengklaim perairan itu adalah miliknya.Saya tidak melihat Prabowo yang garang dan siap mencabik-cabik asing seperti saat kampanye dulu.

Dimanakah amarah Prabowo ? Dimanakah amarahmu pak Menhan ? Apakah Prabowo sungguh-sungguh menghayati posisinya? Apakah Menteri Pertahanan hanyalah posisi politik yang dia isi dengan tujuan memenangkan pilpres di tahun 2024?

Jika begitu sikap Prabowo dan Gerindra, maka itu hanyalah rongrongan dari dalam untuk pemerintahan Jokowi.Maka tidak berlebihan jika kita menganggap sikap Gerindra sebagai sebuah pengkhianatan.

Hal itu jugalah yang tergambarkan dari disingkirkannya Poyuono dan tetap ditunjuknya Fadli Zon sebagai Waketum Gerindra.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x