Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Lonely moody nosy opposition, coz none is sane but clown

Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Lemahnya Matematika Pemerintah dalam Kebijakan Pembatasan Jam Operasi Pasar Tradisional

22 Mei 2020   15:11 Diperbarui: 23 Mei 2020   07:55 677 32 11 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lemahnya Matematika Pemerintah dalam Kebijakan Pembatasan Jam Operasi Pasar Tradisional
ILUSTRASI. Pasar Km 5 Palembang di hari pertama penerapan PSBB [KOMPAS.com/AJI YK PUTRA]

Saya selalu katakan kepada anak saya, "Bahkan Tuhan menciptakan dunia dengan matematika." Saya berharap ia mencintai matematika, tidak harus menjadi ahli. Matematika yang saya maksud bukan ilmu berhitung tetapi ilmu mengenali variabel dan hubungan antar-variabel  dalam suatu peristiwa.

Membaca beragam berita kebijakan pemerintah dalam merespon pandemi Covid-19, saya menemukan cukup bukti untuk saya sampaikan kepada anak, "Lihat nih, gara-gara matematikanya lemah, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sering salah." Salah satu yang saya jadikan contoh adalah kebijakan pembatasan jam operasio pasar tradisional.

Pembatasan jam operasi pasar tradisional sudah jamak diterapkan oleh banyak pemerintah kota dan kabupaten. Di Kota Kupang, tempat domisili saya, kebijakan ini sedang dikaji sebagai respon pemerintah terhadap peningkatan kasus Covid-19 oleh penularan lokal.

Aslinya didorong niat baik, menekan peluang penularan lokal. Sayang, niat baik saja tidak cukup. Dibutuhkan pula ketepatan logika agar maksud baik terpenuhi.  Logika yang saya maksud adalah pemetaan dengan tepat variabel-variabel yang berperan signifikan dan hukum hubungan antar-variabel tersebut.

Pembatasan jam operasi pasar tradisional sejatinya dimaksudkan untuk menegakkan pembatasan sosial -- termasuk kontak fisik -- pada aktivitas ekonomi vital yang tidak mungkin ditutup sama sekali.

Sayangnya, alih-alih pembatasan sosial, kebijakan ini justru mendorong kontak fisik lebih erat dan intens sebab berujung penumpukan pengunjung pasar.

Hal ini serupa dengan kebijakan pengurangan kapasitas dan frekuensi angkutan publik. Bukannya menciptakan jarak aman antar-pengguna, kebijakan tersebut malah mengondisikan penumpang berjubel di terminal atau stasiun dan berdiri atau duduk rapat-rapat di dalam kendaraan.

Maka jangan salahkan para petugas kesehatan jika jengkel dan bikin aksi protes dengan slogan #IndonesiaTerserah

Pembatasan kontak fisik akan terjadi jika tingkat kepadatan, yaitu jumlah pengunjung pasar per satuan areal pasar (misalnya meter persegi) berkurang dari normalnya. Katakanlah simbol bagi hal ini adalah Y.

Apa saja variabel yang berpengaruh terhadap Y?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN