Mohon tunggu...
George
George Mohon Tunggu... Konsultan - https://omgege.com/

https://omgege.com/

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Pengelolaan Taman Nasional Komodo Ditujukan untuk Komodo, Rakyat, atau Pemodal Besar?

30 Juli 2019   01:23 Diperbarui: 30 Juli 2019   20:13 2142
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Komodo (Varanus komodoensis) hidup liar di Pulau Rinca, Jumat (10/6/2016). Populasi komodo di Pulau Rinca yang merupakan bagian dari Taman Nasional Komodo sekitar 2.800 ekor.(KOMPAS/RADITYA HELABUMI)

_____________

#Belajar dari Perlawanan Orang-orang Kolhua
Setahu saya, di NTT belum pernah ada pemerintah yang sukses menggusur rakyat sekampung utuh-utuh dari tanah tumpah darah. Beberapa tahun lalu pernah ada upaya Pemerintah Kota Kupang dan Pemerintah Provinsi NTT untuk memindahkan orang-orang Helong dari pemukiman mereka di Kolhua. Di tempat itu akan dibangun bendungan.

Orang-orang Helong-Kolhua, komunitas Helong Daratan terakhir di Kota Kupang---lucunya lambang dan semboyan Kota Kupang berasal dari kebudayaan Helong---menolak keras rencana itu. Alasan mereka bukan semata-mata ekonomis (ganti rugi yang tidak sepadan dengan sawah, kebun holtikulura, pohon jati dan cendana puluhan tahun di sana), tetapi juga ikatan emosional mereka dengan sejarah peradaban Helong, dengan kubur-kubur nenek moyang, dengan ritus adat yang telah ada sebelum generasi yang kini dilahirkan.

Saat itu Pak Viktor Laiskodat, masih anggota DPR RI, berdiri sebarisan dengan orang-orang Helong Kolhua, menentang rencana pembangunan bendungan di sana. Kawan-kawan Partai Rakyat Demokratik (PRD) beberapa kali bercerita kalau Pak Viktor berdiri semobil komando dengan mereka, menyampaikan orasi dengan lantangnya, tentang sikap pribadinya, juga sikap Presiden Jokowi, bahwa tak ada pembangunan boleh berlangsung di atas lahan rakyat yang terampas.

Saya tak tahu, bagaimana sikap dan posisi politik Pak Viktor saat ini, semasa menjadi gubernur, terhadap rencana pembangunan bendungan di lahan orang-orang Helong-Kolhua. Apakah masih seperti dulu? Dengar-dengar, rencana pembangunan bendungan itu masih bercokol dalam list rencana projek pembangunan.

Satu hal yang mungkin Pak Viktor tak tahu, penundaan pembangunan bendungan Kolhua bukan semata-mata karena lobi Pak Viktor ke pemerintah pusat. Di lapangan, rakyat Helong-Kolhua menghunus parang dan tombak, menarik busur panah, berhadap-hadapan dengan aparat yang dimobilisasi pemerintah untuk melakukan pengukuran sepihak.

Andai saat itu masing-masing pihak tidak menahan diri saat berhadap-hadapan di persawahan, rakyat NTT mungkin harus melingkari satu lagi tanggal berkabung. Petani NTT, tuan-tuan, dalam keramahan mereka, saya kira memegang teguh prinsip, tanah leluhur boleh terampas jika tubuh tumpas berkalang tanah.

Saya masih punya harapan, di balik peringai kerasnya, Gubernur Laiskodat bukan seorang yang tega mengorbankan rakyat demi pembangunan. Apalagi jika pembangunan itu hanya akan menguntungkan pemodal swasta besar di bisnis pariwisata.

Saya ingat, mungkin 12 tahun silam, entah tepatnya, dalam pertemuan terbatas dengan sejumlah orang, Pak Viktor Laiskodat yang saat itu masih politisi Senayan, menyampaikan motifnya kembali ke NTT. Ia katakan, ia ingin dikenang sebagai orang baik dan bermanfaat bagi banyak orang. Sehingga ketika ia mati, ribuan orang datang melayat. Jenazahnya di antar ke pemakaman bukan oleh mobil jenazah, melainkan diusung rakyat.

Kerinduan seperti ini biasanya berangkat dari penemuan atas tujuan hidup.

Memang, tujuan kehidupan adalah melawan kepunahan. Tetapi karena sadar bahwa setiap kehidupan punya limit durability---akan tiba masanya penciptaan sel baru kalah cepat dibandingkan kematian sel tua--individu manusia mempertahankan keberadaanya dengan meninggalkan legacy. Legacy tentu saja berupa hal baik, agar dengan itu namanya abadi dikenang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun