Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bahaya Lain yang Sedang Mengancam Kita

16 Juli 2021   09:46 Diperbarui: 16 Juli 2021   10:11 110 16 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bahaya Lain yang Sedang Mengancam Kita
dokumentasi pribadi

Kehilangan Arah Hidup

Bahwa peringkat Indonesia naik mengalahkan India dalam hal persentasi warga terpapar Covid sudah menjadi viral dan tidak perlu diulangi lagi. Karena bukan hanya media sosial di tanah air yang menebarkan berita duka ini, tapi juga berbagai media international. Tapi selain dari ancaman bahaya maut yang datang dalam wujud Covid, ada bahaya lainnya yang hampir tidak terdeteksi oleh media yakni: "Anak dipangku dilepaskan, beruk di hutan disusukan".

Peribahasa ini mengandung sindiran yang tajam dan sangat mengena, menggambarkan bahwa kondisi sebagian besar dari masyarakat di negeri tercinta kita. Selama masa Pandemi, bukan hanya memporak porandakan kita di bidang kesehatan, tapi sekaligus merambah ke hampir semua sektor dan ruang kehidupan. Berbagai bidang bisnis anjlok bahkan mengalami mati suri. Sebut saja bisnis di bidang travelling, restoran, dan tempat-tempat hiburan sudah sejak awal mengalami Koma. 

Berbagai istilah muncul dari mulai Work From Home, Study from home, Pray from home, hingga Work From Anywhere. Istilah yang kedengarannya sangat manis dan merdu, tapi secara perlahan lahan telah terjadi degradasi di segala bidang Bahkan sisi kemanusiaan juga tak mampu bertahan terhadap terjadinya erosi rasa kemanusiaan.  Mendengar dan menyebutkan nama-nama orang yang meninggal, sudah tidak lagi menyisakan rasa haru dan sedih, tapi hanya seperti menyebutkan kejadian yang dianggap sudah lumrah dan memang harus terjadi.

Orang Mulai Kehilangan Jati Diri

Pagi ini saya dapat pesan via WA dari salah seorang anak kerabat kami, "Om, mohon bantuan Om untuk menasihati suami  Lely. Putra kami, terbaring sakit sudah seminggu di rumah sakit. Tapi suami bukannya berusaha bagaimana agar anak kami bisa  sembuh, malahan asyik memotret anak kami yang terbaring dalam kondisi yang sangat menyedihkan dan kemudian memposting di facebook, Kemudian sepanjang hari sibuk dengan urusan medsos. Seakan akan putra kami,  sama sekali tidak berarti baginya dan bahkan dijadikan sumber berita untuk disebar luaskan.

Asyik memberikan nasihat begini dan begitu pada orang lain.  Saat saya mencoba menyadarkan, malahan suami marah dan berkata, "Saya jadi Admin di WAG dan harus bertanggung jawab, kamu tahu!?"  Suami saya sangat menghormati Om, mungkin kalau Om yang membantu menasihati, ia akan mau mendengarkan "Terima kasih ya Om, mohon maaf bila Lely merepotkan, sungguh sudah putus  asa tengok suami, yang bagaikan kata peribahasa, " Anak dipangku dilepas, beruk di rimba disusukan." Rupanya, pesan tersebut dikirimkan tengah malam tadi dan baru saya baca pagi ini. 

Ketika saya menjawab pesan WA dari Lely, ternyata jawabannya sangat mengejutkan, "Om, ikhlaskan putra kami sudah dipanggil Tuhan malam tadi." Saya sungguh terpana dan hanya bisa diam dalam doa. Betapa hancur rasa hati Lely ,sungguh tak terbayangkan.

Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semuanya..

Tjiptadinata Effendi

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN