TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI profesional

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight headline

Mengapa 'Kisah Pengangguran Berlabel Sarjana' Terus Terulang Setiap Tahun?

17 Februari 2017   07:32 Diperbarui: 18 Februari 2017   19:27 1479 40 30
Mengapa 'Kisah Pengangguran Berlabel Sarjana' Terus Terulang Setiap Tahun?
Ilustrasi. Dokumentasi Pribadi

Setiap tahun kisah menyedihkan dengan tema lagu yang sama terus diulangi lagi dan lagi. Judul lagu adalah "Penganggur Berlabel Sarjana". Bahkan ada lirik lagunya yang bernada sinis dan mungkin menyakitkan, tapi orang tidak peduli, yakni "Begitu Toga dilepas, maka jumlah pengganguran bertambah lagi".

Berapa juta sih sesungguhnya penganggur yang di dahinya ada label "Sarjana?" Sungguh saya tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu karena akan semakin membuat galau dan risih walaupun yang menganggur itu bukan anak cucu kita. Tapi mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia. Pokoknya jutaan jumlahnya!

Kisah Basi

Dari tahun ketahun, kisah basi terus diulangi, yakni mengapa banyak sarjana yang menganggur? Mengapa mereka menganggur? Tapi hanya merupakan nyanyian galau yang tidak pernah mendapatkan solusinya. Maka setiap tahun lagu "Lepas toga, tambah pengangguran" terus berulang bagaikan memutar ulang kaset atau CD rusak.

Alasan mengapa hingga jutaan sarjana menganggur, sementara yang tamat SMA bahkan yang cuma SMP dan SD saja bisa dapat kerjaan? Jawabannya pasti semua orang sudah tahu, yakni:

  • Milih-milih pekerjaan sesuai dengan spesifikasi
  • Tidak memiliki keterampilan secara nyata, hanya mengandalkan selembar kertas
  • Gengsi gengsian, tidak mau melakukan pekerjaan kasar
  • Mental pencari pekerjaan
  • Tidak terpikir untuk menciptakan lapangan pekerjaan
  • Tidak kerja? No problem, hidup dibiayai orang tua

Menjadi Pengusaha Tidak Musti Modal Ratusan Juta

Rata-rata bila bertemu dengan Sarjana pengganguran ini dan menyarankan agar mereka membangun usaha sendiri dan menjadi pengusaha, selalu dijawab dengan ketawa. Seakan saran yang diberikan hanyalah sekedar humor murahan. Pengusaha? Hehehe dari mana dapat modal ratusan juta rupiah, Om?" Begitu kira kira jawaban yang disertai dengan ketawa renyah.

Cuplikan Pembicaraan dengan Pengusaha Cuci Mobil

Cuplikan pembicaraan singkat saya dengan pengusaha cuci mobil di Kemayoran.

Suatu hari, menengok ada yang papan bertuliskan "cuci mobil 30 Ribu", maka saya menghentikan kendaraan dan memarkirnya di pinggir jalan. Kemudian saya dan istri turun dari kendaraan. Dipersilakan duduk di bangku kayu seadanya. "Cuci Om?" tanya seorang pemuda yang mengenakan kaus oblong kepada saya. "Ya dik" jawab saya.

Maka tanpa membuang waktu lagi, dengan cekatan ia memanggil 2 lagi temannya secara gotong royong mencuci kendaraan saya. Kelihatan sudah ada pembagian tugas di antara mereka masing-masing. Karena tanpa ada yang memerintah ini dan itu, tampak ada yang khusus mencuci bagian roda, yang satu lagi body kendaraan dan yang seorang lagi membersihkan bagian dalam kendaraan.

Sementara tangan-tangannya sibuk menyabuni dan membersihkan mobil, si pemuda memperkenalkan diri tanpa diminta. “Kami ini merantau Om dari Medan.” Tadinya tujuan mau kerja kantoran, tapi ternyata ijazah Sarjana Hukum saya tidak laku di sini hehehe,” katanya sambil ketawa lepas. "Mau pulang kampung? Ah, malu-maluin orang tua. Karena akan jadi bahan gosip di kampung saya. Si Ucok katanya studi di Jakarta, eh pulangnya nganggur, bah!".

 “Tapi alhamdulilah Om. Tadinya saya kerja sama orang nyuci mobil, tapi sekarang sudah mandiri dan malah bisa rekrut teman-teman sekampung, dari pada mereka jadi pengangguran di sini. Ada 6 orang anak buah saya. Oya, saya biasa dipanggil "Ucok", Om,” katanya dalam logat Batak yang kental "Sudah dua tahun saya usaha ini dan alhamdulilah kredit motor sudah lunas, Om."

"Memang banyak teman yang mengejek aku, 'Hai Cok, jauh-jauh kau merantau, cuma jadi tukang cuci mobil?' Tapi saya tidak malu, Om. Bagi saya ini adalah landasan untuk dapat usaha yang lebih baik, yang penting halal ya, Om."

Saya salut banget pada si Ucok dan teman temannya yang punya harga diri dan tidak mau menjadi beban bagi orang tuanya di kampung.

Alasan Lain Mengapa Jadi Pengangguran juga Ok?

Salah satu alasan mengapa di Indonesia sarjana jadi penganggur juga ok? Karena tanpa harus kerja atau dengan alasan belum ada lowongan kerja, mereka tetap dapat hidup ongkang-ongkangan di rumah orang tua, karena seluruh biaya hidup masih ditanggung orang tua. Bahkan pacaran pun dibiayai orang tua.

Sekilas Gambaran di Australia

Tanpa bermaksud melecehkan anak-anak dari negeri sendiri, mungkin ada baiknya kita simak mengapa di Australia sangat minim sarjana yang menggangur? Karena sejak dari SMP dan anak-anak di sini sudah dibiasakan kerja paruh waktu, walaupun gaji cuma 8 -12 dolar per jam, tapi setidaknya sudah merupakan langkah mempersiapkan mereka. Kerja paruh waktu di Mc Donalds atau KFC, maupun di toko roti atau di restoran.

Ketika mahasiswa, gaji mereka sudah meningkat menjadi 15-20 dolar per jam. Jadi sejak dari SMA, anak-anak di sini sudah tidak minta uang jajan lagi pada orang tua karena mereka sudah memiliki uang sendiri. Apalagi kalau mahasiswa, seperti cucu-cucu kami, sehari minimal penghasilannya 60 dollar. Jadi pacaran tidak pernah minta uang orang tua.

Belum Sarjana Sudah Kerja

Belum sarjana rata-rata mereka sudah bekerja. Jadi tidak ada istilah "lepas toga tambah pengangguran," karena mereka sudah punya pekerjaan. Setelah selesai sarjana, sementara menunggu lowongan sesuai spesifikasi, mereka tetap bekerja di tempat sebelumnya. Misalnya di Mal, Super Market atau menjadi staf pelatih dalam Gymnastic, Balet dan sebagainya.

Mudah mudahan tulisan ini ada manfaatnya, agar lagu lama "lepas toga" tambah penganguran itu pelan-pelan mulai redup dan selanjutnya tidak lagi terdengar menyakitkan.

Kerja Kasar Bukan Hina

Kerja kasar bukanlah sesuatu yang hina. Misalnya bagi Ucok, adalah jauh lebih terhormat menjadi "tukang cuci mobil" di pinggiran jalan ketimbang pulang kampung dengan hanya menenteng selembar kertas yang bernama "Ijazah".  Kerja kasar adalah jembatan,untuk meniti karir yang lebih baik dan sesuai dengan harapan setiap orang. Sebaliknya menjadi penganggur intelek justru seharusnya membuat orang merasa malu baik pada diri sendiri, keluarga dan lingkungan

Tjiptadinata Effendi