TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI profesional

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Parenting Pilihan

Biasakanlah Anak-anak Kita Hidup dalam Keberagaman Sedini Mungkin

18 Mei 2018   20:00 Diperbarui: 18 Mei 2018   20:12 624 13 9
Biasakanlah Anak-anak Kita Hidup dalam Keberagaman Sedini Mungkin
keterangan foto: yang dipangkuan saya,bukan cucu kami,melainkan Maesa,salah seorang anak yatim piatu di Bali.kami membawa cucu kami di panti asuhan yang dikelola Pemeluk agama Hindu,padahal tidak satupun dari keluarga kami yang beragama Hindu/dokumentasi pribadi

Agar Jangan Sampai Mereka Terjebak Oleh Paham Radikal

Menyimak dengan seksama berbagai peristiwa yang sangat menyedihkan kita, di mana orang mempertontonkan tindakan keji sebagai sebuah kebanggaan, sungguh membuat hati kita miris. Ada rasa khawatir akan masa depan nasib anak-anak kita.

Rasa sedih dan khawatir serta kecemasan hati tidak akan mengubah apapun. Tapi kita harus mau berusaha untuk melakukan sesuatu agar anak-anak kita jangan sampai terjebak oleh paham radikal, yang tidak hanya membahayakan dirinya sendiri, tapi juga membahayakan orang banyak.

dokumentasi pribadi/sesekali ajak anak anak menengok kehidupan warga dipinggir kali
dokumentasi pribadi/sesekali ajak anak anak menengok kehidupan warga dipinggir kali

Jangan sampai kita terlena oleh alasan yang dikedepankan segelintir orang bahwa paham radikal terlahir karena alasan:

  1. kapitalisme
  2. ketidakadilan
  3. kemiskinan
  4. sikap orang kaya yang tidak manusiawi
  5. dan seterusnya

Karena semua alasan tersebut hanyalah untuk mencari pembenaran diri. Ada jutaan orang yang hidup dalam kemiskinan, tapi mereka hidup rukun dan damai dalam keberagaman. 

Pendidikan Anak Tidak Cukup Diserahkan Kepada Guru Sekolah

Di sekolah, anak-anak mendapatkan ilmu pengetahuan yang kelak diharapkan dapat bermanfaat bagi kehidupan mereka saat sudah dewasa. Namun sekolah bukanlah segala-galanya. Anak-anak membutuhkan kasih sayang orang tua, yang bertugas mendidik mereka agar membiasakan diri hidup dalam segala keberagaman dan perbedaan.

Dengan begitu, sejak kecil dalam hati mereka sudah tertanam bahwa baik berbeda suku, budaya, dan latar belakang kehidupan sosial, hingga perbedaan dalam keyakinan bukanlah halangan untuk menjalin hubungan persahabatan dan  kekeluargaan.

Hal ini tidak dapat dicapai secara tiba-tiba. Juga tidak mungkin dapat diraih lewat khutbah di mimbar. Mereka butuh pengalaman hidup, mengalaminya dan merasakan kehangatan  dari sebuah hubungan baik.

Sediakanlah Waktu Untuk Mengajak Anak-anak Menengok Kehidupan Komunitas yang Berbeda

Bila anak-anak hanya hidup terkungkung dalam lingkungan satu komunitas saja, maka secara tidak langsung akan tertanam dalam alam pikiran dan hati mereka bahwa di luar gaya hidup selain dari yang diterapkan dalam lingkungan hidupnya adalah salah. Bahwa hanya cara hidup komunitas mereka yang benar. Bila hal ini terjadi, maka pada saat itu, satu benih radikalisme sudah mulai tertanam dalam diri mereka. 

Dengan mengajak mereka berkunjung keberbagai ragam kehidupan, maka anak-anak akan memahami bahwa ternyata hidup itu memang penuh dengan keberagaman. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang tinggal di gedung, tapi sebaliknya ada yang tinggal di gubuk. Ada yang ke masjid, tapi ada juga yang ke gereja, wihara, dan klenteng. Bahwa setiap orang itu berhak memilih jalan hidupnya masing-masing.

Dengan jalan demikian, kita sudah memberikan kesempatan kepada anak-anak kita menjadi dewasa dalam bersikap dan dewasa dalam menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Perbuatan mana yang patut ditiru dan mana yang patut dijauhi.

Jangan Tunggu Hingga Terlambat

Betapapun sibuknya diri kita, sempatkanlah sesekali membawa anak-anak untuk menengok secara langsung kehidupan lain daripada hidup yang sehari-harian dijalaninya. Karena bilamana menunggu mereka dewasa dan sementara itu paham radikal sudah menodai hati dan pikiran mereka, maka khutbah sehebat apapun sudah tidak lagi mampu mengubah pandangan hidup mereka yang sudah terlanjur keliru.

Tulisan ini bukanlah pendapat seorang ahli atau seorang psikolog, melainkan ditulis berdasarkan pengalaman hidup pribadi. Dengan harapan setidaknya dapat menjadi masukan yang bermanfaat.

Tjiptadinata Effendi