Mohon tunggu...
Tito Tri  Kadafi
Tito Tri Kadafi Mohon Tunggu... Guru - Pendiri Bastra ID (@bastra.id)

Bukan anak gembala, tetapi selalu riang

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kita dan Doa-doa Formalitas

5 November 2020   00:11 Diperbarui: 5 November 2020   00:25 206
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

 

Pandemi memberikan banyak sekali ruang baru bagi saya, untuk belajar atau pun sekadar temu kangen secara daring. Waktu awal kemunculannya, saya terasa diledakkan oleh emosi agar mampu beradaptasi sekaligus penuh harap agar semuanya berakhir cepat. Meski kini, saya; mungkin tak hanya saya, mulai nyaman dengan situasi ini.

Hampir di setiap lini kehidupan, pasti ada saja kebermanfaatan yang bisa dipelajari dari hadirnya pandemi, meski tak dipungkiri banyak juga luka dan sengsara darinya. 

Sebut saja dalam dunia pendidikan. Pemerintah yang sejak lama telah tertatih-tatih untuk melakukan pemerataan digitalisasi, mulai dari edukasi ke tiap sekolah, seminar, hingga perencanaan masuknya akses ke wilayah terpencil sudah ditempuh, dan hasilnya tetap begitu. Eh, pandemi yang hadir tak disangka-sangka, membawa peta baru yang menunjukkan jalan lebih cepat untuk menuju ke sebuah pulau bernama digitalisasi itu sendiri.

Hari ini, saya hadir di sebuah pertemuan daring untuk membahas satu rencana di tahun depan. Anggap saja, saya akan melakukan kegiatan langka nan penuh makna. Sudah pasti dilaksanakan dengan pertemuan tatap muka (jika pandemi berakhir). 

Sayang, hingga kini hilal akhir pandemi pun belum muncul, yang muncul justru satu pertanyaan konvensional, "kok pandemi lama banget, ya?". Setelah layar aplikasi telekonferensi ditutup, saya seolah dibawa ke sebuah ruang kontemplasi untuk membahas pandemi, dua mata; hanya saya dan pikiran saya.

Puluhan kelas daring dan webinar saya ikuti sepanjang pandemi, di akhir sesi, biasanya moderator atau entah siapapun pasti menyelipkan ucapan agar semua orang tetap sehat dan pandemi segera berakhir, pasti! Pun banyak orang juga sepakat, jika ucapan adalah doa. 

Saya sebenarnya bukan orang yang amat radikal menanggapi suatu isu, tapi diri saya saat ini dan pandemi seolah dikungkung paradoks. Secara seremonial saya berdoa agar pandemi lekas pergi, namun saya juga nyaman ada di situasi seperti ini; tak amat repot pergi ke kantor/kampus, tak repot cari makan karena kini di rumah bukan di kos, atau sekadar karena punya banyak waktu untuk berbincang dengan keluarga. 

Saya baru sadar kalau selama ini doa-doa yang keluar hanya formalitas, termasuk amin formalitas saat orang-orang sedang berdoa. Ini bukan tulisan sains, jadi tidak perlu diperdebatkan secara ilmiah apakah pandemi tak kunjung pergi karena doa kita formalitas. 

Tapi, sebagai manusia yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, saya ditampar keras sekali oleh kontemplasi ini, atas doa-doa saya yang formalitas dan tidak benar-benar datang dari hati dan pikiran secara penuh agar pandemi berakhir. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun