Mohon tunggu...
Tito Prayitno
Tito Prayitno Mohon Tunggu... Notaris - Notaris dan PPAT

Ayah dua orang putri

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Setua Apapun, Ia Tetap Putri Kecil Ayah

27 Oktober 2020   10:25 Diperbarui: 27 Oktober 2020   10:35 193
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Untungnya anak kedua yang dilahirkan pun berjenis kelamin perempuan, dan sang istri menamainya "Lintang", sambil berkata, jika ayah ingin anak laki-laki dirinya bersedia menambah anak lagi menjadi tiga.  Sang ayah menjawab tegas, tidak, jika pun akan menambah lagi, tetap ingin anak perempuan.

Cinta Pertama Si Anak

Lazimnya jika sebuah keluarga memiliki anak laki-laki, maka anak tersebut akan lebih dekat kepada ibunya, sementara anak perempuan memilih lebih dekat kepada ayahnya.  Itulah yang kadangkala membuat sang ibu muda banyak yang "cemburu" kepada suaminya, tatkala suami lebih memilih meladeni keinginan putri ciliknya ketimbang berbaik-baik perbuatan memperhatikan kepentingan istrinya.

Demikianlah yang terjadi dengan keluarga di atas. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena anak perempuan menganggap sang ayah sebagai pahlawan bagi dirinya. Tempat dirinya berlindung, mendapatkan kasih sayang dan balik ingin menyayangi ayahnya dengan sepenuh hati, mengingat sifat kaum wanita adalah ingin menyayangi orang lain dengan segenap jiwa raga, sesuai instingnya sebagai perawat penerus kehidupan umat manusia.

Anak perempuan juga menganggap ayahnya sebagai "role model" bagi dirinya dalam menjalani kehidupan di masa yang akan datang, sehingga bukan tanpa alasan ayah tersebut di atas secara naluriah mencurahkan segenap kasih sayang kepada kedua putrinya.  Demikian sayangnya kepada para putri, sehingga saat sang anak sudah masuk usia dewasa pun acapkali masih diperlakukan seperti putri ciliknya yang masih balita. 

Jika sang anak marah-marah atau uring-uringan sang ayah masih membujuk rayu seperti layaknya membujuk rayu anak balita yang merengek minta dibelikan permen. Hal ini acapkali membuat sang ibu murka bukan kepalang, dan tak jarang berujung dengan pertengkaran di antara keduanya.

Menjahili dan iseng mengganggu keasyikan sang anak gadis, tak peduli sang anak akan berteriak sehabis suara adalah perilaku yang menjadi domain sang ayah.  Tak peduli sang ibu muak bukan buatan jika sudah mendengar teriakan-teriakan jengkel anak gadis kepada ayahnya, membuat seisi rumah hingar bingar seperti di terminal.  

Belum lagi jika sang ayah pada waktu-waktu tertentu dengan tanpa merasa bersalah melakukan perbuatan konyol dengan cara melayani anak-anak gadisnya yang sudah dewasa, seperti membuatkan susu, menyediakan makanan ringan maupun berat.

Dalam kasus ini perasaan ibunya jengkel, kesal, benci, senang bercampuir jadi satu, termasuk di dalamnya merasa menyesal punya suami yang berpotensi menjerumuskan anak menjadi manja.  Sang ibu khawatir, jika di kemudian hari si anak tak mendapatkan suami yang baik, dan hal itulah yang luput dari pikiran sang ayah yang terlalu menyayangi putrinya.

Akibat kemanjaan yang berlebihan dari para ayah atas nama rasa sayang tersebut, terutama di era sekarang, sering kita jumpai anak gadis yang tak mampu mengupas buah salak, membuka tutup botol air mineral, dan turun dari escalator tanpa didampingi orang lain.  Konon lagi jika harus memasak di dapur lengkap satu paket dengan mencuci piring sekaligus sendirian.

Di sinilah letak bahayanya perilaku para ayah. Mereka beranggapan, di luar sana tak ada lelaki yang akan menyayangi anak gadisnya melebihi dirinya. Sementara seorang ibu, beranggapan jika anak gadisnya berperangai baik, serta cantik, maka pasti akan ada pria yang merawatnya dengan sepenuh hati. Dan terhadap anak lelakinya, jika ia kaya maka akan ada wanita sebaik malaikat yang bersedia mendampinginya seumur hidup. Di sinilah arti penting "positif thinking" seorang ibu, dan "pencuriga" seorang ayah egois, yang menganggap dirinya pria paling baik sedunia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun